Oleh: Ningrum | 11 Maret 2011

We Love You Dad

Setiap pagi kami berkeliling menggunakan sepeda jengki dan atau berboncengan motor dari warung ke warung desa atau desa tetangga, menghantarkan  belasan tremos es yang berisi es balon warna warni sejumlah 15-30 buah dalam setiap tremos. Sebelum aktivitas ini  menjadi tugas kami berlima: anaknya secara bergantian dan atau turun temurun  mengemban tugas,  aku masih ingat ketika bapak menghantarkan teremos-tremos itu seorang diri sebelum pergi ke kantor. Lalu, untuk mempermudah, menghemat waktu dan tenaga, bapak  membuat rak dari besi berdiameter 0,7cm melalui jasa tangan Pakde Poyo. Rak itu akan digunakan sebagai wadah beberapa tremos es. Tujuannya agar sekali jalan;berangkat bisa membawa 4-8 tremos es.

Awal-awalnya, pembuatan es diajarkan oleh bapak dan ibu, tapi karena bapak dan ibu juga pergi ke kantor, lalu tugas itu diserahkan kepada anak-anaknya untuk dikerjakan selepas siang, sepulang  sekolah.  Usaha ini mendatangkan pendapatan tambahan yang lumayan,  karena waktu itu listrik belum lama masuk desa kami dan banyak warga yang belum memiliki lemari es. Jadi es balon masih menjadi salah satu idola untuk dikonsumsi. Oh iya, pada saat itu juga belum banyak minuman siap saji dalam kemasan, jadi ya usaaha berjalan lancar. Lalu pemasukan dari jualan es balon ini dibagi untuk biaya pembuatan es kembali, untuk ongkos;uang jajan kami ke sekolah dan untuk mengisi tabungan tradisional kami alias celengan.

Di lain waktu: “Ayo berangkat, payungnya barengan” kata bapak kala itu sebelum menyandang almarhum. Kompromi bapak sedikit sekali mungkin juga tak perduli dengan hujan  jika tak sangat deras. Mau tidak mau, kami harus melawan rasa malas dan hujan, juga temaramnya jalanan malam  menuju Masjid Al-Ikhlas yang jaraknya  sekitar 500m dari rumah kami. Bapak di depan dan kami mengikuti di belakangnya. Aku dan mbakku bekerjasama, mbakku yang memegang payung hitam yang berat dan besar itu, sedangkan aku membawakan sajadah dan sarungnya. Tak jarang, kaki kami hingga sebatas lutut kotor, terciprat air hujan juga karena sandal jepit yang kadang sedikit kebesaran. Lalu, sesampainnya masjid kami pun harus mensucikan diri sebelum sholat.

Dalam situasi yang lain, “Prok, prok, prok” bunyi tepukan tangan  bapak beberapa kali dari ruangan Sholat kala magrib tiba (jika kami tak berjamaan di masjid). Itu tandannya anggota keluarga dipanggil untuk segera sholat magrib berjamaah. Selang beberapa waktu, jika belum juga kumpul, tepukan tanggan itu akan terdengar lagi hingga kami pun magriban bersama. Kemudian seusai sholat wiridan; biasa membaca tasbih, takbir dan tahmid sejumlah 99kali. Dilanjutkan berdoa, anak-anak beliau digilir bergantian, sembari uji hafalan doa-doa yang telah diajarkan bapak.

Aku masih ingat di meja persegi panjang  ruang makan yang di selatannya ada papan tulis hitam dengan alat tulis kapur, kami  diajari mengenal dan  membaca huruf hijaiyah: alif, ba’, ta’, tsa, jim hingga ya. Tak jelas nama metodennya, tapi dulu kami menyebutnya belajar Turutan. Mungkin artinya; kepanjangannya turutan itu; turut al-qur’an  atau bisa juga tutur dan laku ikut alqur’an ya?.  Turutan isinya jus ke-30nya alquran dengan halaman awal huruf hijaiyah mandiri atau belum bertanda fathah, dhomah, kasroh tanwin da atau sukun seperti yang ada dalam metode iqro atau metode lainnya yang banyak bermunculan saat ini. Di meja persegi panjang itu kami mencatat dan menghapal berbagai doa, doa-doa yang sebagain besar hingga kini, hingga tiada pengajarnya masih tetap kami gunakan. Dari kami belajar mengenal huruf hijaiyah hingga bisa membaca alqur’an meja itu tetap persegi panjang.

Di meja itu pula jalinan komunikasi kami sekeluarga berlangsung, seusai  mengaji, meja tersebut kami gunakan untuk makan malam bersama.  Ibu yang memasak (dibantu kakak perempuan terbesarku) dan soal menyusun kursi, menyiapkan/membawa makanan  dari dapur ke meja, membawa piring dan sendok, menimba untuk mencuci piring, pencuci piring dan seterusnya adalah tugas kami anak-anaknya dengan pembagian merata disesuaikan dengan umur dan kesanggupan.  Dan kami pun diajari table manner ala prajurit (maklum sebelum bekerja kantoran, bapak punya latar belakan pendidikan di militer. Standart umum si, duduk tegak dengan garpu dan sendok yang tak boleh beradu bunyi dengan piring dan dihimbau makan tidak berbunyi mengecap.

Di meja itu pula seusai makan malam bersama, kami belajar pelajaran sekolah juga mengerjakan PR dari ibu /bapak guru. Ibu dan atau bapak selalu mendampingi kami belajar, hingga Sekolah Mengah Pertama, kami mulai belajar sendiri-sendiri, namun tetap di meja itu.  Di meja persesgi panjang, sepanjang sejarahnya dengan segi berbentuk pengajaran nilai,  juga tak tertinggal: sebuah kesederhanaan hidup.

* * * *
Pada 11 Maret 1937 bapak dilahirkan oleh nenek, tanggal ini mudah diingat karena pernah dicatat dalam sejarah Indonesia soal Supersemar:Surat Perintah Sebelas Maret yang masih dipertanyakaan kebernarannya. Maret adalah bulan bersejarah juga bulan mengharu biru bagi kami sekeluarga. Tepatnya Jumat 3-3-2006 sekitar pukul 07.30, bapak mendapatkan predikat almarhum, tepat ketika aku di seperempat perjalanan menuju tempat kerja. “Ningrum pokoknya gak usah kerja, balik lagi kerumah sakit” kata mbakku dengan isakan via telfon seluler tanpa menjelaskan panjang lebar.  Ternyata, Sang Maha Pencipta dan Maha Pencinta telah memanggil beliau. Bapak meninggal di rumah sakit Ahmad Yani setelah sekitar dua bulan lebih 11 hari secara intens dirawat di Rumah Sakit Achmad Yani Metro Lampung.  Dan ibuku adalah orang tersabar dan tersetia mengabdikan seluruh waktu dan tenaganya  untuk merawat bapak, sedangkan kami;anak-anaknya harus berbagi waktu untuk kerja-kerja kami.

Masih terjaga dalam ingatan tiga pertanyaan mbak-ku kepada bapak: Siapa anak bapak yang paling bandel;nakal?, siapa yang paling hitam? dan siapa yang paling pintar? hmm dari tiga pertanyaan hanya muncul satu nama dari jawaban bapak.  Ku masih ingat ketika bapak sempat membaik dan bisa tertawa dan bercanda bersama kami. Aku masih ingat ketika beliau berbaring  dalam ketakberdayaannya tetap menanyakan waktu sholat lima waktu dan di suatu malam  memintaku untuk  berdiri di dekat beliau dan mendengarkan wejangannya soal jantung Al-Qur’an: Surah Yasin. Aku masih ingat betapa seringnya beliau dalam ketaksadarannya mengucap ihdinassiratalmustaqiem;tunjukillah aku jalan yang lurus. Aku pun tak lupa patahan kata “inisiatif” yang juga sering terucap  oleh beliau.

Masih terngiang ditelingaku kata-kata “Pintu gemboknya sudah dibuka, bapak sudah tahu pintunya di sebah sana” sembari menunjuk ke arah kiblat.   Masih tergambar jelas pagi itu sebelum ku berangkat pamit kerja ada dua kupu-kupu putih masuk ke kamar dan  berterbangan diatas kepala bapak yang tampak tenang beristirahat. Masih ada dalam memoriku bagaimana jasad bapak yang telah dikafani mori putih dikubur dan dihadapkan ke arah mana.  Aku masih bisa merasakan tekstur dan  sentuhan tangan bapak. Aku selalu rindu ciuman dan pelukan restu dan juga sebagian kekhawatirannya unntukku-kami. Kami semua tak-kan pernah lupa ketangguhan bapak juga nila-nilai yang bapak tanamkan kepada kami, terimakasih dengan ta’zim.

Semoga beliau  dimulyakan oleh Allah, insyaallah.

Kami pun sangat bersyukur  lahir dari seorang ibu yang  selalu memberi tak  harap kembali penuh dengan kehangatan rasa dan bapak yang tak pernah bosan menghadiahkan nilai-nilai pada kami.

Terimakasih Allah untuk anugerah semua ini *Peluk hangat*

Iklan

Responses

  1. Indah, haru dan sayang untuk dibuang begitu saja ingatan ini. Bapak adalah orang yang sangat toleran dengan tugas-tugas domestik ibu. Ketika ibu sibuk menyiapkan sarapan, bapak membantu membuatkan teh berjumlah kami sekeluarga.Teh yang dibuat dengan penuh cinta itu menjadi energi kami ketika di sekolah, hampir tiap hari bapak melakukan ini. Jika hari minggu, Bapak juga tak malu untuk pergi ke pasar tradisional membeli berbagai sayuran, ayam untuk dipelihara, pisang atau ubi atau buah untuk diolah dan disantap bersama-sama dihari libur. Bapak mengangkut belanjaan itu dengan karung goni yang satu sisinya dibelah bagian tengahnya dan kemudian diletakkan di bagian belakang motor bebek warna merah hati bersayap putih. Beliau juga mengajarkan kami menggoreng telor dan membuat sambal kecap untuk dimakan jika kondisi “darurat”: lapar dan lelah sepulang sekolah tapi belum ada sayur.

    Bapak juga tak sungkan membelikan kami asesoris rambut warna-warni:pita atau bandana:bando atau gelang-gelangan untuk anak-anak perempuannya. Aku pun masih ingat ketika TK, di depan sumur manual berember karet hitam itu dimandikan oleh bapak. Dan pernah ku menolak permintaan beliau untuk menggunakan jilbab ketika baru akan masuk di bangku SMP, walaupun pada akhirnya beberapa bulan dari penolakanku itu, aku minta dibelikan jilbab dan Seragam sekolah panjang tanpa ada saran atau permintaan dari siapapun. Hanya karena merasa senang dan kelihatan sejuk dengan setiap pertemuanku dengan perempuan berjilbab di setiap perjalanan berangkat dan pulang dari dan menuju ke sekolah. DIA telah bekerja dengan cara-NYA.

    Aku masih bisa merasakan betapa besar kekhawatirannya ketika selepas magrib mengantar dan melepaskan aku studi tour ke Jogja kala duduk SMP Negeri 3 Metro. Juga begitu besarnya kekhawatirannya hingga ketika aku kuliah-awal ngekos beliau membekali aku dengan sebuah surat tulisan tangannya berisi pesan-pesan. Hingga pindah ke kosan kedua sekitar akhir tahn 2000 beliau ingin melihat langsung lingkungan dimana aku ngekos dan tatap muka dengan ibu/bapak kos. Padahal waktu itu bapak tidak berada pada kondisi badan yang sehat, tapi demi memastikan anak perempuannya berada pada lingkungan yang tidak salah, beliau bisa mengabaikan dan melawan kondisi badannya.

    Semua ini masih terekam dengan baik dalam ingatan, untuk bapak yang tangguh dan ibu dengan hati seluas langit dan bumi, we love u both T_T

  2. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu …
    Do’a anak yang sholih tidak terputus baginya, istiqomahlah 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: