Oleh: Ningrum | 15 April 2011

Penyesalan dan Kesalahan Tiada Guna?

Judul; pernyataan  tersebut seringkali kita dengar dalam percakapan. Tapi menurut  saya hal-hal yang diidentikan dengan hal yang tak baik tersebut pun akan sangat berguna untuk perkembangan jiwa diri.  Ya meskipun hal tersebut  sempat membuat sebuah pribadi dalam penyesalan yang bisa jadi butuh waktu untuk bisa dimusnahkan, dan sebuah kesalahan besar yang semestinya bisa dicegah.

Artinya, jika nasi sudah menjadi bubur, yang dapat kita lakukan adalah menerima kenyataan bahwa kita harus menerima; memakan bubur itu, suka tidak suka. Menjadikan ini sebuah pengalaman yang sangat berharga, entah harganya seperti dan seber-apa.  Atau agar tak terbuang percuma, membuat bubur itu menjadi sebuah yang enak untuk dikonsumsi dengan pelengkap-pelengkap lain. Bisa juga kita berjanji dengan sungguh-sungguh tak kan lagi melakukan kekeliruan, dalam hal ini bermaksud menanak nasi, tapi  hasilnya justru bubur. Fatal!!

Gampang memang, bicara dalam sebuah teks mejudge  diri sendiri atau orang lain yang ini fatal!, Unkonsisten!, Idealisnya begini bukan seperti itu!, Dasar bodoh! dan seterusnya. Padahal dalam kenyataannya si belum tentu semudah merangkai kata menjadi kalimat. Apa yang juga akan anda lakukan jika benar-benar terjadi pada anda?. Bagaimana jika beras itu titipan orang lain? dimana kita memiliki sebuah tanggungjawab besar untuk menjadikannya beras menjadi nasi matang bukan bubur?.  Bagaimana cara mempertanggungjawabkannya ketika kita telah dianggap lalai dari menjaganya?.  Bagaimana mengembalikan kepercayaan diri sendiri, orang lain dan juga pemilik nasi?  Ah entahlah, ini rumit, barangkali ada baiknya memiliki harapan bahwa  pemilik nasi memiliki toleransi atau pengampunan yang cukup besar, memiliki rasa pengasih dan penyayang juga pemakluman, karena yang diberi titipan untuk menanak nasi sedari awal tidak punya niat sedikitpun untuk melakukan kesalahan tersebut.

Diizinkan untuk bersedih dan memberi umpatan pada diri sendiri dan harus bersungguh-sungguh menyesal; bahasa umum teologinya taubat. Sangat baik jika semuannya ini bisa menghantarkan seorang pribadi pada kualitas manusia tinggi, walaupun sempat dihardik habis-habisan;dihina oleh diri sendiri karena sempat tergelincir. Sepertinya, sebuah kejatuhan tak menghilangkan peluang untuk  memperbaiki diri dan melakukan lompatan yang  menjulang;mendekat kepada-Nya. Karena Ia masih memberi hak kepada kita untuk tetap menuju pada-Nya.

Ya begitulah, hitam putih-nya ada pada setiap insan biasa, kita ini manusia yang punya bawaan sifat-sifat dan kelakuan malaikat juga iblis. Terpeleset, terplanting;mental dari titik “putih” itu bukan sebuah kemustahilan bagi manusia biasa. Dan di sini terbukti bahwa bertahan;mempertahankan apapun itu lebih sulit daripada membangun sesuatu. Contohnya: mempertahankan kepercayaan tidak lebih mudah daripada membangunnya, juga pada harga diri, kehormatan juga untuk sebuah prinsip.

Bagaimana jika terjatuh?  Bagun, berdiri dan berjalan: lanjutkan  hidup tetap dengan niat menjadi manusia baik-baik dengan perbuatan terpuji, semoga bisa memperkecil area kelam;keiblisan. Duh mudahnya bicara, sedangkan realisasinya bagaimana?.  Tahu, ini;prakteknya tak semudah menuliskan semua hal dalam sebuah manuskrip dan tak sesingkat cermin memantulkan cahaya. Tapi adalah ini tugas rumah yang wajib diusahakan untuk terus dikerjakan;dijaga.

Mengingat, manusia memang tempatnya salah dan khilaf  yang tak serta merta semua hal bisa dilegalkan atas ini juga tak selamanya kita bisa berlindung  dari alasan ini. Menjadi “hitam” atau “putih”  semuanya tidak mustahil bagi manusia biasa.  Apalagi jadi pemenang, ini pun bisa. Ya, jika kita mau berjibaku meluaskan domain sang “putih”. Jadi, adalah hal yang baik jika terus optimis bahwa, selalu ada kesempatan untuk  memperbesar ranah kemalaikatan yang punya nilai plus dalam perhitungan-Nya. Gampang ya bicara, kalo gitu  memperbaiki:menjadi lebih baik dalam laku kita buat bisa saja! Bisa!

Salam


Responses

  1. Cerita yg bgus sobat oy keblogku ea

    • Ini bukan cerita, btw terimakasih komentarnya, salam kenal🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: