Oleh: Ningrum | 18 Maret 2011

Sudut: Cara Pandang

Masing-masing dari kita memiliki sudut atau cara pandang yang berbeda terhadap sebuah objek. Artinya ini sangat bersifat subjektif, yang sesungguhnya mudah, karena belum mengetahui sudut pandang gampang, hal tersebut menjadi sangat rumit. Hal yang baik,  bisa jadi hal yang buruk  untuk yang bukan ia. Hal yang sesungguhnya positif bisa dipandang negatif bagi orang lain. Namun hal yang sifatnya personal tersebut bisa menjadi  hal yang objektif manakala kita memiliki sudut pandang yang luas  atau konferhensif dalam memandang  sebuah objek yang juga memiliki banyak sudut untuk dinilai.

Nah, titik-titik dimana kita bediri  lalu (jika mau) berpindah-pindah dan  titik-titik yang mampu telah kita jelajahi akan dapat membantu kita mendapatkan keutuhan tentang  objek tersebut.  Yup, karena sesungguhnya sesuatu tersebut juga merupakan gabungan titik yang banyak.

Ketika kita hanya berdiri di satu sudut dalam memandang objek yang seringkali kita  nilai kecil dan tak berguna padahal  senyatannya itu hal yang “kaya”. Ia memiliki banyak titik untuk ditelisik. Ini juga sering tak kita sadari, terkadang kita tidak adil terhadap sebuah objek,  cepat mengambil kesimpulan hanya karena telah merasa benar;sempurna dalam menilai, padahal ia baru berada dan memandang objek di dan dari satu titik. Hmmm…   kondisi ini sangat memungkinkan ke-underestimate-an yang belum tentu benar itu muncul. Hingga yang ada adalah hal-hal negatif yang kemudian menguasai kita, hingga semua yang kita refleksikan juga serba negatif. Duuh…

Btw, dalam postinga kali ini, cara atau sudut pandang,  saya dekatkan dengan cara berfikir. Mata yang menangkap sebuah objek mengirimkan sinyal ke otak, sampai di “dapur”, maka  informasi itu akan “dimasak” baik dalam sekejab atau lama. Nah, luas, lurus atau tidaknya  objek kemungkinan besar wujudnya linier dengan pencitraan kita terhadapnya.

* * * *
Ide ini muncul kembali setelah  sekian lama mengendap, terinspirasi oleh ketersesatan saya mencari dua tempat yang diinformasikan beralamat di sebelah sini sebelah situ,  lewat tanda ini tanda itu, dekat gedung ini gedung itu, lampu merah keberapa keberapa dari titik start di Pakuncen Jl. HOS. Cokroaminoto, Yogyakarta.

Ketika itu saya mengendarai motor dengan menggunakan sudut atau cara pandang yang terbatas dan sangat konfensional, hal ini menyebabkan saya harus mengulang-ngulang kembalil lagi jalan yang sama dan ada yang tidak dalam tiga hari pada tanggal 22-24 September 2009 hingga nyasar ke Jl.Lingkar Utara (Ring Road)  tanpa hasil. Barangkali terlewati tadi karena tidak teliti dalam mengamati dan harus berbagi kosentrasi dalam mengendarai, kata saya dalam hati yang sebenarnya kesal.

Lalu, setiap harinya, ketika sedang dan setelah mencari tempat tersebut, saya justru mendapatkan hal-hal yang negatif: capek hati (kesal, emosi), berprasangka buruk terhadap yang memberi petunjuk via telfon. Intinya, saya sudah dikuasai hal-hal yang serba negatif dan tidak sadar bahwa saya hanya memiliki/ disibukkan dengan satu sudut pandang.

Karena itu, cara yang seharusnya  bisa melapangkan pencarian tersebut: seperti mengaktifkan GPS:Global Positioning System pada PDA yang sudah berumur atau memiliki peta Yogyakarta jadi tidak terfikirkan.  Setelah saya menceritakan hal itu pada saudara sepupu, ia hanya tertawa “Wahaha dapat pengalaman  kamu”.  Lalu  dimalam keempat ia memberikan Jogja Map yang ia punyai terbitan Dinas Pariwisata Pemerintah Kota Yogyakarta dan Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta. Nah berkat peta yang membuka cara pandang dan berhasil menghilangkan “kesempitan” memandang  terhadap sebuah subjek juga objek, maka di hari keempat dengan fikiran positif (tadinya negatif)  dan penuh keyakinan,  akhirnya alamat tersebut  saya temukan🙂.


Responses

  1. Itulah mengapa GPS itu penting. Kalau ada undangan atau mau kumpul-kumpul, biasanya saya minta dua hal, alamat lengkap lokasi, dan yang kedua adalah titik koordinat lokasi. Bila perlu dia suruh unggah dulu berkas KMP-nya ke Google, ha ha…😀.

    • Unduh KMP ke Google? ngerjain pengundang aja🙂
      Btw, iya juga si perlu, terutama untuk yg belum kenal medan. Waktu itu saya sering bertemu gang bertanda perboden dan jalan satu arah. Kalau lupa belok/kelabasan mengindahkan rambu-rambu lalu lintas bisa mengakibatkan perjalanan/jarak semakin jauh karena tidak bisa sembarang belok, bisa nyasar terpental jauh, mblosok mblosok seperti saya hingga juga ke Jalan Solo n Ring road utara😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: