Oleh: Ningrum | 18 Februari 2011

Ketika Dunia Ide: Fikir dan Laku Berat Sebelah?

Sudahkah dunia ide: fikir dan laku ku dan mu luasnya berbanding lurus dengan dunia laku (perbuatan)? . Manakah yang lebih besar,  ide:fikir daripada laku (tindakan) atau sebaliknya?  Yuukk mari kita bahas hingga bagaimana menyeimbangkannya, agar tak njomplang *kalau bisa* 🙂

* * * * *

Dunia ide dan fikir adalah (seperti) dunia tanpa batas. Maka, ada baiknya untuk tidak memberi garis jangkauan padanya. Ide itu datang sesuka hati, sering datang saat tak diharapkan, tak muncul ketika dinanti.  Ia bisa lahir dari status facebook orang lain, bisa ada dari kejadian selintas atau berulang-ulang,  dari kebahagiaan orang lain atau kepedihan diri, dari alam semesta; ayat-ayat kauniyah-Nya juga kauliyah-Nya.  Bahkan dari angin dan udara yang tak tampak dan tak bisa tersentuh, karena ide-pun ibarat keduannya; tak berbentuk apalagi berwujud, ya jika tidak dimediakan. Bagaimanapun ia, Ide itu anugerah-Nya, kawan….

Ini adalah karunia-Nya yang  paling memungkinkan kita  untuk berkelana tanpa harus  terbentur ruang, waktu dan segala  bentuk etika ataupun estetika. Ide termasuk anak keturunan dari khayalan, impian dan atau harapan yang pada dasarnya “liar”, terkecuali jika kita mengkebirinya (terimakasih telah mengkonotasikan ini dengan hal yang positif). Lalu, dari merekalah ide dan fikir  ada dan bisa menjadi sesuatu yang besar dan me-nyata.

* * * * *
Ide; fikir kerap menjadi rujukan sebuah tindakan atau laku; termasuk bicara atau menulis. Seringkali kita tidak tahu harus berbuat apa ketika sebuah ide yang tempatnya ada di fikiran  tak jua muncul. Nah kalau  mendapaatkan kondisi tersebut, berarti itu adalah sinyal perintah untuk mencari sendiri atau berusaha menghadirkannya. Ada rupa-rupa kejadian sebelum ide itu mengada pada kita.  Ternyata, ide juga punya proses menjadinya ya.

Barangkali jika dunia ide kita “tajam”  hal itu (pencarian) tak perlu kita lakukan, dunia ide akan lebih bisa memperpendek kerja-kerjanya. Analoginya, satu huruf, sebuah suara, se-sesok manusia pun bisa memunculkan lebih dari satu turunan ide atau sebuah karya yang beranak pinak dengan rupa yang berbeda.

Hmmmm… enak ya kalau bisa begini, dunia ide;fikir kita bisa “kaya raya”, semakin “kaya” ia akan semakin raya. Satu biji jika berhasil tumbuh menjadi sebuah pohon, berdahan, beranting,  bertunas, berbunga, berbuah dan tumbuh subur, ia akan “kaya”. Karena ia (berawal dari biji/tunas kecil) yang  punya kemauan untuk survive, angin akan membantunya, membawa biji-bijinya terbang ke lahan lain.

Ini adalah dunia ide kawan, biarkan saja ia bermain-main dengan angin yang akan membawanya.

Selain itu, ada  juga yang tidak sensitif terhadap hal-hal yang sesungguhnya bisa menstimulir area idenya. Sehingga, banyak hal yang terlewatkan begitu saja tanpa ada pengikatan dan pemaknaan  berarti. Ditemukan juga,  punya kepekaan yang tinggi terhadap stimulir, tapi sering  juga kehilangan, karena hal-hal tersebut tidak segera dilekatkan pada fikir atau ingatan yang diberi media.

Lalu berhargakah sebuah ide yang baru hanya bisa menempati ruang fikir? Atau hanya ada dalam sebuah teks tertulis?

Menurut diri, itu tetap bernilai. Tuhan-pun telah berkalam “Beruntunglah orang-orang yang berfikir”.  Ini juga bisa termasuk wujud dari syukur pada-Nya. Pemanfaatannya adalah bentuk dari rasa terimakasih kita atas anugrah  otak dan alam raya yang dihamparkan. Jika ada yang bilang “Akh bisanya nulis doang”, biarkan saja, setidak-tidaknya kita sudah melakukan pemanfaatan dari anugerah-Nya:otak.

Karena ini adalah dunia ide kawan, bebaskan ia bersahabat dengan dengan angin yang akan menerbangkannya hingga ke angkasa raya.

Karena tindakan/laku juga punya dunia sendiri, dunianya adalah nyata dan terbatas.  Beda bukan dengan fikiran/ide yang menempati kebebasannya, yang sperti tanpa batas?.  Dalam laku kita dibatasi ruang, waktu, etika dan estetika juga pertimbangan-pertimbangan lain atau hambatan-hambatan yang tidak  diinginkanpun akan kerap ada.  Maka menjadi wajar jika tindakan-tindakan kita pun terbatas dan “luasnya” tidak  seimbang dengan ruang ide/fikir kita.

Biarkan ide dengan ketak-terbatasan-nya dan laku dalam ke-terbatasn-nya (jika memang sebuah usaha telah diperbuat; menjadikan ide equal dengan laku). Namun ada baiknya untuk tidak membatasi ide/fikiran kita, karena ia bisa menambah kerkerdilan laku  atau kemampuan berbuat yang memang sudah dihadapkan dengan  berbagai keterbatasan. Tetap kembangkan area ide atau fikir, karena ketika ide atau fikir diperluas, maka tindakan punya kemungkinan besar mengikuti perluasannya, dan juga berlaku sebaliknya.

Bersyukur atas rupa-rupa anugerah-Nya.
Berharap bisa meluaskan dan  menyeimbangkan.
Seluas Samudra, seakurat Mizan-Nya

Salam….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: