Oleh: Ningrum | 15 September 2010

Se-Jiwa

Keselarasan lebih mudah tercipta ketika ada ke-se-jiwa-an. Ada satu atau beberapa hal yang menyambungkaan secara cepat antara jiwa satu dan jiwa lainnya. Jiwa petualang akan mudah beradaptasi dengan jenisnya. Jiwa darmawan besambung dengan jiwa pemurah;penolong. Baik hati  dekat dengan baik budi;berbudi pekerti.  Kreatif sejalan dengan jiwa pencipta. Jiwa penulis sekawan dengan ruh pembaca. Jiwa pembaca dekat dengan jiwa yang penuh keingintahuan. Jiwa pengusaha berbanding lurus dengan keberanian berspeklulasi dan berkreasi. Jiwa pemberi manfaat serupa dengan jiwa  pengayom dan pencerah. Dan jiwa yang taat senafas dengan jiwa berketuhanan .

Interaksi (baik intens atau tidak) akan lebih cepat asyik jika  ada sisi jiwa  yang senada. Hal ini pun menjadi salah satu hal penting dalam membangun komunikasi yang lama dan berkelanjutan. Apalagi jika orang yang bersangkutan akan menjadi pendamping hidup. Kita akan sangat terbantu atau mendapatkan dukungan penuh ketika, tak perlu lagi disibukkan dengan tahap menyamakan persepsi terhadap suatu obyek/membahas  jiwa kita; jiwaku dan jiwamu. Tak lagi pusing  bagaimana cara menyambungkannya; jiwa kita (ku dan mu). Tak perlu lagi meminta sebuah pemahaman atau pemakluman terhadap jiwa nya terhadap pasangannya.

Tampaknya baik difikirkan soal satu jiwa ini, karena akan banyak  kemudahan-kemudahan atau setidaknya friksi yang ada tak terlalu mencolok.  Tak akan ada pekerjaan rumah soal beda jarak; soal sudut pandang,  yang juga perlu diminimalisir sekecil mungkin.  Sehingga, jika ada persoalan akan lebih cepat tertanggulangi, karena mereka mampu mengandaikan;memposisikan diri di posisi pasangannnya. Mampu me-manage konflik menjadi serupa  peluang untuk terus mematangkan diri.

Lainnya, soal pemahaman. “Jarak” dan ketimpangan dalam sudut pandang dan pemahaman ini  adalah termasuk hambatan komunikasi. Jika potensi ini mampu diantisipasi sejak awal,  artinya pasangan tersebut sudah memiliki  salah satu kunci sukses berkomunikasi. Kecilnya atau tiadanya ketimpangan, maka  kemungkinan besar ritme hubungan akan menyenangkan, aman dan selamat.  Rangkuman dari ketiganya adalah kondusif.

Jika iklim dalam keluarga sudah sampai ke titik kondusif, keduannya mampu menjaga stabilitas tersebut  maka,  cara mendidik anak,  frame keluarga, juga soal akan  dibawa kemana;arah komitmen yang sudah dibangun, menjadi suatu yang akan mengikuti secara mudah dengan sendirinya. Kira-kira begitu.

Bagaimana dengan yang tak sejiwa? Bisa-bisa saja bersama. Namun, menurut diri,  akan banyak hal yang akan disayangkan. Misalnya, laju progresitas  tak bisa secepat dengan pasangan yang sejiwa. Totalitas dukungan atau hal-hal yang bisa dilakukan untuk kemajuan akan potensi pasangan (yang dimiliki salah satu diantara mereka saat belum menikah) pun akan berjalan biasa, mungkin juga terhambat, atau bahkan menimbulkan akibat terparah yakni, terhenti atau hilang; musnahnya kebisaan-kebisaan positif yang dahulu (sebelum menikah) dimiliki. Cukup menghawatirkan, ketika suami tak bersambung dengan hal-hal yang dilakukan atau hal-hal yang menjadi cita-cita istri atau sebaliknya.

Contoh:

  1. Perbedaan dituangkan dalam angka,  1+2 =belum tentu 3.  Angka 1 permisalan suami, angka 2 permisalan istri, tanda tambah (+) permisalan bersatu. Jika  salah satu angka 1 atau 2 didahului dengan tanda minus;negatif (-). Maka, 1+(-)2=-1 atau -1+2=1 . Artinya, keberlawanan atau kebedaan (disimbolkan dengan tanda minus) dalam konteks pembahasan di atas bisa merugikan hasil kebersamaan keduannya.  Persatuan mereka tak membawa perubahan yang lebih besar.
  2. Persamaan dituangkan dalam angka,(+) 1+ (+)1=2.  Bukankah nilai 2 lebih banyak daripada 1?.  Angka 1 dan 1 adalah analogi dari se-jiwa. Karena itu, mereka bisa bersama-sama membesarkan nilai dari gabungan mereka.

* * * * *

Dalam semua postingan, idealnya memang berbuat dahulu kemudian baru berkata;berbagi. Namun dalam hal pemikiran, diri justru seringkali sebaliknya. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan keluarga, pernikahan, ataupun soal mendidik;membentuk karakter anak.  Ini  terjadi karena;  Pertama diri belum “menginjak”  di ranah itu. Kedua,  tidak ingin kehilangan ide (pemikiran) kekinian yang mampir sekelebat di otak. Ketiga, enggan untuk melewatkan begitu saja “gerak” objek selain diri yang seringkali menghasilkan beberapa lintasan hipotesa.

Masih saja, postingan-postingan  semacam ini menjadi pekerjaan rumah (PR) diri. Berharap bisa berkembang lebih khusus dan dalam, luas dan konferhensif untuk bisa  menjadi pengetahuan yang mudah dipraktekkan dalam kesegeraan.

Salam Manfaat,

Salam Se-jiwa….

Semoga…..

———————————–

Tulisan terkait klik: pernikahan

 


Responses

  1. Sejiwa berarti menjadi satu, satu derap, satu tujuan dan satu pengharapan atau cita-cita. Benar ga ya…
    Salam Kenal.

    @bgsingal

    Yang sangat terlihat dari kesejiwaan adalah kebersamaan mereka dalam derap, tujuan, pengharaapan dan cita2 adalah akan bisa membesarkan “nilai” keduannya, bukan sebaliknya.

    Salam kenal juga

  2. sejiwa dan sehati,, bukan hanya dalam keluarga, sekolah dll..

    dalam lngkungan kerja dan komunitas juga sangat penting hal ini…

    keren jabarrannya mbak…

    @martha
    yup, kerjasama itu lebih mudah tercipta ketika ada frame pemikiran or pe(rasa)an yang sama;suka terhadap apa yang dikerjakan bersama-sama dalam komunitas or lingkungan kerja (terutama team), jadi bisa kompak dan gak perlu lagi bekerja menyamakan visi yang bisa makan waktu banyak.
    btw, terimakasih ya untuk apresiasi positifnya🙂

  3. Silakan kunjungi blog sehat di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/

    @smile
    terimakasish info; sitenya🙂

  4. dalam komunitasku juga penting neh….salam knal

    • ok terimakasih. Salam juga🙂
      @cahya, terimakasih y untuk apresiasi positifnya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: