Oleh: Ningrum | 3 Februari 2011

Laki-laki dan Perempuan


Rupa Warga Jakarta Mencari Nafkah

Rupa Warga Jakarta Mencari Nafkah

Dengan kelebihan fisiknya laki-laki bisa melakukan banyak hal atau melakukan pekerjaan yang sifatnya mengandalkan tenaga. Ia juga lebih banyak menggunakan logika ketimbang hal-hal yang mengandalkana perasaan, tapi bukan berarti laki-laki tidak berperasaan lho. Laki-laki sebenarnya juga memiliki sisi feminim, tapi prosentasenya tidak setinggi perempuan. Sesungguhnya ada kesamaan, sekaligus punya kebedaan yang jelas. Maka dengan hal tersebut menjadi maklum jika Tuhan memberikan kewajiban mencari nafkah, menjadi kepala keluarga bagi laki-laki.

Sedangkan perempuan dengan sisi feminitasnya yang lebih besar daripada laki-laki, sudah tepat jika ialah yang ditekankan untuk memiliki banyak waktu untuk mendidik anak. Karena diakui atau tidak, sifat sabar, ketelatenan (tekun), pengertian dalam mendidik anak, secara alamiah itu banyak dimiliki oleh para ibu yang perempuan. Maka muncullah sabda “Jika baik perempuan, maka baiklah negara. Jika rusak perempuan maka rusaklah negara”. Ini berarti peran perempuan yang banyak bertugas diwilayah domestik ternyata tidak bisa diremehkan. Karena mulai dari sanalah kecerdasan, karakter ataupun kemampuan-kemampuan lain anak terbentuk, anak-anak yg akan menjadi generasi berikutnya. Selain itu, Ibu menjadi pioner bagi anak-anak. Kalau kata Tantowi Yahya, duta baca Indonesia “Ibuku adalah perpustakaan pertamaku”. Bagi yang sudah jadi ibu, tidak salah jika mau mencerdaskan diri, agar anaknya jg cerdas, memperbaiki diri supaya anaknya jg baikšŸ™‚.

 

Mengais Rezeki dari Sampah

Mengais Rezeki dari Sampah

 

Kembali ke laki-laki, saya serigkali terharu melihat laki-laki yang berjibaku mencari nafkah halal demi keluarganya.Ā Ā Ā  Apapun ia lakukukan untuk mempertahankan hidup juga membiayai keluarga.Ā  Spirit fightingnya luar biasa.Ā  demi bisa memberi dan membahagiakan anak-anaknya. Terlihat sekali rasa tanggungjawab terhadap keberlangsungan keluarga. Tak terlihat mengeluh di depan keluarga meskipun harus mengendarai motorĀ  sekitar 80 Km tiap harinya ataupun melakukan pekerjaan yang oleh orang kebanyakan dinilai sebagai pekerjaan yang remeh. Mereka bisa tak perduli atau acuh, karena keperdulian mereka terhadap keluarga lebih besar daripada perhatiannya terhadap asumsi-asumsi orang lain.

Salut dan hormat untuk kalian.


Responses

  1. @cah, terimakasih ya apresiasinya. Saya jadi ikutan likešŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: