Oleh: Ningrum | 18 April 2011

“Memulung” Pengalaman Penulis (Novelis)

Senang sekali rasanya Minggu, 17 April 2011, pukul 20.00 menonton program acara  JustAlvin di Metro TV bertema “Ketika Lelaki Bercerita”. Karena tampak menarik menjadikan saya ingin menyimak obrolan Alvin Adam dengan para  bintang tamu, diantaranya Andrei Aksana, Hilman Hariwijaya, Moammar  Emka dan Ahmad Fuadi.  Dari hasil perbincangan  kemarin malam, ternyata para penulis memiliki cara yang berbeda beda dalam mencari, mengumpulkan inspirasi atau ide. Bahkan bagaimana cara  mereka berkarya pun berbeda-beda. Termasuk cara pandang mereka terhadap  profesi yang mereka sandang sendiri, yakni sebagai seorang penulis.

Pertama, Ahmad Fuadi (AF), penulis Novel Religi Negeri Lima Menara yang sudah 10 kali cetak hingga mencapai 170.000 mengatakan bahwa, karena ia adalah seorang wartawan (punya basic wartawan) jadi ia bisa  dan terbiasa menulis  kapan saja dimana saja. Karena kalau seorang wartawan mengikuti mood untuk menulis  maka bisa tidak ada berita. Seperti halnya berita, tulisan atau novelnya berdasarkan kisah nyata yang diambil dari kumpulan diary-nya,  surat-surat AF yang dikirimkan untuk ibunya yang ternyata tanpa sepengetahuannya dikumpulkan atau diarsipkan oleh ibunya. Lalu oleh ibunya pula surat-surat AF dikembalikan kepada AF. Selain itu  orang lain pun bisa menjadi inspirasinya. “Ini semua bisa saya jadikan bahan tulisan” kata dia.

Ketika ditanya Alvin soal profesi penulis apakah menjadi pilihannya? AF menjawab, sebenarnya niat awal pembuatan novel (Trilogi 5 Menara) adalah sharing soal bagaimana  berbagi soal kondisi pesantren dengan pengemassan pop, setelah berbagi baru menyoal bunus; profesi. Yah, berbagi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain dengan menulis.  Ternyata hasil dari menulis itu banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya saja terbentuknya Yayasan Negeri 5 Menara yang bergerak di bidang pendidikan geratis. Ia berpesan, biar seorang penulis tidak tidak stress,  maka niat membuat karya itu adalah untuk berbagi. Info lebih lengkap tentang AF klik saja di sini:

Kedua, Moammar Emka (ME), novelis yang juga punya pengalaman menjadi wartawan ini juga   menjadikan kejadian nyata memenuhi novelnya. Hingga katanya semua yang ada di karya-karyanya, seperti salah satunya Jakarta Underconer yang sudah cetak 55 kali itu  semua real dan apa adanya. Tentu dengan melakukan observasi terhadap lingkungan;nongkrong sembari nulis di mall, observasi ke teman bahkan observasi terhadap perasaan sendiri.  “Penulis bertanggungjawab terhadap apa yang ditulisnya” kata dia.   ME pun mengaku, lebih memilih  tema yang ngepop dan melekat pada trend kekinian.  Hal tersebut bagian dari strateginya, mulai dari judul juga pacaging;cover  semuanya dibuat  tidak berat tapi se-simpel mungkin, hingga jika anak SMA ada yang membaca dapat mengerti dengan mudah.

Ia juga menyoal penulis sebagai profesi. Menurutnya, masa depan penulis itu sangat menjanjikan.  Bahkan dia mengsulkan perubahan atau penambahan jenis pekerjaan yang tercantum pada KTP. Contoh, Pekerjaan: writer, author  atau penulis. Lalu, jangan dibayangkan bahwa menulis itu perkerjaan yang susah dan berat. Sebenarnya menulis itu pekerjaan sederhana dan semuanya dimulai dari hobi: presenter, peternak lele, perajut. Semuanya bisa mulai dari hobi masing-masing. Jika bisa membuat buku ang bagus, royaltinya lumayan, misalnya 10%, jika harga buku Rp.20 ribu misalnya, berarti penulis dapat Rp.2000, nah jika laku 10 ribu eksemplar tinggal dikalikan saja. Dan untuk pembayaran royalti itu bisa diatur dan sesuai dengan kesepakatan antara penulis dan penerbit, mau diambil atau diberikan perbulan, pertiga bulan atau perenam bulan. Soal Moammar klik  ini

Ketiga, Andrei Aksana bertutur, banyak penulis itu sesungguhnya  berkpribadian  introvert, di novel atau buku saja mereka beerani mengungkapkan. Padahal itu tidak lebih dari pelarian seorang penulis terhadap sesuatu yang tidak bisa dimiliki secarar nyata.  Melainkan  hal-hal tersebut bisa dimiliki pada saat menulis. Karena pada saat itulah penulis bebas mengekspresikan  semuannya  dan bisa memiliki semuannya dalam tulisan atau buku.  Lalu, dengan itu pula manusia bisa lebih bijak dan berpengetahuan.

Untuk bisa menghasilkan sebuah karya ia merlukan waktu khusus dan  tidak disembarang waktu ia bisa menulis. Waktu yang tepat untuknya  menulis adalah malam sebelum tidur yang juga menjadi  golden time-nya. Ia harus menyendiri, melupakan pacar, melupakan orang-orang yang disayangi dan melupakan semua. Karena menurutnya,  ketika menulis  seseorang penulis haruslah konsisten terhadap waktu (kosentrasi), juga komitmen terhadap  peran yang ditulisnya. “Royalti untuk penulis itu kecul, maka dari itu saya salut dengan orang yang memilih berprofesi menjadi penulis” kata dia. Klik about Andrei

Keempat,  Hilman Hariwijaya,  berbagi soal bagaimana sebuah karya itu menjadi.  Ia adalah penulis novel Lupus dengan banyak versi juga penulis  skenario dari sinetron Cinta Fitri (Season 1 – Season 3) dan lainnya. Menurutnya, ia menulis berdasarkan  apa yang ia lihat, begitupun pada saat ia menulis Lupus. Seringkali ia mendapatkan ide  dari hasil ngumpul-ngumpul dan nongkrong, ketika ada yang nyeletuk lucu, segera ia catat dan  menjadi ide. Namun untuk  membuat sebuah tulisan ia membutuhkan tempat sendiri dan  dan ketika menulis ya harus kosentrasi “tidak bisa ditempat ramai” katanya.  Ada satu hal yangyang masih menjadi sebuah pemikiran adalah bagaimana menghasilkan sebuah karya seperti world disney  yang tetap bisa dinikmati di generassi-generasi berikutnya. Silahkan yang ingin mengetahui siapa  Himan Wijaya klik ini: satu , dua

——————————

Oh iya karya keempat penulis (novelis) yang pernah best seller  ini mampu menarik minat produser film lho. Tiga diantaranya sudah difilmkan. Kalau Negeri 5 menara masih dalam proses. Kata AF si, nanti akan ada casting untuk calon pemainnya;pemeran film, ditunggu ya🙂


Responses

  1. terimakasih cahya🙂

  2. kalau pengalaman kita banyak tentang cinta, apakah dianggap picisan??

  3. Semua pengalaman itu bernilai, baik pengalaman manis atau pahit, tantang cinta atau bukan. Sering dengar ini: “Pengalaman adalah guru terbaik”, ada pelajaran berharga dari sana. Picisan atau tidaknya, ya gimana ya?.

    Tapi jika hal itu dituangkan dalam sebuah karya hingga menjadi isu bersama atau keseragaman untuk komersialilsai seperti yang saya tulis disini: https://perempuannya.wordpress.com/2008/09/20/novel-novel-islami-itu-monoton/, ya bisa jadi berkesan picisan. Tapi kalau pengalaman cinta mbak punya sudut pandang yang bisa dimunculkan dengan warna berbeda, bisa jadi ya menarik juga. (maaf ya mbak jawabnya agak panjang)🙂

  4. Betul.. Betul.. Aku setuju..:D

    Semua karya itu menarik, ga ada yang picisan, karena setiap orang pasti punya selera dan sudut pandang masing-masing… ^__^

    Oh, ya.. Kalo mau baca-baca novel gratis, mampir2 yuk ke blog-ku..!😉

    http://nayacorath.wordpress.com

  5. @mbak naya
    terimakasih persetujuannya😀
    oke deh saya segera meluncur ke blognya mbak🙂

  6. Orang-orang hebat. Sangat menginspirasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: