Oleh: Ningrum | 1 Januari 2010

Menikah tanpa Cinta, Bisa Gak Ya?

Sekelebat tanya terdengar, “Menikah tanpa cinta, bisa gak ya?”. Hmmmm menikahnya si bisa-bisa saja. Namun bagaimana kelangsungan dari pernikahan itu saya tidak tahu.

Saya kira, cinta memang diperlukan untuk menciptakan atau menguatkan sebuah hubungan. Baik itu relasi persahabatan atau relasi suami istri melalui sebuah pernikahan. Mutlak kah? dan sejak kapan harus ada cinta?. Ya  tergantung siapa yang menjalaninya. Saya kira, beda orang, maka secara otomatis akan sangat membuka kemungkinan adanya kebedaan dalam hal kemampuan, tepatnya ke-mau-an dan pemahaman;perspektif.

Setelah dipikir-pikir ada tiga macam tipe pribadi dalam memandang cinta dan  pernikahan.

Pertama Ada yang tidak bisa menjalin hubungan pernikahan tanpa ada rasa yang dianggap dan disebut yang bersangkutan sebagai cinta. Sebenarnya saya sendiri jika diminta untuk mendefinisikan cinta juga tidak tahu. Tapi kira-kira cinta itu adalah sebuah realitas rasa yang melebihi rasa suka. Ada rasa posesifitas terhadap segala atau beberapa bawaan sifat yang menyatu dalam sosok yang disuka.

Dengan apa yang ada pada diri orang lain yang disuka ia bisa merasa nyaman dan apa adanya; menjadi diri sendiri. Yang ada maksudnya sesuatu yang berbeda;bertolak belakang dengan antara keduannya, sehingga merasa dapat saling membutuhkan, mengisi dan melengkapi. Ada juga yang tertarik karena memiliki banyak kesamaan untuk mendapatkan kemudahan dalam berkomunikasi. Maka dengan atas nama cinta yang berlatar belakang hal-hal tersebut, seseorang dapat mengatakan bahwa dalam bersikap; mengambil keputusan untuk menikah tidak dapat berlepas dari pandangannya tersebut.

Di sini kecenderungan keyakianan akan sebuah pernyataan, pandangan dan kepentingan pribadi cukup berperan. Oh ya, kepentingan di sini tidak selalu berkonotasi negatif. Misalnya saja penting merasa mendapatkan kenyamanan dari sosok A yang memiliki kepribadian pengayom. Berkepentingan untuk menjadi yang berarti, maka ia yakin pada pernyataan setiap pribadi harus memberi. Memberi itu biasanya terjadi pada pribadi yang memiliki kepada pribadi yang kurang atau bahkan yang tidak memiliki hal yang akan diberikan tersebut.  Maka kepemilikan eksistensi diri  untuk orang lain menjadi pertimbangan dirinya.

Kedua, Seseorang yang sebelumnya menomorduakan cinta dalam pernikahannya. Dirinya yakin dapat menumbuhkan kecintaan diantara keduanya karena sebab-sebab yang menjadi nomor satu setelah mereka terhubung dalam pernikahan. Maksudnya, sebelum pernikahan itu terjadi, keduanya belum saling mengenal secara dalam, alias dijodohkan atau mendadak nikah. Lalu salah satu atau keduanya mau disebabkan oleh factor selain soal hati.

Menomorduakan cinta bisa berarti orang yang bersangkutan yakin dengan pandangan pertamanya terhadap kesan prilaku, termasuk penampilan ciri-ciri  calon pendampingnya. Ini bias saja terjadi walaupun sebelumnya keduanya tidak melalui proses saling.  Ada juga orang yang melihat dari aspek materi. Barangkali orang yang bersangkutan sangat memerlukan atau berorientasi terhadap  materi dan menganggap cinta adalah hal yang dapat menyusul. Letak kemauan dan pemahaman orang jenis ini ada pada kepemilikan sesuatu, termasuk  juga raga dan gambarannya. Mau  dan mampu mencinta karena sebab adanya hal itu.

Ketiga, ada pribadi-pribadi yang menjadikan cinta itu justru sebagai tujuan menikah. Bukan modal keharusan diawal mula untuk dimiliki terlebih dahulu. Artinya, yang bersangkutan memutuskan untuk menikah justru dengan maksud menumbuhkan cinta dan kasih sayang itu sendiri. Untuk berbagi. Untuk berarti. Tipe yang ketiga ini adalah tipe yang memiliki minat terhadap sebuah proses mengenal dan mencinta yang lebih “aman“. Yang menjadi refrensi pernikahan mereka adalah kesamaan visi dan misi untuk sebuah tujuan sebagai jembatan memperoleh  tujuan yang lebih besar dan panjang;beribadah mendapatkan ridho Illahi Robbi.

Dalam hubungan ke tiga ini, keduannya dituntut atau barangkali sudah memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi. Mereka tidak kesulitan meskipun tidak saling mengenal sebelumnya.  Kalaupun ada perbedaan, itu tidak akan menjadi masalah disebabkan mereka kembali merujuk ke tujuan utama pernikahan itu. Bila ada kekurangan, mereka saling menerima, karena keduanya sangat mengerti akan ungkapan no body is prefect. Orientasi mereka sudah tidak terlalu bersifat bendawi tapi ke maknawi;makna. Artinya kepemilikan raga yang diinginkan umumnya bisa diabaikan dengan hal-hal yang tak berbentuk yang lebih diinginkan;immateri sifatnya.  Dan jika mereka berhasil menumbuhkan kecintaan itu diantara keduanya maka, segala wujud kecintaan itu dianggap anugrah dari Allah dan akan ditujukan kembali ke pada-Nya.

Hayo, hayo, kita termasuk telah dan akan yang mana?.  Pertama, kedua atau ketiga?. Atau pertama dan ketiga? Atau kedua atau yang pertama saja?. Atau setengah pertama dan setengah kedua?.  Setengah pertama dan juga utuh ketiga? Hehehe ….silahkan tanyakan ke diri 🙂

Salam
Handayaningrum

Iklan

Responses

  1. menikah????bagi aku itu lah yang di cari dalam hidup,suami,anak,kebahagiaan,hanya itu yang kita dapat kan disaat hidup kita mulai jauh dari kehidupan
    jika kelak kita menikah dapat kan suami yang benar benar tulus cinta dan menjaga kita hingga masa masa tua kita…

    @Rosie
    Di saat hidup kita mulai jauh dari kehidupan??? maksudnya gimana?
    Ya semoga saja, kita mendapatkan ketulusan itu…..

  2. hidup tanpa cinta z dah hampa,pa gie nikah tanpa cinta???????

    @davie
    wkwkwkwk 😀 dah nikah po? punya pengalaman ini? 🙂

  3. menikah tanpa cinta? ak merasa ko serem banget ya?……hidup enggan matipun tak mau..pepatah yang tepat untu istilah itu….
    shareing juga..apa yang terjadi jika kita smua mengalami ituy, bak seoarng wanita yang hidup seperti batu…tak ada nyawa dalam mahligai rumah tangga…sampai detik ini belum juga ku menemukan arti cinta ….dan belum pula ku menikah,..apa ku harus menjalani pribahasa itu …?

  4. @vivin
    Seseram apakah? masa si sampe hidup enggan mati pun tak mau? Sebegitukah efeknya? *pegang kepala tanda berfikir mode on*
    Yaw aw tidaklah kalau seperti batu. Hanya saja ingin bersatu dengan yang benar-benar ngeklik dan meyakinkah hati dan pikir. Saya pikir ini bukanlah sebuah kesalahan.
    Namun ketika bertemu teman yang beda mereka bilang “Apa yang dicari, mau yang bagaimana dan seperti apa dan jangan terlalu lama berfikir inget usia”
    *ini pun membuat saya berfikir* 🙂 tetap tersenyum 🙂

  5. Keren

    Jempol buat penulis, mba iki jurusan psikologi kampus mana? =)

    Sy juga dulu minat masuk psikologi tp takut ga lulus akhirnya pilih jurusan yg under score, sastra indonesia .tp habis itu saya msh suka baca perihal psikologi..

  6. Kalo boleh bagi pengalaman di sini, sya juga menikah awalnya gak ada rasa cinta mba..dijodohkan ortu, cuma karna saya mlihat si pria juga sopan dan mapan sy setuju. Kami sama2 gak pcran semasa sebelum nikah, ya agak menahan diri walau keinginan dijemput sosok laki2 itu ada, tp waktu itu mikir bajwa pacar itu blm tentu suami dan kalo putus pasti syakkkiiit jd sy mending pikir untuk berpuasa thdap pacaran.. tp stelah mnikah sy merasa trus terang kaget mba, krn sy kira suami adalah A ternyata bukan….saya ada rasa mnyesal mending saya dulu pdkate ke kawan yg sy taksir..tp sy yg dibawa nikah duluan. Saya dan kawan sy setipe…tp sy sudah komitmen untuk ada di pernikahan ini bersama suami dan melewati apapun risikonya meski kadang kok kaya gak saya banget ya? Tp perceraian hny berujung duka dan petaka kan mba? Pernah sy ajukan tapi suami tipe yg sabar dan berulang kali bilang aku tidak akan menceraikanmu, aku jd terharu dan belajar mencintai my husband, bahwa no body is perfect.. =)))

  7. Agak telat saya baca blog ini, sudah 2015… tp paling tidak sy lega mlepas uneg2 sy, drpd ke org yg kita kenal malah bisa rempong ;@

  8. Saya ini belum pernah menimba ilmu secara formal pada kosentrasi psikologi :(. Yang tertuliskan sebagian besar didapatkan dari hasil melihat, mendengar dan merasa.

    Terimakasih dengan takzim mbak, sudah mau memberi komentar di postingan yang sudah lama sekali :(.
    Terimakasih juga sudah mau berbagi cerita, tepatnya pengalaman mengenai pernikahan mbak. Wah selamat mbak, tetap bisa melanjutkan kehidupan bersama suami :). Boleh bagi tipsnya mba?. 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: