Oleh: Ningrum | 30 April 2011

Remaja Pemimpi, Pemberani dan Berprestasi

Ni Wayan Mertayani

Ni Wayan Mertayani

Mimpi (cita-cita) dan keterbatasan  memiliki dua potensi: Pertama, berpotensi membuat langkah semakin berat karena, dua hal tersebut kerap mengganggu fikiran, tak jarang juga membuat ruwet karena gapai-gapaiannya yang tinggi namun keterbatasan:kesulitan-kesulitan yang ada pun adalah nyata dan benar adanya, hingga munculah yang disebut hambatan tak terelakkan.  Kedua, dua hal tersebut pun bisa menjadi batu loncatan untuk menjulang dan lalu berada di titik yang lebih tinggi. Nah, hanya orang-orang yang punya energi besar untuk survive-lah yang bisa melakukan ini. Karena  mimpi dan cita-cita yang menyakitkan dan keterbatasan itulah mereka bisa menaiki tangga demi tangga kesuksesan. Tidak semua, tapi akhir-akhir ini banyak juga yang bermunculan.  Saya pun dibuat salut; angkat topi untuk yang bisa survive dalam bercita-cita juga dalam ranah penuh keterbatasan, hingga mampu melewati penderitaan yang dilahirkan oleh mimpi dan keterbatasan itu. Berani bermimpi dan berhasil! wew!
* * *
“Ekonomi saya boleh terbatas, tapi tidak untuk mimpi-mimpi saya” Kata Ni Wayan Mertayani,  seorang pemulung yang menjadi pemenang lomba foto internasional yang diadakan oleh Yayasan Anne Frank di Belanda. Remaja yang berumur 16 tahun  ini bersama empat remaja berpotensi lainnya menjadi bintang tamu di Program Kick Andy Show, Sabtu 29 April 2011. Mereka berkesempatan berbagi cerita soal prestasi tingkat internasionalnya, kisah hidup dan rupa-rupa mimpi mereka.

Merta hidup dalam keprihatinan, sejak berumur 3 tahun ayahnya meninggal dunia. Lalu, untuk membiaya dan bertahan hidup  ia bersama ibunya menjadi pemulung dan penjual makanan ringan. Uang dari usaha itu juga di-budget-kan untuk membayar hutang  (cicilan) bangunan rumah, tepatnya sebuah gubuk di  tepi Pantai Amed, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur. Walaupun “berat”, hari-hari remaja yang suka membaca ini dilaluinya dengan sepenuh hati.  Tak perduli jika pekerjaannya; memulung sempat dijadikan bahan cibiran teman-teman sekolah. Tapi satu hal yang tak bisa ia terima dari perlakuan temannnnya yakni tuduhan mencuri pensil.  “Saya tidak mau harga diri saya diinjak-injak” kata Merta yang mengaku setalah kejadian  itu ia mendatangi rumah temannya tersebut dan membuat sebuah perlawanan.

Lalu suatu hari Merta bertemu dengan Mrs.Dolly Amarhoseija, seorang turis dari Belanda. Ia memberitahukan kepada Marta bahwa ada lomba foto internasional dengan tema “Apa Harapan Terbesarmu” dan ia pun meminjamkan kamera kepada Merta. Dengan kegugupannya, Merta jeprat jepret hingga 15 kali dan didaftarkan Mrs.Dolly untuk mengikuti lomba tersebut. Ternyata, foto yang ke-15 (jepretan terakhir) itulah yang  dipilih sebagai juara  dari 200  foto hasil kaya anak-anak seluruh dunia. Merta menggambarkan dirinya sebagai ayam putih bersama matahari yang diinterpertassikan sebagai harapan. Kata Merta, ayam itu seperti dirinya yang jika hujan kehujanan, jika panas kepanasan juga kedinginan.  Di gubuk yang tak kokoh itu: bocor dengan banyak baskom sebagai penampung hujan yang menembus sela-sela genting, dingin dan tak nyaman itu ia tetap memelihara arapan juga mimpi. “Matahari adalah harapan dan ayam putih itu adalah saya” katanya. (fotonya yang ada di Kick Andy ya, tapi yang saya hadirkan/dapatkan dari sini tanpa ada matahari yang dimaksud, kebetulan saya browsing dapatnya yang ini)

Merta juga  terinspirasi oleh Anne Frank, gadis Yahudi yang bertahun-tahun hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan diri dari tentara Nazi. Dalam persembunyian, Anne menulis dalam buku harian tentang cita-cita yang ingin diraihnya  dan Anne berkeinginan ingin memberitahukan kepada dunia tentang mimpi-mimpinya.  Cerita itu membuat marta tak pernah malu memiliki mimpi dan mengumumkan bahwa “Cita-cita saya adalah menjadi wartawan dan penulis” kata Marta. Tak salah jika ia  juga mengidolakan Andrea Hirata Seman Harun Said yang juga dihadirkan oleh tim Kick Andy sebagai kejutan untuknya. Btw, menurut saya, ia adalah gadis remaja  yang periang, penuh percaya diri dan berani mengekspresikan diri walaupun hanya hidup; tumbuh berkemang dengan ibu yang juga sakit-sakitan. Kisahnya ada di buku “Potret Terindah dari bali” yang diterbitkan Kaifa group penerbit Mizan.

Kisah lain yang juga bisa menginspirasi adalah Acil, 13 tahun asal Batu, Malang, sejak tahun 2008 sudah mengumpulkan banyak prestasi hingga mengantarkan ia ke kejuaraan Football 12 tahun di Afrika  Selatan. Acil juga lahir dalam keluarga yang serba terbatas. Ayahnya, Komang S.hartanto hanyalah seorang  tukang ojek. Beruntung, Acil mendapatkan suport penuh dari orang tuannya untuk menseriusi niat menjadi pemain bola berprestasi.

Begitupun dengan Muhammad Nuh yang akrab dipanggil Abanda asal makasar.  Ia lahir dan besar dalam lingkungan yang syarat dengan kepedihan. Ayah, ibu dan neneknya adalah penderita kusta dan ia sudah mengemis sejak bayi di Jl.Feteran Makasar hingga kelas lima SD.  Ia mengatakan tak ada pilihan selain mengemis, karena jika mau jualan pasti tidak akan ada yang beli karerena keluarganya penderita kusta. Hari-harinnya diisi dengan sekolah, mengemis dan mencuri waktu untuk bermain bola.  Karena dilarang orang tuannya, ia harus diam-diam pergi kelapangan bola atau sekedar melihat latihan bola atau ikut menghantarkan teman latiha di sebuah klub bola.  Hingga pada 2004, saat Abanda mengemis di jalanan  tak sengaja ia bertemu dengan ibu Disha  yang juga kerap melilhat Abanda di sisi lapangan bola. Nah, dari sinilah Abanda  yang bercita-cita memajukan Timnas dengan menjadi pemain yang berkualitas  diangkat sebagai anak asuh ibu Disha. “Ibu Disya yang membiayai sekolah saya” kata Abanda yang sudah dua kali mengikuti kejuaraan sepak bola hingga ke Perancis dan Thailand.

Remaja berprestasi berikutnya adalah Arrival Dwi Santosa (Ival), 13 tahun anak dari Herman Suherman pemilik warung pulsa. Ia bisa membuat anti virus komputer ARTAV hanya dengan belajar secara otodidak dari membaca buku-buku dan mengikuti forum diskusi.  Hal itu berawal dari sini, Ival adalah penggemar game on-line, namun setiap kali main tak pernah menang. lalu ia mencoba mencari  kode Chip game, hingga suatu ketika ia bisa memenangkan game itu dan juga menjual kode-koded chip kepada temannya.  Nah dari sinilah, ketertarikannya terhadap sofware komputer muncul. “Ia memang selalu ingin tahu dan memperhatikan jika komputer sedang diservice” Kata ayahnya. Lalu ia rajin mebaca buku-buku tutorial yang berkaitan dengan itu, kemudia ia coba mencipta dan mengembangkan anti virus dengan menggunakan komputer ayahnya yang sempat rusak matherboad-nya. Ia dibantu Tauffik Aditya Utama, 18 tahun, web disigner dalam membuat logo-logo aplikasi yang ada dalam ARTAV antivirus yang sudah dan masih terus akan disempurnakan. Btw, ARTAV singkatan dari Arrival Taufik Anti Virus.

=================
blog terkaitan silahkan kli ini, Indonesia berprestasi
Foto saya ambil dari sini foto karyani wayan mertayani , btw  foto yang ditampilkan  di Kick Andy  (yang memenangkan perlombaan)  adalah foto yang serupa, namun ada matahari yang bersinar  tepat di tengah dahan yang saling menyilang hampir membentuk  layang-layang. Duh repot ya semoga bisa diimajinasikan. Btw saya, tidak mendapatkan foto yang seperti di program itu.


Responses

  1. Ayo, apa harapanmu untuk masa depan?😀.

  2. Berdaya untuk mencerahkan, menginspirasi dan menguatkan (disadur dari salah satu slogan program tv). Detailnya apa saja sebenernya sudah saya tulis di salah satu blog yang saya kelola🙂.

  3. Merasa malu, karena hingga diumur sy yg sekarang ini masih merasa belum bisa memberikan apapun…:3


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: