Oleh: Ningrum | 28 Februari 2011

Dicintai atau Mencintai?

Apakah ada beda antara perempuan dan laki-laki dalam persoalan diinginkan      menginginkan  atau dicintai mencintai? Saya jawab ada.

Keinginan diri adalah berada pada posisi diinginkan bukan menginginkan, dicintai bukan mencintai. Tapi bukan lantas mengabaikan hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk kepentingan kedepan atau satu pihak yang  hanya punya keinginan.  Maksudnya keinginannya: laki-laki tersebut terhadap saya (baca diri) itu kalau bisa lebih besar dari pada keinginan diri teradapnya. Kecintaannya terhadap saya lebih besar daripada kecintaan saya terhadapnya.  Lho dasarnya apa kok bersikap seperti itu?

Dasarnya adalah gender, ya meskipun keinginan, rasa suka dan cinta itu tak mengenal laki-laki dan perempuan. Tapi ada sebuah nilai (meskipun bukan sebuah kewajiban atau kebenaran mutlak atau aturan baku yang harus dipatuhi) yang masih cukup menjadi pertimbangan  diri, karena diri perempuan, maka  diri menginginkan berada pada posisi itu.  Jika berandai-andai diri menjadi laki-laki, saya akan lebih bisa cepat bertindak dan membuat sebuah keputusan terhadap objek yang  diri inginkan untuk mendampingi perjalanan hidup saya menuju-Nya. Tapi itu adalah hanya pengandaian dan tak terjadi karena diri adalah perempuan maka cenderung memilih untuk yang lebih diinginkan daripada menginginkan, dicintai daripada mencintai.  Agar tidak “sakit” dikemudian hari.

Sebab, perempuan  umumnya dengan potensi nrimo (baca menerima)  yang lebih besar itu, lebih memungkinkan untuk membuat semuannya terpahami,  perempuan itu lebih mudah untuk memaklumi kondisi-kondisi yang ada, termasuk keterbatasan seorang suami. Contohnya: sering kita lihat, ketika suami sakit atau menderita stroke atau gangguan syaraf lainnya, sang istri lebih bisa menerima dan bertahan memilih untuk merawat dan mendampingi suami daripada harus mencari “rumput hijau” lainnya. Beda dengan kondisi sebaliknya, ika yang menderita sakit atau keterbatasan adalah istri, ada kemungkinan besar sang suami berbuat sebaliknya dari contoh tersebut. Kecuali bagi suami yang  tidak demikian ya.

Kaitannya dengan menjadi yang diinginkan adalah, ketika ada kondisi-kondis yang tidak diharapkan itu muncul ldengan tiba-tiba,  sang suami dengan rasa cinta yang lebih besar terhadap istri, maka sang suami akan memilih untuk bertahan atau setidak-tidaknnya  tidak semena-mena terhadap istri. Kondisi akan berbalik jika sang istri yang benar-benar sangat mencintai suaminya, misalnya perbandingnnya, cinta istri 75:25 untuk cinta suami.  Lihatlah (berdasarkan pengamatan) apa yang akan terjadi,  dari suami akan muncul acuh tak acuh, berbuat semau gue karena merasa diatas angin; merasa sangat  diinginkan sejak awal sebelum menikah dan seterusnya.

Kondisi psikologis laki-laki  dengan potensi nrimo,pemakluman atau kemampuan  menyeimbangkan cinta yang tidak sama dengan perempuan, menyebabkan laki-laki sulit merubah  cinta 75:25 menjadi 50:50.  Sebaliknya, mudah bagi perempuan (jika sudah menikah atau menjadi istri) untuk  merubah itu menjadi seimbang.

Untuk para perempuan dan laki-laki  yang membaca ini:
semoga kita dianugerahi pasangan dengan tingkat cinta dan pengertian yang tinggi, memilih untuk menghadapi dan menyelsesaikan semua kesulitan dan kemudahan secara bersama,  bisa mencipta dan menjaga sakinah mawadah warahmah-Nya, juga bisa menghadirkan keberkahan-Nya, amin.

Salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: