Oleh: Ningrum | 12 April 2011

Lajang

Pernah dalam keduluan  dalam waktu yang panjang , tetap dengan kenormalan; heteroseksual; hanya tertarik dengan lawan jenis, status  lajang dalam artian tidak memiliki teman lawan jenis  bertema hubungan spesial menjadi  pilihan sadarku. Disebabkan banyak hal, diantaranya:  memang tidak ingin melembagakan hubungan tersebut dalam  sebuah proses pacaran yang tidak menjamin hasil keberlangsungan;keberlanjutan dalam visi yang lebih besar.  Kala itu, hasil pengamatan diri terhadap kawan-kawan yang memiliki pacar adalah lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

Misalnya saja, aktivitas jadi  terganggu karena pelaksana (yang bersangkutan) harus momunikasikan hal tersebut dengan pacarnya yang seringkali kegiatan berdua bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan. Produktivitas jadi menurun; karena waktu dan perasaan pun terbagi antara urusan pribadi dan urusan organisasi.  Belum lagi jika sang pacar meminta ini itu, tidak boleh ini itu, harus begini harus begitu dan sebagainya. Juga karena tidak ingin memiliki ketergantungan rasa; rindu dan segala rupa  turunannya, karena diri cukup sadar diri punya  posesifitas yang tinggi.

Tahu, jika sudah berani melembagakan hubungan  atas kesepakatan berdua berarti ya harus siap dengan konsekwensi logisnya, berbagi waktu, rasa, dan seterusnya. Dulu, untuk hubungan semacam ini saya tidak mudah merelakan kesenanga-kesenangan saya; bebas berinteraksi dengan siapapun, kapanpun dan di manapun yang saya mau (dalam hal positif  dan bisa dipertanggunjawwabkan tentu) atau melakukan apapun yang saya sukai jadi terganggu. Intinya si, diri tidak mau beribet-ribet ria berurusan dengan konsekwensi logisnya. Hehei egois banget ya dulu.  Belum lagi kalau ada  makhluk dari api yang iseng lewat, wuusshh bisa gawat.

Lalu bagaimana sekarang? Apakah melajang masih menjadi pilihan? atau keterpaksaan?.  Jawabannya adalah tidak; bukan kedua-duannya.

Tidak memilih menjadi lajang dengan alasan seperti yang tersebut di paragraf-paragraf sebelumnya, seperti dalam kelalu-an saya,  melainkan hanya belum dipersatukan oleh Tuhan dengan yang  nge “klik”; saya terhadap dia  juga dia terhadap saya (dia-nya siapa ya kira-kira?). Ini perlu karena hidup dengannya  kan tidak dalam jangka waktu sehari atau dua hari saja. Juga tidak sesingkat arus listrik dan jangkauannya pun luas:beribadah pada-Nya.

Lalu apakah harus terpaksa? Tidak juga, karena sampai saat ini  dijalani dengan biasa saja.  Ya walaupun kadang “gerah” juga melihat kawan SMA yang sudah memiliki  tiga anak,  bertemu dengan keluarga kecil yang tampak kompak di sebuah toko buku, melihat para ibu mengantar anak ke sekolah atau dihujani pertanyaan kapan Rum nikah?.  Tapi ya sudah, anggap saja semua ini  adalah  motivasi. Dan kalau kata teman saya “semua akan indah pada waktunya”. Jadi, jika masih lajang ya biasa saja, sembari tetap menghadirkan prasangka baik terhadap Tuhan.

Kemudian, menjadi lajang seusia diri tentu ada suka dukanya. Sukanya, masih bisa pergi ke tempat yang dimau, dan ketika berpergian tidak terlalu was-was akan  tanggungjawab  menyenangkan terhadap orang rumah: mengurus keperluan anak-anak dan suami.  Dukanya,  barangkali di fikiran masyarakat umum, mengapalah gadis se-usia saya belum juga punya pendamping. Dengan demikian, hipotesa  yang macam-macam bisa muncul dari fikiran mereka, bisa positif bisa juga negatif.

Selain  itu, mendapatkan perlakuan yang tidak enak dari lawan jenis itu sangat mungkin.  Ini terjadii di pertengahan Maret 2011 ketika saya melakukan transaksi di Tanah Abang Jakarta Pusat. Awalnya pembicaraan antara saya dan pria separuh baya biasa saja, sedikit pengantar dan berlaku sesuai keperluan. Entah apa yang motifnya, tiba-tiba saja ia menanyakan “Sudah menikah?”. Yah saya jawab seadanya saja “Belum pak”. Lalu kami menyelesaikan transaksi. Setelah itu, arrrghh dia melakukan hal yang tidak saya sukai terhadap saya. Karena masih bisa ditolelir dan saya ingin menghemat energi, diri pun  mengurungkan niat untuk meluapkan emosi; kekesalan yang sebenarnya ada di taraf sangat. Saya pun melangkah pergi dengan membawa janji takkan bertransaksi dengan pria itu lagi.  Saya yakin betul, perlakuannya disebabkan karena kelajangan saya. Karena ini terjadi bukan untuk kali pertama dengan  tempat dan orang yang berbeda. Kalau ingat hal-hal yang seperti ini ingin sesegera mungkin mengakhiri kelajangan diri. Tapi tidak bisa juga degan asal-asalan kan?

Salam

———————————

Tulisan terkait :1. Se-Jiwa 2.Pernikahan 3.Menikah Tanpa Cinta, Bisa Gak Ya?


Responses

  1. Lajang itu pilihan hidup, kecuali bagi mereka yang dipertunangkan, he he…😀.

    Jangan terlalu terkondisi dengan masyarakat, biarlah orang bergunjing atau saling bertafsir, toh pilihan hidup kita sendiri sudah sesuai dengan kata hati – setidaknya sih demikian dalam pandangan saya.

    • hehe iya cahy🙂
      Toh pilihan ini tidak melanggar norma hukum kemasyarakatan atau mendustai nurani;kata hati. Di suatu hari, pilihan ini akan berubah dengan sendirinya manakala ada seseorang yang menurut kata hati juga fikiran saya nge-klik, dia terhadap saya juga saya pun terhadapnya, berkomitmen tinggi mewujudkan visi misi dan seterusnya.

  2. […] apakah saya tidak berfikir dalam hal ini, untuk tidak lagi me-lajang?. Ya kefikiran, siapa perempuan yang tidak menginginkan menjadi istri;ibu, mendampingi anak dalam […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: