Oleh: Ningrum | 12 April 2011

Dilema Ibu Perkotaan

Malam itu pukul 21.15 wib,  saya sedang menunggu  seseorang menyelesaikan urusan dengan koleganya. Saat yang bersamaan, melintas seorang ibu keluar dari pintu pusat perbelanjaan di bilangan Rawamangun. Lengan kanannya mengapit  tas kerja, kedua tanggannya  menjinjing  belanjaan,  karena plastiknya bening, saya bisa melihat sekilas barang atau benda-benda apa yang dibeli oleh beliau, yakni rupa-rupa sembako dan satu  alat pel bergagang-berbatang panjang. Tampak lelah ia berjalan menuju  ke pintu gerbang dekaat jalan utama. Barangkali ibu itu akan menggunakan angkutan umum kota (angkot) karena tak ada mobil dari arah parkir-an menghampirinya.

Saya bisa membayangkan kelelahan beliau, juga tekanan kondisi atau situasi yang tanpa permisi sanggup mengkondisikan sedemikian rupa seorang ibu yang tampaknya sudah berusia sekitar 45-55 tahun. Jika beliau sudah berkerja sejak umur 25 tahun, berarti beliau sudha melakukan hal  tersebut 20-30 tahunan. Hanya bisa menerima tanpa bisa protes apalagi menolak. Bergumul dengan macet setiap pagi,  bersahabat dengan  kerjaan yang menumpuk, terpaksa menyatu dengan malam, tetap melakukan tugas-tugas domestik dan juga memenuhi kebutuhan keluarga: sekolah makan dan seterusnya. Atau bangaimana jika beliau janda atau masih bersuami namun dengan ritme kerja yang sama?

Lalu, bagaimana  membangun kehangatan komunikasi keluarga dalam situasi yang demikian? Bagaimana pertumbuhan psikologis anak-anak yang sedari kecil juga sudah harus menerima keadaan orang tua dengan ritme kerja yang demikian?. Bagaimana ikatan psikologis  anak  yang hanya memiliki intensitas bersama ibunya  dikala cuti hamil selama tiga bulan? Begitu singkat? Begitu materialis dan matematiskah semuannya?.

Hmm… dilematis memang bagi seorang ibu perkotaan, memilih bekerja untuk meringankan kerja-kerja suami atau merelakan anaknya lebih dekat dengan pengasuh yang sangat mungkin tak terlampau perduli dengan kejiwaan juga segala macam rupa tumbuh kembang anak juga kemampuan-kemapuan anak lainnya.

Ah entahlah, saya hanya bisa bertanya-tanya. Semuanya begitu tampak dikuasai oleh kondisi.

Salam


Responses

  1. terimakasih cahya untuk sukanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: