Oleh: Ningrum | 17 Maret 2011

Semua Orang Bisa Menjadi Penulis

Pernyataan-pernyataan Ahmad Fuadi, penulis Trilogi Negeri Lima Menara dengan novel keduanya Ranah 3 Warna cukup manarik dan bisa dijadikan refrensi untuk terus menulis, terutama bagi pemula dan pemimpi (baca: mimpi jadi penulis). Dalam Talk Show, Sabtu 12 Maret  2011 di area  Islamic Book Fair ke 10, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat. Di kesempatan itu bang  AF yang menyukai sejarah juga bersedia  berbagi kiat-kiat dan motivasi utuk terus menulis kepada  para  hadirin.

Menurutnya, hal penting  yang harus dimiliki oleh penulis adalah visi, munculkan pertanyaan untuk apa saya menulis? Ia menyebutkan satu jawaban; untuk beribadah pada Tuhan, melakukan sesuatu dengan niat ibadah.  Tahapan-tahapannya adalah Pertama, niatkan untuk berbuat.  Niat ini sangat penting karena akan menjadi energi yang luar biasa untuk kita menulis. Jika niatnya bagus, mood akan menjadi belakangan. Sedikit menginterpertasikan: mood akan mengikuti niat, jika niatnya bagus mood yang tidak bagus akan mengikuti pendahulunya yakni;  bagus.

Kedua, “Setelah mood mengikuti, tulislah hal-hal yang kita tahu atau hal-hal yang dekat dengan kita “.  Pengalaman saya si memang lebih mudah menuliskan hal-hal yang dekat dengan kita, daripada harus membicarakan dalam tulisan yang topiknya di luar “kuasa” kita.

Ketiga, lakukan dengan konsisten. Jika  menulis setiap hari, satu tahun mendatang ia akan bisa menjadi novelis. “Yang saya lakukan adalah  memaksakan diri untuk menulis setiap hari, mood atau tidak mood” katanya Bang AF yang tengah mengembangkan Yayasan Komunitas Menara  di Bintaro, Jakarta Selatan dengan misi pembangunan karakter.
Lainnya, sesungguhnya semua orang punya potensi dan  bisa jadi penulis, minimal menulis  sms: short massage service, kalimat yang kemudian disambut dengan senyuman para hadirin. Katanya,  berapa kali setiap orang dalam perharinya  menulis sms? Barangkali jika dikumpulkan akan bisa menjadi tulisan sepanjang satu halaman. Hmmm… sms bisa jadi tema awal tulisan juga ya.

Keempat, perhatikan refrensi. Perbanyak baca buku dan sering-sering melakukan riset.  Hmm… ku kira ini baik untuk memperbanyak kosa kata juga input informasi sekaligus pendalaman masalah yang akan ditulis. Tidak menutup kemungkinan kita akan menemukan jawaban dari hal-hal yang sedang coba diteliti.

Jangan dlihat jika mengganggu :)

Jangan dlihat jika mengganggu🙂

Di forum yang sama,  (mba) Asma Nadia, penulis perempuan produktif  mengomentari karya Novel Ranah 3 Warna. Kata dia, penulis  novel tersebut punya “nafas” yang panjang,  bisa membuat ini dalam Trilogi.  Lalu, untuk menjadi penulis yang baik adalah menjadi pembaca yang baik. Ada ungkapan, seorang penulis yang baik adalah sama baikknya ia dalam membaca,  menulis itu harus disiplin.   Satu yang ia tangkap  dari  tokoh utama dalam novel:  tidak pernah mau menjadi orang yang hampir. Karena seberapapun dekatnya kita dengan hampir,  hampir itu tak pernah terjadi.

Kemudian, beberapa catatan yang juga saya dapatkan dari bang AF pada  kesempatan itu adalah:
1. Jika jatuh, jangan jatuh seperti tepe atau ketan, jika sudah jatuh ia tidak  akan bisa melompat tingi. Jika jatuh, jatuhlah seperti bola tenis, semakin jatuh ia, semakin menjulang dengan lompatan yang lebih tinggi.
2. Seberapa konsisten kita terhadap visi
3.Man Jadda wa Jadda: siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkannya. Kita harus bisa sedikit saja diatas rata-rata (penjelasannya; filosofinya bisa didapatkan di novel Negeri 5 Menara, maaf halamannya lupa, heee). “Pertanyakan kepada diri sendiri, apakah usaha kita sudah lebih atau belum?” kata dia.
4.Jika sudah berusaha habis-habisan tidak cukup, do’a habis-habisan juga belum menampakkan hasilnya, maka bersabarlah, man sobaro dhofiro:  barangsiapa bersabar pasti beruntung.

Semoga bermanfaat
Salam.


Responses

  1. Saya masih ingat saat menyelesaikan manuskrip awal saya sepuluh tahun yang lalu, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak diterbitkan. Saya rasa akan membiarkannya demikian, mungkin hingga suatu saat nanti.

    Apa Mbak Ningrum mengetahui tentang kisah “Telur Colombus”, pelayar Eropa yang pertama kali tiba di kepulauan Bahama? Kisah itu mirip dengan bagaimana semua orang bisa menjadi penulis buku.

    • Lho kenapa gak diterbitkan? kukira manuskrip itu sangat layak untuk diterbitkan (hehe kek sya tahu aja apa yang ditulis 10 tahun lalu itu). Btw pasti punya nilai dan makna, terutama bagi penulisnya🙂. Jadi pengen tahu isi manuskripnya😀

      Wah soal itu belum baca cah😦 menarik dan memotivasi banget pasti ya?

      • Kisah “Telur Columbus” lumaya terkenal kok🙂.

      • Ternyata saya masih jadi “katak” di aliran sungai kecil, atau malah katak dalam sumur, gak tahu hal yang terkenal😦.
        Tadi cari di om google. He’eh bener seperti katamu, ada kaitannya dengan ini, semua orang bisa menjadi “sesuatu” ketika ia memulai untuk melakukan sesuatu itu sendiri, dalam hal ini penulis; menulis yang dianalogikan dengan memecahkan sedikit bagian ujung telur untuk bisa berdiri. Yang kata banyak orang mustahil, tapi dengan melakukan sebuah tindakan hal itu tidak mustahil, perlu berfikir yang agak sedikit “nakal”🙂

  2. mantap gan perkembangan teknologi sekarang, , klw kita gak ikuti bisa ketinggalan kereta , Aerith


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: