Oleh: Ningrum | 12 September 2010

Pernikahan

Perkara mudahkah menikah? Atau perkara apa ini?. Untuk jawaban pertama bisa iya juga bisa tidak. Menikah bisa menjadi hal yang sangat sederhana juga bisa tergolong dalam persoalan rumit. Semuanya tergantung pada kesanggupan;kesiapan, penyikapan, dan atau persepsi; cara pandang.

Pertama, kesanggupan. Calon perempuan dan laki-laki sudah berkeharusan siap terhadap hal-hal yang berkaitan dengan immateri; kejiwaan. Juga dalam hal materi; fisik dan hal-hal yang identik dengan ma’isah; penghasilan. Hal tersebut sudah semestinya ada dalam kesejajaran dalam artian sudah dimiliki. Wajib bagi laki-laki mencari nafkah untuk bisa bertanggung jawab terhadap anak dan istri. Juga dibolehkan utuk perempuan memiliki sumber penghasilan dengan tidak mengabaikan kewajibannya terhadap keluarga;suami. Juga anak-anak yang butuh pembimbing dan pendambing dalam tumbuh kembangnya/ berproses.

Dari sisi immateri. Apakah yang bersangkutan sudah siap secara psikologis hidup bersama dengan orang yang “baru”? yang nantinya akan memunculkan keadaan-keadaan diluar kebiasaan ketika hidup sebagai single. Akan ada sesuatu yang baru dari biasanya. Status baru; menikah sebagai istri atau suami. Konflik dan benturan-benturan baru. Hubungan keluargaan atau kekerabatan baru. Kerjasama, kompromi dan dialog yang baru. Akan ada “kelas” baru untuk saling mengerti, memahami dan menerima semua yang ada pada pasangan, termasuk kelemahan-kelemahan dan segala kekurangannya.

Lalu, sudah siapkah keduannya menjadi orang tua baru bagi anak-anaknya yang juga baru?. Ini berarti, keduannya juga dituntut memiliki pengetahuan baru tentang relasi/hubungan suami istri dan juga hubungan dengan anak-anak. Tentu juga beserta “seabreg” masalah sekaligus cara penyelesaian hal-hal tersebut. Termasuk bagaimana mendidik yang efektif agar anak menjadi manusia yang bermanfaat dan taat kepada Tuhannya.

Kedua, penyikapan. Bagaimana sikap atau penyikapan keduanya tentang pernikahan dan segala konsekwensinya. Cukup bisa membayangkan dan juga bertanggungjawab dalam hal-hal yang diri sebutkan diatas;immateri atau acuh tak acuh?. Jika kita termasuk yang memilih untuk bersikap bertanggungjawab, berarti sudah siap menikah dan menjadi orang tuanantinya. Biasanya sikap ini memunculkan respon terhadap yang disebut pernikahan; bukan hal mudah juga bukan hal sulit dan semuannya akan bisa diatasi dengan modal “kedewasaan” jiwa;laku dan fikir. Tetapi, Jika acuh takacuh terhadap persoalan immateri tersebut. Maka, berkemungkinan besar kita belum siap (dalam arti sebenarnya) dan akan memiliki sikap atau anggapan bahwa menikah adalah persoalan yang sangat gampang.

Ketiga, persepsi atau cara pandang. Untuk hal ini akan sangat dipengaruhi oleh refrensi kebenaran-kebenaran yang diyakini, dipercayai, diimani oleh calon mempelai. Maaf, jika saya tidak mengetehui “aturan main” agama lain. Jadi dalam catatan ini hanya ditulis prespektif yang saya ketahui juga yakini. Jika dalam Islam, menikah bukanlah sebatas perkara menghalalkan yang haram melalui formalisasi. Bukan pula semata-mata persoalan memediasi naluri atau hasrat biologis perempuan dan laki-laki.

Menikah/pernikahan tidak sebatas penyatuan hati yang saling tertarik atau mungkin juga saling cinta (mati). Juga bukan hanya jalan memperbanyak keturunan. Melainkan (dalam Islam) adalah mengakomodir itu semua, termasuk ada pahala/ nilai ibadah di dalamnya. Allah tidak sedikitpun mengurangi fitrah manusia, tidak juga melarang hasrat untuk menemukan tempatnya. Tidak juga memisahkan; mencerai beraikan hati yang memang diciptakan-Nya untuk berpasang-pasangan. Justru Allah telah menyediakan aturan main atau cara-cara melakukan hal-hal tersebut dari yang paling kecil; menyangkut hal-hal teknis, pelaksanaan, pengejawantahan nilai atau pesan hingga cara “besar”untuk tujuan besar menuju “langit”.

Bagi yang menginginkan keridhoan-Nya dan meniatkan ini sebagai ibadah, Allah menganugrahi kemulyaan dan pahala yang besar untuk setiap sentuhan, tiap-tiap gerak dan setiap senyuman dan dalam setiap upaya, juga tiap-tiap yang lain dari suami utuk istri dan sebaliknya. Juga termasuk sodaqah terbaik suami adalah rizki Allah yang di nafkahkan atau diberikan kepada istri. Juga sebuah kemulyaan seorang perempuan; ibu, berjihad dalam keluarga; mendidik anak-anak dan taat terhadap suami yang “baik”.

Hal itu diajarkan; diberitakan-Nya dalam ratusan surat dan ribuan ayat-Nya. Bahwa kesenangan-kesenangan yang manusiawi itu tidak hanya berguna di bumi;dunia saja. Melainkan bisa menghantarkan umat-Nya menuju kemulyaan jika dilakukan/melewati jalan yang sudah disediakan-Nya.  Surah apa saja?, ayat ke-berapa? Dan hadist yang diriwayatkan oleh siapa? Search di al-Qur’an dan hadist digital (lebih mudah mencarinya) di bab nikah/perkawinan dan hal-ha lyang berkaitan dengan ini. Kalau lebih suka yang instan-instan, ada banyak buku dengan judul dan bab sesuai yang diinginkan/dibutuhkan. Semoga bisa menjadi pengetahuan yang memotivasi 🙂

Ini juga tak kalah memotivasi; pesan “kebenaran”Nya melalui Rasulullah saw; bahwa menikah adalah perkara yang mencakup separuh dien;agama. Ini adalah sunah Nabi dan wajib hukumnya bagi yang sudah berkemampuan (materi dan immateri) untuk menggenapkan yang separuhnya.

Separuh dien?? Terbayang luas dan besarnya nilai dalam sebuah pernikahan. Terbayang juga ini adalah kesempatan yang diberikan-Nya untuk melengkapkan setengahnya. Ini bukan janji-Nya yang main-main. Bikin semangat!!. Cepatlah!!. Waktu terbatas??!. Yang sudah memiliki yang terpilih untuk menjadi pendamping, bersegeralah.  Jika yang belum, ada pekerjaan rumah untuk kita. Yakni, menemukan siapa yang bisa dan mau berjalan bersama meraih Ridho-Nya melalui sebuah pernikahan?.

Hmmm……Menikah adalah perkara separuh dien??, wow!!! Subhanallah!!Amazing!

——————————–

Tulisan terkait silahkan klik: Se-Jiwa

Iklan

Responses

  1. Yuppp…
    Pernikahan sangat membutuhkan persiapan yang sangat matang, terutama mental. Akan tetapi sungguh sangat indah setelah dilaksanakan.

    Thx

    • @mbak Lilly
      Selamat menapaki keindahan 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: