Oleh: Ningrum | 27 April 2011

Ketenangan itu Adalah Refleksi Jiwa

Ketenangan atau kenyamanan itu berasal dari dalam diri dan bisa diciptakan sendiri. Ketenangan tidak datang atau dipengaruhi oleh dan dari luar diri: orang lain atau situasai kondisi. Ketenangan itu adalah hasil dari kepandaian seorang pribadi mengelola  dan mengkondisikan dirinya dari berbagai situasi. Aura atau pancaran ketenangan itu sama halanya dengan aura syukur. Kepositifannya bisa menyebar kepada orang-orang disekelilingnnya tanpa ada hantaran. Ya layaknya cahaya, ketenangan dan syukur itu bisa memancar ke segala permukaan tanpa memilih.

Paragraf diatas adalah sebuah catatan yang saya peroleh dari seekor kucing di sebuah bengkel motor yang juga tampak sebagai dealer mini di Ciputat yang syarat dengan polusi suara dan udara. Ya,  kondisinya berbeda dengan bengkel motor di Jl.AM.Sangaji Yogyakarta yang menyediakan fasilitas ruang ber-AC, bebas asap dengan hot-spot area. Maksudnya, jika lokasinya seperti bengkel kedua, barangkalai sebuah ketenangan adalah menjadi hal yang lumrah. Sebaliknya, ketenangan atau kenyamanan gambaran bengkel pertama adalah hal yang  tampak mustahil.  Jangankan untuk sejenak melepaskan kelelahan atau santai seperti kucing itu, untuk berkomunikasi  face to face saja harus mengeluarkan energi berlebih alias teriak-teriak. Apalagi ketika menerima telfon dari orang lain, tidak akan terdengar. Bisa dibayangkan kan bagaimana gambaran bengkel pertama? Ditambah dengan waktunya, menjelang tengah hari saat matahari bersinar sangat terik dan udara panas. Hmm….cocok.

Lalu, apakah layak ketika yang menjadi sampel ketenangan adalah kucing? Bukankah kita bukan kucing?. Ya bisa-bisa saja, misalnya saja seringkali ada ungkapan: Belajarlah dari lebah, karena lebah  mampu mendatangkan atau memberi  manfaat bagi  orang lain. Belajar dari semut yang seringkali mencontohkan bahwa diantara kita harus tolong menolong; bersedia membantu dan bergotong royong untuk kepentingan orang banyak.  Belajar dari kupu-kupu, untuk menjadi elok;baik dan bisa terbang kesana kemari harus melewati proses atau tahapan dan tentu membutuhkan waktu. Jadi, bukan sebuah kekeliruan jika kita  belajar sebuah ketenangan dari kucing itu.

Bisakah kita seperti kucing itu? Bisa, tapi belum  tentu serta merta bisa tanpa sebuah usaha kan?.  Sulitkah? sulit, tapi bukan berarti tidak bisa kan?.  Artinya memang, sebuah ketenangan itu adalah hasil dari upaya belajar  tenang dan kepandaian mengelola kegaduhan, kebisingan atau hal-hal yang membuat tidak nyaman menjadi sesuatu yang (barangkali) bisa diabaikan dan menjadi hal yang biasa;dibiasakan hingga berbagai godaan tidak akan mempengaruhi ketenangannya. Ia  (yang bersangkutan) tidak lagi bisa “dikuasai” oleh faktor diluar dirinya, melainkan murni ia ciptakan sendiri dari dalam.  Jadi,  saya fikir segala reaksi yang terlihat, sebagian besarnya adalah wujud  lain dari dalam dirinya. Kemudian, jiwa yang tenang tersebut akan terfleksi (secara reflek) mewujud ke dalam prilakunya.

Saya kira, jika ini ada dalam sebuah pribadi manusia maka, ia adalah manusia dengan kemampuan tingkat tinggi.  Baginya tidak lagi berlaku lagi rumus bahwa reaksi (nya) adalah hasil dari sebuah aksi (faktor luar).  Ia tidak lagi membutuhkan stimulus atau aksi dari luar dirinya untuk bisa bereaksi. Artinya, untuk bersikap tenang;penuh ketentraman, dia tidak harus menghadirkan atau menerima stimulus-stimulus yang menenangkan. Kemampuan mentransformasikan sebuah kegaduhan atau hal-hal yang tidak menyenangkan bisa diterima dan dipantulkan kembali dalam sebuah kedamaian. Ini luar biasa, ia bisa menguasai situasi juga mengusai dirinya, benar-benar menjadi “raja” yang bijak bagi seluruh “punggawa” :indra: dirinya  sendiri, juga orang lain. Ya, sekalipun pada suatu kesempatan ia berposisi sebagai hamba (Nya), ia pun akan tetap menjadi seberkas cahaya dalam “pandangan” Nya.  Indah tak terkira….

Salam


Responses

  1. terimakassih ya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: