Oleh: Ningrum | 20 Maret 2011

Kecerdasan Anak

Bemain dan bercanda dengan gadis kecil dan pintar adalah hal yang  menyenangkan. Tak terkecuali minggu ini. Imajinasinya tak bisa diduga dan  energi untuk menyampaikan  rupa-rupa imaji pun sangat banyak, Kita bisa kelelahan jika mengikuti alur imaji dan geraknya . Ia juga suka sekali dengan hal-hal baru, yang belum pernah dijumpainya atau  hal-hal tak terduga dari sebelumnya. Ia bisa berkata “saya ingin bermain dengan si A atau si B”

Jika saya amati anak-anak, khususnya gadis kecil ini, ia  suka sekali bermain dengan orang yang  sering memunculkan hal-hal baru, mencipta hal-hal baru,  mengajari rupa-rupa yang baru. Baru disini dimaksudkan pada sesuatu yang sebelumnya belum bisa ia kerjakan atau belum diketahuinya. Apalagi jika orang yang diinginkan tersebut   juga suka mengapresiasi keinginananya bermain dan yang sering tanpa kita sadari itu adalah juga bagian dari proses belajarnya. Membuatnya menjadi tahu terrhadap hal yang sebelumnya tidak ia ketahui.. Berubah bisa pada hal yang sebelumnya belum dapat ia lakukan.  Oh ya, gadis kecil ini tampak sudah bisa merasakan manfaat jika berada atau bermain dengan si A atau si B.

* * * *
Hal yang perlu diperhatikan jika  berinteraksi dengan anak-anak adalah:

1.    Membuatnya merasa nyaman, caranya membuka diri terhadap  anak dan duniannya. Dunia anak-anak kan bermain, jadi ingin menanamkan apapun (nilai-nilai) ataupun mengasah kemampuan kognitif (kecerdasannya) ya melalui bermain atau setidak-tidaknya dalam suasana ketika ia sedang bermain. Metodenya: bermain peran atau berdongeng dengan penuh exspresi. Libatkan ia (anak) dalam dongeng tersebut. Pilih peran yang baik (protagonist) dan ciptakan tokoh antagonis selain dia. Agar anak tahu yang mana harus dilakukan dan mana yang tidak baik untuk dikerjakan.

Hal ini cepat sekali tertanam dalam benaknya dan saya yakin, bahwa hal tersebut akan menjadi refrensinya ketika sedang bermain-main dengan kawan-kawannya.  Menyoal ini jadi ngat teori pe-label-an. Apa yang kita labelkan atau kita identikkan, maka ia  melekat dan akan terjadi. Apalagi jika dalam intensitas sering.  Contoh kasus (bicara padanya): Anak yang baik adalah anak yang suka berbagi dengan temannya. Ketika ia baik maka Tuhan pun akan baik. Adaptasikan hal tersebut dengan apa yang telah terjadi pada anak. Contoh Viva memberi, kemudian Tuhan mendatangkan tante yang mengajaknya ke Ragunan dan membelikan ia boneka. Atau contoh lain yang intinya hal yang pernah terjadi pada anak tersebut.

2.    Kreatifkan diri, maka anak-anak akan kreatif atau bisa lebih kreatif dari kita. Karena seringkali apa yang kita ciptakan akan menstimulir imajinya.  Dan satu imaji-nya itu akan berkembang menjadi imaji-imaji lain yang kadang tidak terimajinasikan oleh orang dewasa . Ya, imajinasi kita seringkali muncul oleh imajinya. Percaya atau tidak, kekreatifan kita pun akan semakin  terasah karena ulah/bentuk2 imajinasi anak. Jika ini berkelindan terus antara imajinasi kita dan imajinasi anak, percayalah, anak akan senang bermain dengan orang terdekatnya, terutama ibu. Kekreatifan anak-anak tergantung kekreatifan ibu, dan bertambahnya ide ibu/orang-orang yang berinteraksi dengan anak juga berasal dari imaji yang terlaku-kan anak.

______________________
Minggu ini saya tetap senang, walaupun pekerjaan  diri tak terselesaikan sesuai rencana kemarin malam. Objek (anak) yang berinteraksi dengan diri tadi pagi hingga siang telah menstimulir rasa juga fakir saya. Gadis kecil yang cerdas, hanya beberapa jam  ia melakukan banyak hal tanpa henti. Hanya melihat alat tulis milik diri, ia berimajinasi  melukis, bulpoint-bulpoint tersebut dijadikan sebagai  stick, kuwas dan cat lukis.

Ditemani  saya, Mimi Jerapi, nama boneka jerapahnya dan boneka bintang milik saya, ia berkelana hingga ke Sumatera, Inggris, Canada, Turki juga Mesir melalui pembicaraan yang mengawang-awang. Melalui tiang/kaki manekin yang disumpali gulungan kertas kopi sebagai  teropong bintang dan mic, ia sudah bisa berimajinasi menjadi ahli astronomi dan penyani.

Dan ia pun bertanya  tanpa ada stimulus “Tante kog gak punya dede?” heheh bingung jawabnya tiba-tiba kok tanya ini, hee.  “Ntar kalo dah ada ayahnya baru ada dede.  “Ayah?” katanya, hee barangkali dia berfikir ayah itu ayahnya dia, terlihat dari mimik mukanya yang keheranan juga tak puas dengan jawaban saya. ” Kalo dah punya  suami” kata saya.  Suami itu kayak ibu yang terus ada ayahnya; jadi pengantin (bingung euy ngejelasinya, hii).

Pertanyaan ini pun tanpa stimulus alat,  “Tante punya drum”? karena ingin memfasilitasi tak ada drum, maka baskom, tutup tempat ice cream dan sumpit mie pun saya hadirkan untuk memenuhi imajinasinya. Melalui satu batang biskuit;stick ia berimajinasi menjadi konduktor dan melalui  ruangan yang lapang ia berimajinasi menjadi penyanyi, pemimpin lagu;dirigen dan pemimpin hafalan salah satu ayat dari kitab sucinya umat Islam.  Dan juga tiada keberatan jika botol air mineral beroksigen itu dijadikan kamera shooting dalam sebuah stasiun TV dengan program Cerita Anak (anak Bercerita). Ia gembira sangat, karena imajinasinya bisa  menyatakan itu meskipun dengan media perumpamaan. Ia tetap gembira dan ini adalah tanda berkembangnya imajinasi dan kecerdasannya (setidak-tidaknya menurutku pada objek yang satu ini).

Senang Bermain denganmu gadis kecil yang sering memelukku, semoga kau menjadi cahaya dan tak mengecewakan Tuhanmu.
Minggu pagi hingga siang yang menyenangkan.
Terimakasih Tuhan…

Tulisan Terkait:

1. Istri; Ibu, Pola Asuh dan Golden Age Balita

2. Anak-anak


Responses

  1. Masalahnya adalah, anak-anak memiliki stamina jauh lebih banyak dibandingkan saya, jadinya malah yang menemani teler duluan😀.

    • hehehe, anak2 tuh energi beserta imajinasinya nya luar biasa ya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: