Oleh: Ningrum | 31 Desember 2009

Buku yang Tak Perlu Diburu

Buku adalah jendela dunia juga sekaligus monster pemangsa berbahaya. Satu sisi sangat bermanfaat menjedi pencerah, di sisi lain buku sangat mungkin menyesatkan. Layaknya sebilah pisau. Jika digunakan dengan baik akan banyak menolong. Namun tunggu, jika pisau itu jatuh ketangan yang salah. Benda itu dapat menjadi senjata yang mengancam nyawa siapa saja. Artinya, mengancam tidaknya sifat sebuah benda itu sangat tergantung pada subyek yang sudah seharusnya menjadi pengendali atas benda, dalam hal ini adalah; buku.

Tapi bagaimana jika sebaliknya. Bukan pembaca yang berkuasa atas isi buku, namun buku yang memegang kendali atas pembaca? Nah di sinilah letak permasalahan, tepatnya kekhawatiran atau mungkin juga ketakutan berlebihan sekelompok orang terhadap kekuatan sebuah buku. Yakni  buku sebagai alat propaganda dengan tujuan berupa-rupa.

Saya pikir, seharusnya biarkan saja buku Geliat Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro itu beredar. Toh hanya sekian persen (sebagian kecil) dari 200 juta jiwa lebih yang mampu sampai ke buku tersebut. Ya, mengingat budaya melek baca kita masih biasa-biasa saja, mungkin juga rendah. Selain itu, bagi mayoritas penduduk Indonesia lebih baik membelanjakan uangnya untuk kebutuhan perut dari pada membeli buku yang sedang ramai dibicarakan. Jadi buku ini tidak akan berpengaruh terhadap perubahan social. Tidak akan menjadi cikal bakal sebuah gerakan perlawanan masal terhadap sepak terjang Cikeas atau seperti yang terjadi pada gerakan Koin  untuk Prita.

Namun karena sepertinya ditanggapi secara reactive, tampak ada kekhawatiran yang berlebihan. Ada peristiwa lenyapnya buku tersebut di toko buku (hehehe jadi inget sebuah orde, siapa berani beda apalagi melawan pasti dihabisi tanpa sisa). Media juga ramai meneruskan hal tersebut ke khalayak. Maka, yang terjadi justru sebaliknya. Masyarakat yang awalnya tidak seberapa peduli dengan buku itu menjadi penasaran terhadap isi buku. Buku laris manis, dicari pembeli sampai langsung mendatangi penerbit Galang Press di Yogyakarta.

Terkira, jika isi buku tersebut tidak benar maka, cara menjawab dan bereaksia jauh lebih baik melalui buku sebagai medianya. Barangkali ini bisa menunjukkan budaya ilmiah dan sportifitas di antara penguasa di negeri ini; penguasa kata dan penguasa yang punya kuasa;kekuasaan.

“Scripta Manent Verba Volant; yang tertulis akan tetap mengabadi yang terucap akan berlalu bersama Angin.

Salam,
Handayaningrum


Responses

  1. pertamaxxxxxx,,,,

    Selamat Tahun Baru 2010

    Salam Hangat Selalu
    AbulaMedia.com

    • selamat tahun baru ya,,,

    • Ya selamat taon baru juga🙂
      Salam……

  2. Kayakny sih membongkar gurita cikeas. Bukan geliat… Tp okelah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: