Oleh: Ningrum | 25 April 2011

Instrumental

Instrumen(tal); musik tanpa syair dalam banyak waktu atau kesempatan bagi saya lebih bisa dikhayati atau dinikmati daripada sebuah lagu  berirama. Hal tersebut  dirasakan ketika dalam  perjalanan atau bahkan kala sendiri  mendiami  sudut-sudut kesukaan, di meja baca perpustakaan, di sebuah tempat  pada waktu menulis atau sekedar berselancar diinternet. Saat -saat itulah Instrumen sangat bisa menjadi teman, serasa bisa membantu melancarkan mengalirnya ide dan  bisa menenangkan gundah.

Lalu, instrumental yang seperti apa yang bisa membantu daya khayal, membuat tenang dan bisa memperlancar atau setidak-tidaknya meringankan?. Hmm kalau ini ya tergantung ketertarikan kita terhadap jenis instrumentalnya.  Kalau saya menyukai  suara-suara alam dengan sedikit dilengkapi alat musik sebagai tambahan efeknya. Misalnya seperti Caribbean Dreams yang versi  ombaknya lebih terdengar daripada iringan musiknya (bukan yang sebaliknya).  Suara percikan atau aliran air atau sound of natur lainnya yang tentunya harus lebih terdengar mendominasi daripada efek lainnya. Btw, untuk ini saya belum bisa me- recomended (nama albumnya lupa), karena  ini ada di file dokumen instrumental dalam komputer saya yang di 2008 sudah dipindahtangankan kepemilikannya. Sayangnya, saya terlewat  untuk mencopy file itu. Sudah  coba search di my space dengan album yang tercantum Carebbean dream, tapi setelah coba di-play ternyata bukan yang diri maksud.

Jadi selama ini, instrumental alam itu tidak pernah lagi mampir di telinga dan rasa saya.  Hingga diri pun tetap mendengarkan Kitaro yang tema atau judulnya masih seputar alam juga. Seperti , As The Wind Blow. Micin, Win and Water,  Caravansaray dan seterusnya dengan tempo yang tak terlalu nge-beat. Silahkan klik Kitaro is maestro  Selain itu yang juga kerap menemani saya permainan Saxofon-nya Kenny G yang ini, Forever in Love   Endless Love Reasson Piano Version M3,  salah satu pemberian  dari teman sesama penyuka instrumental yang bertemu di perpustakaan UIN di 2010 lalu. Atau bisa juga yang ini permainan piano yang baeberapa diantaranya juga saya suka


Lalu, mendengarkan instrumental  juga bisa mengobati lho. Ya, barangkali ini juga tergantung dengan sensifitas seseorang, kerelaan diri untuk menyatu dengan nada-nada itu dan atau kemauan diri untuk melepaskan semua imajinasi  dan rasa. Ada rasa sangat bersyukur  ketika  teks yang secara makna dan tata bahasa tak terpahami kecuali melalui sebuah bantuan tafsiran dan atau instrumen yang juga tanpa syair bisa menstimulir butiran-butiran bening melintasi  pipi dan meninggalkan jejak pada  permukaan yang dijatuhinya. Ini berharga kawan, seberharga kita punya hati dan rasa juga segala pemberian-Nya.  Ada sejuta rasa disana, kebahagiaan tak terhingga dan atau kesedihan tak terperi.   Dan jika ia telah mengalir maka lepaslah sesuatu  dari kita.  Berikut ini bisa dijadikan refrensi jika mau membacanya: air mata dari prespektif teologis, air mata diteliti dari segi psikologis dan kesehatan

Seperti halnya buku,  instrumen bisa membawa kita  menembus langit demi langit, melintasi banyak benua,  sekaligus menyelam ke dasar lautan yang gelap. Semua bisa dijelajahi  semau imajinasi pergi. Lalu, jika kembali maka ia  akan membawa sebuah kesadaran.

Segala puji bagi Tuhan yang menciptakan segala sesuatu.

Terimakasih Tuhan  *Peluk hangat*


Responses

  1. Beberapa CD Audio saya adalah musik instrumental, tapi sayang, harga CD Audio jenis ini relatif lebih mahal daripada yang berisi lagu-lagu pop, maka saya jarang sekali membelinya (melirik anggaran). Saya suka instrument piano-nya Richard Clayderman🙂.

    • Iya ya kenapa ya kok mahal?, peminatnya kan tidak terlalu banyak (kayaknya si gitu), padahal biasanya barang itu akan mahal jika semakin banyak permintaan.
      RC album yang apa? Wah sy ndak punya itu, burning;copy-in; mauuuu (geratisan) ^_^.
      Btw, kemaren sempet dengerin beberapa, keren!. Apalagi kalo pas piano kolaborasinya sama violin, wush oke banget!😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: