Oleh: Ningrum | 21 April 2011

Perempuan dan Sistem

Sebuah kesadaran dan kemengertian itu  juga memiliki perjalanan dan petualangannya sendiri. Ia bisa berpindah dan berubah dari kesadaran dan kemegertian satu ke terjagaan dan kepahaman yang lain. Perpindahan dan perubahan keduannya tentu saja dipengaruhi oleh kondisi internal (pribadi  dan cara berfikir yang bersangkutan) juga oleh faktor eksternal (lingkungan dan pemikiran-pemikiran yang disetujui atau ditentangnya).

Jujur saja, ada pergolakan dalam diri atas kenyataan yang tergambarkan dimasyarakat dengan  keperempuanan yang saya miliki (tepatnya dianugerahi) entah itu kecil sedang atau besar, tampak atau tidak tampak. Bukan ingin menjadi laki-laki, hanya begitu sangat ingin berbeda dengan perempuan kebanyakan.  Dalam hal ini menjadi perempuan yang tak umum. Perempuan yang tetap perempuan dengan kekhususan sendiri.  Perempuan yang sadar dengan apa yang sesungguhnya terjadi dengan “wajah” atau “tempat” para perempuan umumnya. Ya,  ingin bergeser  dan menggeser stereotipe perempuan yang sudah berabad-abad terlanjur dilekatkan sebagai second human atau mahluk pelengkap.

Ya, dalam pergaulan sosial pun saya bisa melihat dan merasakan itu.  Ada semacam ketakpercayaan terhadap kemampuan perempuan,  ada sebuah sistem yang  “njomplang”,  ada dua hal;kewajiban yang musti diselesaikan perempuan: persoalan domestik dan sosial  (pembuktian akan eksistensi perempuan di luar rumah).  Diri pun mencoba melihat  semua  permasalahan  dengan objektif. Mencari tahu sebab terjadi dan melanggengnya. Mencoba meretas dan mengurai ini. Mengamati  sistem sosial dengan tak menyalahkan laki-laki,  juga tak memojokkan perempuan yang memang  tampak banyak disudutkan.

Jadi, ingat pengalaman pribadi ketika menerima kata-kata sinis, menohok juga ancaman dari para lelaki. Misalnya “Awas, kamu tu perempuan gak usah ikut-ikut”.  “Huh, kalau bukan perempuan aja, pasti saya ******g” dan juga pemberian bargain position yang “remeh”. Juga perlakuan yang tidak baik dari pria yang kurang tahu bagaimana memperlakukan perempuan yang sama-sama manusia.  Perempuan ingin dipuja puji? Tidak juga, hanya ingin membuka kesadaran bersama bahwa perempuan adalah dan bisa menjadi patner bukan bemper.

Lalu bagaimana cara bergeser dari “patok” itu?.  Salah satu jawabannya adalah bergabung bersama sistem.  Menggunakan sistem atau kelembagaan sebagai media untuk menciptakan sebuah keterwujudan cita-cita; bergeser dan dan mencabut “patok” itu. Beruntung,  jika dari sebuah sistem, perempuan bisa membuat kebijakan bagi perempuan banyak di negeri ini. Kebijakan yang tentu akan berpihak terhadap pencerahan para perempuan. Hingga bisa menyebarluaskan kesadaran dan memfasilitasi  semangat maju untuk membuka pengetahuan diri. Tujuannya agar nanti anak-anak perempuan dan laki-laki yang dilahirkannya bisa  tumbuh dan berkembang dengan cakrawala yang luas. Hingga bisa menjadi manusia yang bijaksana dalam berfikir juga bertindak. Juga ingat;dekat dengan Tuhan tentu.

Beruntunglah,  jika hasrat perempuan  itu mendapatkan jalannya. Saya pun kembali ingat pada saat  belajar “berjalan”.  Kawan-kawan secara  sukarela  membantu dan memberi kepercayaan kepada diri untuk mengekspresikan ide dan meningkatkan potensi diri, terimaksih renaissancer RI:kakak-kakak juga sobat:Amir El Huda. Adanya dukungan bisa membuat diri atau perempuan lain merasa atau tampak sedikit berbeda dengan kawan-kawan seperempuan umumnya dari soal gerak juga seputar apa yang ada difikiran;otak. Jadi,  barangkali kondisi seperti ini yang juga diperlukan perempuan-perempuan lain untuk bisa berkembang. Dimana lingkungan tempat ia berada memberikan dukungan penuh. Tak ada “penjajahan” , tak juga muncul  wajah si superior dan atau si inferior. Semua punya kesempatan untuk membesarkan diri dan yang dikelolanya.

Artinya, jika musti harus berkompetisi dalam sebuah sirkuit;organisasi, tak ada salahnya perempuan diberi kendaraan dengan “CC”:peran penting sama hingga bisa membuktikan seberapa pandai ia melaju dan bisa menjadi pemenang. Tak mudah bagi perempuan mendapatkan ini.  Seorang perempuan yang dianggap punya kompetensi pun tak serta merta bebas melaju. Ia akan dihadapkan pada sebuah sistem yang sudah berkompromi untuk memberi jatah kepada perempuan pada peran yang dinila layak; bidang keperempuanan, bukan orang nomor dua; sekretaris dari ketua umum sebuah cabang organisasi. Dimana posisi tersebut adalah sebuah tempata yang bergengsi dan belum pernah tercatat dalam sejarah  seorang perempuan menjadi sekretaris dalam sebuah organisasi besar kemahasiswaan ang sudah lahir sejak 1947 itu. Untuk hal ini posisi tawar perempuan lemah atau memang sengaja dilemahkan?. Entah.

Lalu, bagaimana perempuan didunia kerja?, Dunia yang lebih nyata daripada dunia kemahasiswaan. Melalui dunia  ini cita-cita itu menemukan alirannya, dekat, sangat dekat dengan sistem: pembuat kebijakan publik. Namun sayang, rupanya nurani selalu tak mau bertahan menerima, justru terus melawan terhadap apa yang tengah dihadapi. Hal ini amat melelahkan melebihi kerja-kerja fisik yang juga dituntut lebih dari umumnya. Merasakan rupa-rupa konspirasi dan barangkali juga kemunafikan atas nama orang banyak. Tak kuat, sampai disini berakhirlah segala rupa semangat dan cita cita untuk menjadi bagian dari pembuat kebijakan publik.

Berhenti di titik lelah. Menyesal? Tidak. Karena dalam sebuah perubahan ataupun perpindahan pola fikir dan fisik (terlepas di dan ke arah mana dan bagaimana-nya) menjadi sesuatu yang selalu ingin disyukuri. Setidak-tidaknya proses itu telah menyumbangkan sebuah pengertian atau sedikit ketahuan terhadap hal yang pernah dicita-citakan. Bagaimana manis dan pahitnya, bagaimana susahnya menggeser “titik” dan pola fikir.

Barangkali tak semua perempuan pernah mencoba meretas dan berfikir soal ini.

Saya yakin, apa yang telah dihadiahkan oleh hidup pasti berarti. Semoga saja kita mengerti akan maksud hidup memberikan segala macam itu dan ini.

“Mengeja” hidup, menselaraskan rasa,  fikir dan gerak demi sebuah pemahaman akan makna. Tak ada pengalaman dan gagasan yang sia-sia. Ini semua anugerah-Nya.

Selamat Hari Perempuan Indonesia yang kalian sebut ini sebagai hari Kartini

Salam


Responses

  1. Itu gambar Kartini aslinya sedang meneteskan air mata. Gambar itu saya ambil dari sebuah buku berbahasa Inggris, tapi lupa apa judulnya😦

  2. @cahya, terimakasih ya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: