Oleh: Ningrum | 29 Januari 2011

Pesta Ditilik dari Sudut Pandang Psikologi dan Antropologi

Diri seringkali memiliki kesan,  pertanyaan dan keheranan yang tertinggal dibenak setiap kali hadir di setiap pesta; perkawinan, khitanan atau pesta syukuran lainnya. Dari pesta-pesta itu, diri  mendapatkan gambaran per-adab-an orang-orang yang hadir dalam pesta tesebut.  Termasuk didalamnya berupa kepentingan, motivasi ataupun orientasi orang-orang yang menghadiri pesta. Dari sini pula sudut pandang psikologi dan antropologi “bermain” dengan hipotesanya.

Dari sisi psikologis, hadirin yang datang memiliki tingkatan kebutuhan dan atau orientasi.  Ada yang sekedar menggugurkan kewajibannya memenuhi undangan; memenuhi kebutuhan sosialnya; berinteraksi tanpa embel-embel motivasi lain. Ada juga yang  masih berada pada kebutuhan dasar tingkatan paling bawah berkepentingan terhadap hidangan; memenuhi kebutuhan dasar fisiologinya; jasmani dengan asupan makanan. Hingga spontan yang bersangkutan memiliki nafsu makan yang berlebih.

Yang lainnya, banyak hadirin terutama perempuan yang menginginkan kebutuhan akan pengakuan-nya terpenuhi. Ya, bisalah ini dimasukan kekebutuhan untuk dihargai.  Lalu, hampir bisa dipastikan, ukuran penghargaan atau pengakuan mereka sangat dekat dengan segala yang dikenakan.  Karena sesungguhnya mereka dengan sendirinya telah menegaskan kebutuhannya dengan rupa-rupa yang dikenakannya. Menurut saya sih ini tidak akan menjadi masalah ketika benda-benda yang menempel itu tidak terlalu berlebihan (sewajarnya) dalam jumlah maupun ukurannya.

Hmm…, tapi bagaimana jika yang tertangkap mata justru sebaliknya?, kok seperti melihat perlombaan, tampak sangat menginginkan pengakuan “paling”. Hingga semua anggota badan memiliki “judul” logam emas, mulai dari yang asli hingga yang imitasi dikenakan untuk meramaikan penampilan demi dihargai, demi prestice sosial katanya. Lalu, kepuasan/kebanggaan mereka terletak pada benda-benda tersebut dan juga pada saat mata orang lain melihat padanya. Dan pada saat itulah mereka puas; merasa bahwa kebutuhan pengakuan  untuk dihargai sudah terpenuhi. Just it’s….  haddoh…. Lebih parah lagi, meskipun dalam pesta mereka juga  sulit mengendalikan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan fisiologinya.

Btw, jenis kebutuhan tersebut timbul dan berkembang hingga mengakar dari per-adab-an; budaya dimana orang yang bersangkutan tumbuh.  Nah disinilah antropologi sudah masuk dalam bahasan ini (pesta). Ternyata walaupun garis besarnya sama;meriah dengan hadirin yang ingin tampak tampil sempurna agar terlihat mewah. Tapi tetap saja warna yang muncul dari latar belakang budaya  masih dapat diidentifikasi.

*Tidak bermaksud memunculkan isu SARA. Ini merupakan sub bahasan antropologi, jadi dimunculkan*.

Lanjut, saya menemukan suku yang sangat menjunjung tinggi prestice. Dikomunitasnya, berpenampilan “wah” nyaris menjadi sebuah yang harus diusahakan, meskipun dengan berbagai cara, meskipun dengan benda-benda yang hanya menyerupai 24 karat, walaupun dengan barang yang dipindahtangankan sementara. Ini demi menjaga kehormatan.  Hingga meskipun jika mereka tidak berada di komunitas tersebut, nila-nilai tersebut akan tetap  terbawa.

Dari sebuah pesta, kita bisa memperkirakan seberapa besar tatanan nilai yang menjadi sub bahasan antropologi juga  berpengaruh terhadap sisi psikologis yang bersangkutan. Bahkan sebuah pesta bisa dijadikan representasi peradaban sebuah kelompok atau komunitas tertentu.

Dengan demikinan, apakah peradaban yang terlihat hampir di setiap pesta sudah menunjukkan ketinggian dengan warna elegan serta kesantunannya? hehe nilai sendiri ya 🙂

Selintas Hipotesa

Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: