Oleh: Ningrum | 6 Maret 2011

Facebook Memusnahkan Minat Baca?

Setuju tidak dengan judul ini? Ada benarnya juga si, tegur sapa di facebook sangat mungkin melenakan seseorang. Hingga yang bersangkutan mengenyampingkan atau tanpa menyadari telah banyak menghilangkan waktunya untuk membaca informasi lain yang bisa menambah perbendahraan pengetahuannya. Ya, membaca-nya sudah tergantikan dengan aktivitas membaca status dan membalas komentar atau bertegur sapa secara virtual. Menyenangkan memang, hingga waktu tanpa sadar banyak tersita. Kerjaan tertunda dan makanan otak;buku;bacaan lainnya terlupakan.

Hmm.. ketika menulis soal “Andai Secepat Pesawat Hypersonic”  kebetulan  diri ngobrol via ponsel dengan Amir, sobat saya di UKM LPM dulu. Obrolan yang tertunda satu jam karena dia harus me-charge batre dan saya harus memasak dulu. Awalnya si membicarakan LPM kami yang sekarang dalam kondisi kritis (informasi dari Susi, adik tingkat yang mengabarkan kepadaku tadi pagi via telfon seluler). Eh akhirnya sampai juga ke Facebook Mengurangi Minat Baca.

“Ya iyalah ada pengaruh minat baca dengan Facebook. Jangankan itu, munculnya telfon seluler saja sudah menganggu” kata Amir. Hmm… dahsyat juga ya facebook telah menjadi bagian dari banyak pribadi, hingga lakunnya mengakumulasi menjadi sebuah budaya; life style anak negeri yang tak terbantahkan (waduh saya termasuk gak ya?). Hingga ia tak perduli tetap menyelinap masuk ke kampus yang beriklim pengetahuan dan punya fungsi: belajar, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat.  Jika 85 persen penduduk perguruan tinggi;  civitas akademik; dan mahasiswa, mungkin juga dosen”bermain mata” dengan facebook, maka nuansa yang akan ada adalah nuasa facebook.

Dari pembicaraan itu, muncul salah satu hipotesa bahwa semangat mahasiswa; gregetnya terhadap  kampus yang hingar bingar oleh rupa-rupa kegiatan  kemahasiswaan, diskusi, membuat karya nyata yang bisa dinikmati atau dibaca civitas akademik kampus  tampak jauh  menurun. “Iklimnya sudah beda” kata Amir.  Ya, diakui atau tidak, teknologi yang seharusnya bisa menunjang produktivitas karena sifatnya bisa mempermudah, justru berpotensi melenakan. Ini bisa terjadi ketika semuannya tidak disadari dan digunakan dengan bijak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: