Oleh: Ningrum | 28 Februari 2011

Antara Anies Baswedan, M.Jusuf Kalla, Seorang Pemuda dan Aku

Nyata, aku datang

Nyata, aku datang

 

Kisah pertama, pada 2010 dalam sebuah krumunan wartawan aku ada di sana, tapi bukan sebagai reporter atau kuli tinta. Hanya ingin menemui (memenuhi janji) Rektor Paramadina, Anies Baswedan secara personal tapi tak rahasia. “Ningrum nanti dulu ya, saat ini saya ada jadwal/acara lagi” kata beliau seperti terburu-buru dan sambil menujuk arah yang akan ditujunya. Hmmm.. sapaannya kepadaku seperti sudah kenal baik, kata-kata itu diucapkan setelah melihatku, rupanya beliau masih ingat janjinya. Lalu ia berbicara kepada perempuan, sekretaris pribadinya (sespri) “Tanya Ningrum buku-buku apa saja yang ia inginkan, catat ya, saya pergi dulu, nanti saya kembali” kata beliau. Beliau yang pernah menyandang Rektor termuda di Indonesia itu pun melakukan aktifitas di tempat lain. Lalu sesprinya melakukan hal yang diperintahkan beliau, bertanya, menyimak dan mencatat.   Sedangkan aku hanya menyebutkan judul-judul buku. Tak ku ingat satu persatu apa saja judul yang kusebutkan. Yang kuingat adalah judul yang menderet panjang ke kebawah  hingga berlembar-lembar.

Kejadian yang kedua, disuatu waktu 2010, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja  aku berada di ruang tamu yang sett-nya seperti istana kepresidenan yang serba putih dengan sedikit aksen merah.  Di ruangan itu aku bertemu dengan Pak M.Jusuf Kalla dan duduk di satu kursi tamu yang panjangnya sekitar 2,5 meter. Pak Jk  sangat terlihat low profile dan sederhana (pemandangan lain yang terlihat di TV, ia lebih berani memutuskan, cekatan dan punya inisiatif daripada yang diwakilinya). Hmmm pada saat  itu kami berbincang-bincang tak terlalu lama. Hingga saya pun pamitan padanya. Nah saat itulah  beliau menyalami saya dan berucap “Ningrum, teruskan hobimu yang satu itu, itu sangat baik dan positif” dan Pak JK pun seperti biasanya,  menyertakan senyumnya dimana ia berada. Btw, beliau sejak Senin, 12-Januari 2010 (heihei sama dg hari pentingku)  belia menjabat sebagai ketua umum Palang Merah Indonesia (PMI) menggantikan Mar’ie Muhammad.

Peristiwa ketiga, di sebuah acara, aku berjalan dengan seorang pemuda dan kemudian menuju kursi deretan paling depan. Dia tampak baik dan cemerlang. Sebelum keberadaan kami di sana, kami berdua berada di ruang yang seperti ruang makan dan ia pun berucap “Tenang, saya akan menerima apa adanya dirimu, segala kekurangan dan kelebihanmu” katanya kepadaku. Tahukah siapa pemuda itu? Ku juga tak tahu namanya, tapi dia adalah anak petinggi Dewan Pertimbangan Partai Amanat Nasional yang basisnya di Yogyakarta dan disebut sebagai bapak reformasi 1998.

* * * *
Ketiga peristiwa itu adalah  nukilan dari mimpi tak sadarku di lewat dari medio  2010. Saya juga tidak tahu mengapa beliau-beliau dan seorang pemuda itu bisa ada dalam mimpiku.  Aku hanya simpatik saja dengan hal-hal: Anies Baswedan engan kecerdasannya, JK dengan low profile, penuh inisiatif dan kesederhanaannya. Aku hanya mengetahui itu semua lewat layar kaca di  berita atau program Save our Nation yang ditayangkan di Metro TV. Sedangkan pemuda itu  ku lihat di layar kaca sebelum terpilihnya Hatta Radjasa  sebagai ketua umum partai Matahari, Sabtu, 9 Januari 2010.

Dalam alam sadarku, simpatik untuk mereka.  Btw, senang jika negeri ini banyak orang-orang seperti mereka; cemerlang, visioner, kaya inisiatif dan tetap low profile.

Sekedar mencatat mimpi.
Salam…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: