Oleh: Ningrum | 16 April 2011

Keyakinan Seorang Perempuan

Sabtu,  12 Maret, saya memilih untuk menggunakan Trans Jakarta (TJ) mulai dari koridor  Pondok pinang Jakarta Selatan. Setelah melewati banyak koridor sampailah saya di halte  Harmoni TJ atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bus Way. Di halte Harmoni itulah saya akan transit menuju Islam Book Fair di Gelora Bung Karno, Senayan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa halte Harmoni adalah halte yang paling padat penumpang, karena di sana banyak TJ yang akan menuju berbagai jurusan.  Seingat saya memang, belum pernah menunggu sejenak jika berada di koridor Harmoni, karena di sini bisa dibilang titik sentral untuk melakukan transit.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.50 wib,  padahal niat saya sampai di GBK pukul 10.00 wib untuk mengikuti dialog interaktif juga bedah buku bersama Ahmad Fuadi, penulis Trilogi Negeri 5 Menara, Asma Nadia sebagai pengulas dan Ronal Kitting  sebagai host. Dan pada pukul 10.00 itu juga saya janji bertemu dengan  seorang teman dari Lampung yang ingin bertemu saya juga sembari mengunjungi IBF.  Pada saat risau menungguku itu, kudapati seorang perempuan, “Mbak mau ke IBF ya?” kataku. Ia memberi jawaban iya untuk pertanyaanku. Dari gaya bicara dan cara berpakaiannya ia tampak prempuan baik.

Sembari menunggu, kulihat beberapa TJ hanya melewati koridor karena sudah full. Setelah sekian lama menunggu akhirnya ada juga yang berhenti, itupun hanya beberapa dari kami. Aku berdiri  dan mengambil posisi di Selatan dan Ti berdiri di bagian barat TJ. Dengan situasi itu, kami tak mungkin bercakap-cakap. Baru setelah sekitar 19 menit sesampainya di Halte GBK kami melanjutkan percakapan, ya sepanjang lintasan halte kami bicara soal TJ juga agenda IBF.

Pembicaraan kami berlanjut, nah perkenalan kami dimulai  tepat di pintu gerbang Barat GBK. Namanya Ti (sebut saja demikian). Lalu ia menanyakan nama, status dan aktivitasku. Ku jawab semua  tanpa mengada-ada. “Mbak sudah menikah?” tanyaku.  Ti memintaku untuk memanggil namanya saja, tidak memakai mbak. Lalu ia pun menjawab bahwa wanita seusia saya dan dia itu sudah waktunya jika menikah, ya tapi dia  belum menikah.  Tapi insyallah tiga bulan lagi akan menikah, karena ia sudah dijodohkan. “Wah  berarti sudah ada calon dong mba, selamat ya” kataku. Dia pun kembali menjawab, “Ya kita semua  kan  memang sudah diberi;dijodohkan Allah, hanya saja belum dipertemukan. Insyallah tiga bulan lagi”. Hmmm…karena pernyataannya itu aku menghadirkan senyum fikir untuk Ti.

Keyakinannya sungguh besar terhadap ketentuan dan jaji-Nya.  Banyak memang yang memiliki keyakinan semacam itu, termasuk saya. Tetapi untuk mengestimasikan kapan hal tersebut akan mewujud, tak semua orang atau tepatnya seorang perempuan berani memberi atau menyebutkan waktu kapan penantiannya akan berakhir dan mendapatkan jawaban-Nya. Keyakinan dan fikiran positifnya sanggup melampaui  hal-hal nyata yang sedang dihadapinya, termasuk belum adanya sebuah nama yang menunjuk ke hatinya.  Seperti ia tak terlalu memikirkannya, yang justru sangat tampak padaku adalah keyakinan dan fikiran positi terhadap-Nya.

Semoga saja semesta alam juga Tuhan tentu, mendegar dan mengabulkan i’tikad baik: niatnya untuk beribadah kepada-Nya. Berharap sekitar  90 hari Ti benar-benar menikah pada waktu yang telah diinginkan dan diyakininya. Allah, Ningrum juga mau dan tak menolak jika diberi;dijodohkan dengan yang baik:terbaik *ngarep*🙂

Hari yang penuh dengan keyakinan seorang perempuan.
Salam


Responses

  1. Cahya, terimakasih🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: