Oleh: Ningrum | 16 April 2011

Be a Good Listener?

Suka dan duka itu seperti mata uang dalam setiap aktivitas, tidak terkecuali pada saat menjadi  personal debt collector (PDC), lho kok pake personal? ya karena PDC ini tidak mewakili lembaga atau sebuah perusahaan finansial, hanya utusan yang menjembatani seseorang untuk seseorang.  Oh iya, walau hanya dalam ke-tentatif-an waktu, jika ada kesempatan dan hanya pada saat diperlukan, aktivitas ini juga menjadi hal yang bisa menyenangkan juga menyebalkan. Senang, ketika sebuah usaha mendapatkan hasil yang diinginkan atau sesuai tujuan dan sebaliknya.

Seringkali PDC juga berprofesi sebagai story Collector; SC. Karena tak jarang sang debitur mengungkapkan permasalahannya ataupun berbagi cerita tentang persoalan-persoalan hidup yang sedang dihadapainya. Saya tahu tujuaannya, mereka mengharap sebuah pemakluman atau pelonggaran waktu cicilan atau kewajiban yang harus dibayarkan pada saat itu. Saya bisa tak perduli dengan karangan cerita, mampu enggan mendengarkan rupa-rupa alasan ketika cerita atau alasan tersebut saya nilai mengada-ada, ketika keluhannya sama dengan  waktu sebelumnya. Jalannya adalah langsung saya cut dan mengulangi maksud saya. Tapi, adalah sebuah kesulitan untuk saya memaksa yang bersangkutan untuk membayar pada hari itu juga. Ditambah bahwa para debitur  yang kenal dengan pemilik uang, mereka sudah punya frame bahwa sang pemilik uang punya kepribadian yang baik dan sangat sabar. Jadi ini menambah hambatan saya, lho kog??

Ada juga yang aneh beberapa waktu lalu, saya baru duduk sejenak, menanyakan kabar debitur. Ia langsung berkata “Sudah mbak, nggak usah ngomong apa-apa, saya tahu maksud kedatangan mbak kesini, tapi untuk saat ini saya  bisa bla… bla…”. Lho ini yang seharusnya bertindak tegas siapa? kok dia yang begitu, kan seharusnya saya. Selang waktu dua hari saya diutus untuk mengunjunginya lagi dan saat itu saya yang minta didengar. Dalam hati saya “gantian mendengar dong bu dan gantian memaklumi karena sudah diberi waktu beberapa bulan”.

Repot memang, ketika saat menagih melibatkan hati dan perasaan. Tapi dari sana juga saya bisa mendapatkan atau bermpati terhadap kesulitan hidup orang lain. Beberapa dari mereka  bercerita tentang kehidupan pribadinya, masalah keluarga: anak, suami dsb.

Ada salah satu yang sangat mendatangkan pemakluman saya terhadapnya. Seorang perempuan muda, 22 tahun,  tidak punya pekerjaan tetap, membiayai-membantu satu adik laki-laki yang masih kuliah, memliki tiga anak dari dua ayah:satu telah bercerai dan satunya sedang berkonflik dan. Kondisinya cukup berbeda dengan bulan Januari 2011. Pada bulan April, perempuan muda itu tampak punya beban berat,  tak terlalu terawat seperti sebelumnya, jauh lebih kurus dari Januari dan  terpaksa menyusui, mengurangi pengkonsumsian susu formula bayinya yang masih berumur 4 bulan yang lahir ketika kakak keduanya belum mencapai umur satu tahun.

Hmm…bolehlah, umurnya 8 tahun lebih muda dari saya, tetapi pengalaman hidup soal pahitnya berumah tangga tentu lebih banyak dia. Ia memilih untuk merahasiakan semua permasalahan dari orang tuanya. Ia tidak mau orang tuanya juga susah, ia juga mengusahakan adik laki-lakinya harus selesai kuliah bagaimana caranya,  mereka semua tahunya ia  enak, punya uang dan tidak sedang bermasalah dengan suaminya yang ia sebut sebagai “siluman”.  Lalu, banyak hal yang ia ceritakan kepada saya, sampai saya menyimpulkan merana benar hidupnya. Diakhir pembicaraan, selain dia meminta tangguhan waktu, dia juga memberi pesan kepada saya “Jangan berkeluarga, jika belum  benar-benar siap. Lebih enak masih sendiri mbak daripada berkeluarga tapi begini”.

Kata-katanya saya catat dalam ingatan, semoga saja apa yang telah dan sedang ia alami tak akan terjadi pada saya dikemudian hari.  Karena pria yang akan menjadi pendamping dan ayah dari anak-anak  saya adalah pria yang bertanggungjawab dan baik hati. Siapa ya?🙂

Salam


Responses

  1. Cahya, terimakasih ya, sudah mau meninggalkan jejak suka🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: