Oleh: Ningrum | 9 Februari 2010

Gramedia dan Teman Baruku; Veteran Kutu Buku yang Membuat Kami Malu

Syukur kepada Sang Maha Berkehendak. Sabtu,  23 Januari 2010 diri  dipertemukan dengan orang yang istimewa (setidak-tidaknya menurut diri dan beberapa pengunjung toko buku). Diri bertemu dengan Pak Il yang berusia sekitar 80-an lebih di Gramedia Jl.Jend Soedriman Yogyakarta. Beliau tidak melakukakan sedikit pun atau apa-apa terhadap kami. Namun beliau sanggup mempermalukan kami yang muda-muda.

Kami;pengunjung  keheranan, juga dengan gampang memberikan kedua jempol tangan pada beliau yang berjalan dengan postur kurus lagi bungkuk. Saat itu beliau mengenakan kemeja panjang kotak-kotak kecil dengan bahan tak sedingin  katun, juga tak sehalus sutra. Warna kemejanya senada dengan celana panjang biru ke abu-abu. Bersandal jepit Sun Swalow kombinasi merah putih.
Seberapa istimewanya beliau?. Ada di paragraf berikut-berikutnya.

Sabtu itu, diri memiliki semangat dan waktu yang pas untuk mengunjungi Gramedia Jl.Jend Soedirman, Yogyakarta. Dikata pas karena, sudah sekitar 1 minggu  niat untuk pergi ke toko buku selalu saja terhalangi oleh ke-tak luangan waktu juga cuaca/iklim. Keduannya selalu saja tidak mendukung.

Syukur kepada Pemilik Waktu sekaligus Sang Pengatur Alam. Pada hari itu semuanya seperti melancarkan keinginan, tiada aral melintang. Segala Sudah diatur-Nya, dihadiahkan untuk diri  sebagai penawar lelah pada hiruk pikuk pikiran dan rasa. Oh ya, diri bukan kutu buku atau maniak buku. Hanya saja senang juga ketika memiliki buku, baca dan pergi ke toko buku. Walaupun masih berada di titik biasa saja, ketiganya sering menggoda dan berhasil menghibur, membuka pikiran, bahkan menghilangkan  lelah dan atau penat yang menghimpit.

Di lantai 3 Gramedia Jl. Jend Soedirman, mata mengulang kebiasaan di lantai 2 Gramedia Jl.Raden Intan Lampung. Memulai dari tumpukan yang di beri penjelas buku baru, buku laris. Sttttsssst, tapi kebiasaan ini seperti sudah di setting dari sononya….. dimunculkan oleh pengelola melalui desain  interior nya (toko buku tentu).

Setiap orang yang berkunjung, begitu menyelesaikan anak tangga (naik) terakhir, mata  langsung akan diberi sajian  boks/etalase tumpukan bertuliskan “Buku Baru”. Di sampingnya terdapat susunan “Buku Laris atau Best Seller” baik yang bersepesifikasi agama atau umum. Tak jauh dari situ ada novel-novel; fiksi dan nonfiksi yang sedang digandrungi pembaca, bertuliskan “Novel Baru“.  Hal ini juga dapat anda temukan di Gramedia Matraman, lantai 2 dan atau 3 Jakarta Pusat.

Setelah sempat menyisir tumpukan yang diperlakukan khusus oleh manajemen toko buku. Dilanjutkan membaca buku psikologi. Memanjakan mata dengan buku-buku agama bergambar untuk anak-anak dan megambil satu diantaranya. Kemudian diri membalikan badan 180 derajat.  Terlihat seorang kakek yang tampak serius membaca di hadapanku, kira-kira berjarak 3,5 meter. Kakek  Il duduk nongkrong. Buku yang dibaca didekatkan pada penglihatanya dengan jarak tak lebih dari 20cm.  Di samping kanannya sudah ada tumpukkan buku yang sudah dipilihnya. Nah dari sinilah dimulai “pemburuan” berartiku.

Diusia Senja tetap Gemar Membaca

Diusia Senja tetap Gemar Membaca

Karena beliau terlihat terlalu serius, diri juga ikutan serius memperhatikannya. Mendekat di lajur rak yang dibelakangi kakek Il. Satu persatu buku di rak diambil, dibaca judulnya, sekelebat kata pengantar dan kemudian  daftar isi.  Terlihat beliau sangat khidmat mencari cari dan membaca buku-buku di rak sufi/tasawuf itu.

Ku bertanya “Cari buku apa pak?”.  “Tasawuf dan Semar“, jawab beliau dengan suara berat samar-samar namun tetap terdengar. Lalu diri meninggalkan beliau, coba mencari lewat indeks judul di komputer. Eh kebetulan saja ada pramuniaga sedang mengecek, jadi sekalian saja diri minta dicarikan nomor rak-nya.

“Soal semar ada di rak social dan budaya mbak“. Beberapa buku soal Semar diri  dapatkan dan lalu membawanya  di hadapan  kakek Il.  “Lho kok kamu dapat banyak” komentar beliau dilanjutkan dengan membaca judul serta daftar isi buku-buku tentang Semar. “Wah bukan yang begini yang dicari, yang ada bahasan Semar dalam tasawuf atau tasawufnya Semar. Dimana tempatnya?”. Kakek Il berjalan menuju rak yang diri maksud, beliau mangikuti langkah diri dengan gaya khasnya.  Tangan kanannya menjinjing hand bag Gramedia berisi buku-buku pilihan yang tampak berat dibawa. Tak terlalu lama, membaca judul-judul soal Semar di rak social dan budaya. Namun karena merasa bukan yang dimaksud, kakek Il kembali ke rak semula.

Diri membuntutinya, Otak dan hati ku tampaknya sudah bersengkongkol untuk menggerakan tubuhku. “Ayo Ningrum, ini tak biasa, dapatkan sesuatu dari kakek Il, buntuti!” kata mereka. Oh iya, sampai di sini diri belum mendapatkan informasi nama beliau. Tahukah kau kawan, pengunjung tampak terheran-heran dengan kakek Il. Mereka memandang dari ujung kaki hingga kepala beliau dengan isyarat keheranan tampak tak percaya, barangkali juga ada pikiran negetif dikepala.

Ahrrg manusia, seperti Socrates bilang “Kita menilai segala sesuatu tidak apa adanya, namun kita memandang semuanya dengan persepsi kita”.  “Di sana ada relatifitas” komentar Bunda Masykuroh di Facebook pada catatanku. “Ya Relatifitas itu penuh subyektifitas, satu obyek bisa beragam makna tergantung persepsi subyek yang menilai”  sahutku. Pemandangan  pengunjung waktu itu seperti ada kaitannnya dengan ungkapan “Don’t Judge Book by The Cover”

Meja Baca Kakek Il

Meja Baca Kakek Il

Kembali ke Kakek Il. Diri memaksakan pertanyaan di tengah kesibukan beliau membaca buku-buku itu. Mulai dari nama dan komentarku soal jumlah buku yang dibeli beliau. “Nama saya Il, tapi dipanggil Is. Buku ini untuk dibaca dan lalu akan diwakafkan di pondok pesantren di Krapyak, Melangi Yogyakarta (apa lagi diri lupa, karena beliau bicaranya tak jelas betul). “Subhanallah, salut dengan semangatnya dan mulia sekali kakek Il”. Otak dan hati semakin aktif memerintah “Lakukan investigasi, jangan dilewatkan begitu saja, ini berharga!.” *gaya detektif mode on*

Tak lama dari itu, beliau berdiri, lalu merogoh kantong dan mengambil lembaran biru 50-an ribu entah berapa jumlahnya. Diri menjauh, namun tetap menunggu kakek Il hingga menyelesaikan aktifitasnya di rak yang diminatinya.

Saat beliau di teller. Kakek Il dan diri sempat berdekatan untuk mengantri. Urusan pembayaran diri cepat terlayani lalu duduk di kursi tunggu dekat tangga. Sedangkan kakek Il dipersilahkan duduk menunggu di bagian informasi untuk mendapatkan pelayanan khusus. Cukup lama menunggu beliau menyelesaikan urusannya. Rupanya masih menunggu teller yang lain untuk mencari lalu menghitung melalui kalkulator manual. Lalu teller memberitahukan kepada kakek Il total jumlah harga buku yang dibeli.

Terdengar samar, kalau tidak salah diri dengar nominal “Pak semuanya Rp 507.500, cukup gak uangnya? Kartu VIP nya bawa?. Dapat diskon 10%. Masih punya uang gak untuk pulang naik becak?”. Wanita itu seperti sudah sering bertemu-memberikan pelayanan kepada kakek Il. Ku coba mendekat teller “Bapak ini pelanggan ya mbak? dah ada dua tahun?”. Wah lebih, bapak ini pelanggan lama, sudah berkali-kali ganti kartu VIP” katanya. Namanya siapa mbak?tanyaku.  “Tanya saja langsung, bapaknya agak susah diajak komunikasi” kata teller perempuan itu. Lalu aku merngambil posisi duduk lagi.

Diri yang duduk sengaja menunggu beliau pun lalu berbincang dengan dua pengunjung lainnya. Berbagai rupa kata-kata memuji muncul dari kami untuk kakek Il. Sebaliknya, kata-kata maki kami hadiahkan untuk diri kami masing-masing. Kami malu, malu karena semangat kami tak lebih besar dari kakek berusia senja yang bila berjalan tak tegak lagi. Kami malu,  malu tak bisa berbuat lebih banyak (berguna untuk orang lain) daripada kakek Il dengan tenaga yang nyaris habis.
Kami malu, karena otak kami tak juga lebih “berat” daripada otak kakek Il yang secara teori berkemampuan di bawah manusia productive. Kami malu, karena kiranya hati kami tak seluas hati kakek Il.

Usai melakukan transaksi pembayaran, Kakek Il terlihat tergopoh menuruni tangga dengan buku yang lumayan berat. Ada seorang pengunjung laki-laki, tiba-tiba nyeletuk “Wah kalah yang muda sama yang tua”. Kata-kata ini adalah sindiran senyata-nyatanya bagi kami yang muda.  Sebaliknya, sebenarnya pujian untuk kakek Il.

Kubuntuti beliau yang tak berkenan dibantu. Sangat tak menguntungkan berbicara sambil berjalan. Komunikasi tak lancar karena suara belaiu terputus-putus dan nge-bass agak tak jelas, belum lagi diri harus mengulang-ngulang kata-kata-pertanyaan bahasa jawa halus campur Indonesia (karena bahasa jawa halus saya terbatas). Beliau tetap berjalan dan diri tetap mengimbangi. Tak banyak informasi yang aku peroleh dari situasi itu. “Pak kulo ajeng tumut bapak; saya mau ikut bapak” dengan suara keras. “Apa?” katanya. “iya, ke rumah bapak, kita ngobrol, bapak menarik bagi saya”.

Juga meja Baca dan Buku yang Belum Didata

Juga meja Baca dan Buku yang Belum Didata

Tampak lelah, kakek Il berhenti di trotoar depan Gramedia, lalu megambil posisi duduk di tempat yang bisa untuk duduk kami. Kakek Il mungkin juga keheranan dengan diri yang tampak ngotot, beliau terdiam. Lalu kami bicara sebentar. Ternyata beliau sudah puluhan tahun melakukan atau membeli buku untuk dibaca sendiri dan diwakafkan.  Daerah jelajahnya adalah shoping center (sekarang komplek taman pintar) “Bisa dapat diskon sampai 25% kalo di shoping center“ kata beliau. Lainnya di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga), Toko buku Muhammadiyah (namanya saya lupa) dan pameran buku yang diselenggarakan dua hingga tiga dalam satu tahun di Yogyakarta;menu rut informasinya.

“Saya mau sholat dulu“ kata beliau. Diri mengikuti saja apa maunya dan kemana kaki melangkah, karena aku pun sebenarnya tidak tahu tempat dimana melakukan ritual itu. Lalu kami melintasi Zebra cross di perempatan. Entah gerogi atau bingung atau merasa aneh dengan ku, beliau sampai lupa di mana masjid yang biasa ia singgahi setiap kali ke Gramedia.

Setelah berjalan sekitar 50an meter “Lho di mana ya?” kata beliau. Aku pun ikut memutar kepala dan membalik badan, ternyata ada di sebelah kiri kami dan agak menjorok ke dalam, tak terllihat jelas bila tak jeli atau tak biasa ke masjid itu. “Itu bukan pak?” sambil menunjuk ke kiri. “Oh iya, ayo” katanya, beliau menjadi gaet diri, lalu menunjukkan tempat wudhu perempuan.

Beberapa saat kemudian-selesai ritual itu. Melalui tulisan tertempel di gedung. Ternyata masjid ini bagian dari gedung program pascasarjana fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. “Jadi mau ikut  ke rumah saya?, sekarang jam berapa?”. Waktu itu pukul 14.10. Beliau mengizinkanku dan ia mengajakku untuk bergegas. Ia khawatir aku tak bisa kembali karena bus di daerahnya sudah tidak ada jika sore.

Sisi Kiri Ruangan Baca Kakek Il

Sisi Kiri Ruangan Baca Kakek Il

Lalu kakek Il pun menolak menggunakan becak. Mahal katanya, bisa sampai Rp.20 ribuan, lebih baik naik bus, ongkosnya hanya Rp 2.500 per orang. Wow!! mahal untuk berbecak Rp20ribu dan tak keberatan Rp500ribu untuk buku-buku. Aneh? Atau perhitungan yang tepat?.  Ingin rasanya menggunakan motor saja, lebih irit dan cepat sampai tujuan. Namun keinginan ini tidak terlaksana, helm yang dibawa hanya satu dan motor masih di parkir di Ground Gramedia, belum lagi  bus sudah mau jalan. “Ayo mba berangkat” kata kondektur.

Akhirnya kami naik bus dalam kota jalur 2, berbincang lagi. Sangat tak effective karena suara bus menderu-nderu jauh lebih keras dari pada suara beliau. Belum lagi tempat duduk kami  terkena sorotan cahaya panas matahari barat, menambah suasana tak nyaman. Aku hanya tersenyum senyum mendengarkan beliau bicara soal Arab, Mesir, tokoh-tokoh dan gerakan-gerakan yang ada di ke dua Negara itu.

Sekitar 35 menitan naik bus, lalu berjalan hingga 200 meter.  Sampai di tempat tinggalnya aku dikenalkan dengan kakak kandung perempuan-nya yang tak bias beraktifitas, kecuali tiduran dan sedikit bicara, itupun trended-sendat. Ya Allah, apa lagi maksud-Mu ini, mempertemukan diri dengan beberapa ketak berdayaan manusia usia senja lagi.  Lalu, aku pun diperkenalkan oleh kakek Il kepada nenek Jam.

Sisi Tengah (lemari) kakek Il

Sisi Tengah (lemari) kakek Il

“Iki konco anyarku”; (ini teman baruku) kata kakek Il. Nenek Jam friendly, menyambut lalu menggenggam tanganku lumayan lama, seperti sangat rindu untuk bicara dan didengarkan. Lalu, kami pun bertukar informasi, darinya, nama, soal sebab stroke-nya, kesusahan bicara, sesak nafas, foto suaminya dan juga umurnya “saya 90th, Il dua tahun di bawah saya” . Perawakan nenek Jam tak setua umurnya, malah tampak lebih muda dari kakek Il, adik kandungnya.

Di sela-sela itu Kakek Il baru bertanya nama padaku, langsung aku sahut “Saya Ningrum, lengkapnya Handayaningrum”. Beliau cepat menyambut “Gampangnya Harum saja ya, kan Handayaningrum;Harum“. Hmmmm…. sudah dua orang yang menyebutku dengan Harum, *ke gr-an mode on*. Kali pertama adalah Mbah Hisyam (alm), guru ngaji waktu kelas 5/6 Sekolah Dasar (SD). Beliau memperpanjang Ningrum menjadi bening dan harum, semoga🙂 *do’a mode on*

Aku tak punya waktu lama untuk singgah, mengingat kata kakek Il kalau sore sudah tak ada bus. Azan ashar cepat datang, aku pun diantar ke masjid terdekat dengan melewati ruang baca kakek Il.  Subhanallah, bukunya kakek Il bwanyak bwwanget!!,belum lagli yang sudah diwakafkan. Aku tak sempat menikmati buku perbuku, hanya sekelebat. Wah, untung saja yang kubeli di Gramedia tadi ku tinggal di kursi, jadi ada alasan untuk kembali melewati ruangan itu.

Sekembali dari masjid, lagi melewati rute yang tadi. Sampai di ruang baca, kebingungan dengan tumpukan-tumpukan buku juga serakan-serakan-nya. Terdengar olehku “Ayo cepat ini sudah sore”.  Lalu ku ambil buku sekenanya untuk kupinjam “Revolusi IQ/EQ/SQ”; Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Qur’an dan Neurosains Mutakhir- nya Taufik Pasiak, penerbit Mizan dan “Psikologi Kematian”; Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme -nya Komarudin Hidayat, penerbit Hikmah, Mizan group .

Tulisan Tangan Kakek Il

Tulisan Tangan Kakek Il

Dua buku itu ku tunjukkan kepada Kakek Il untuk dipinjam. “Tiga minggu ya, bisa gak?” kata Kakek Il.  Tawaarannya kusanggupi “Oh iya, insyaallah“.  Lalu aku berpamitan karena matahari sudah juga mau ke peraduannya. Ku kembali ke Gramedia untuk mengambil motor yang ditinggal di sana. Aku gembira dengan Gramedia yang sering menjadi lantaran; perantara kisah-kisah, karena ini bukan yang pertama kudapatkan sesuatu yang bermakna dalam hidup dari lantarannya.

Hari itu benar-benar ku-syukuri. Aku bahagia bertemu dengan kakek Il yang tak biasa seperti kakek-kakek lainnya. Ini adalah pertemuan yang dihadiahkan oleh Nya saat aku sedang gundah. Terimakasih Tuhan untuk “obat” ini dan untuk kehadiran-Mu.  Alhamdulillah…. *peluk hangat


Responses

  1. mantabs tenan..

  2. kakek Il memang keren!! Salute!! terimakasih apresiasinya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: