Oleh: Ningrum | 2 Mei 2011

Harmonisasi antara Cipta, Rasa, Karya Kitaro dan Alam

Segala sesuatu itu akan mengena sampai ke hati dan berasa “hidup” jika diproses dan dihasilkan oleh qolbu sebagai instrumennya. Termasuk dalam bidang pendidikan: pengajaran  nilai juga dalam  musik sekalipun, khusus untuk kali ini adalah karya-kayanya Kitaro. Musiknya begitu terasa punya jiwa atau ruh, hingga membuat pendengar bisa  “bermain”, membawa diri ke dalam alam mikrokosmos juga alam raya (makrokosmos), lalu akan  menghantarkan pada keluasan dan ke-akbar-an yang tak terhingga.

Kira-kira begitulah yang sering  dirasakan ketika menikmati karyanya yang (ternyata) banyak terinspirasi oleh sajian semesta, tanpa  saya mengetahui biografi atau paham tentang latar belakang atau dari mana sebuah ilham itu berasal yang selalu mengawali proses  kreatif dan inovasinya yang  keren.  Ya, sejauh ini saya hanya menjadi penikmat permainan multiinstrumentalnya, terutama yang diberi judul ke-alam-an.  Hal itu mampu mengabaikan diri dalam mengetahui  siapa  sesungguhnya instrumentalis tersebut,  termasuk latarbelakang kehidupannya.

Lalu, Sabtu, 30 April 2011, pukul 20-00 sampai 21.00 saya baru mengetahui prihal tersebut melalui perbincangan Kitaro dengan Desi Anwar sebagai host dalam program tv Face 2 Face di Metro TV. Acara dengan slogan “Menghadirkan Dunia pada Anda” kemarin malam cukup menarik, hingga saya pun akhirnya tahu kalau hampir semua “proyek” jadinya memang hasil kecerdasannya dalam “mencuri” suara alam yang kemudian dikomunikasikan melalui media rasa:hati hingga menjadi sebuah harmoni dalam melodi. Juga tidak salah jika Kitaro memiliki kata-kata ini “Saya sangat mempercayai telinga saya” karena dengan telinganya pula ia mampu menghantarkan suara itu menuju rasanya.

Menurutnya, musik adalah juga soal emotional,  mengoptimalkan kekuatan emosi, mengikuti energi yang ada dan ini  tidak bisa dimunculkan dari lembaga pendidikan  yang  (banyak) mengandalkan aspek kognitif.  Lalu, ketika Desi bertanya dari mana ia memperoleh ini semua dari sini atau sini (sembari menunjuk kepala;otak dan  dada:hati). Jawaban Kitaro adalah entah dari mana, semuannya seperti mengalir dalam diri dan alam yang memberi intisari baris musik.  Dari pegunungan tinggi tempat ia tinggal kala di Jepang. Juga saat ia tinggal di Ward, di daerah tepi Boulder, Colorado USA. Dari bunyi-gerakan salju yang turun.  Dari hal-hal kecil lainnya.  Bahkan dari daun yang jatuh sekalipun.  Semua dapat menjadi melodi, “Alam adalah guru saya” kata Kitaro yang mengatakan penyuka pegunungan dan harus berada di alam.

Menurutnya, selama ini alam memberi ide-ide, seperti tidak ada yang  menghalangi. Kadang satu hari mencipta satu karya: Heaven and Eart, juga Silk Road  yang menjadi sound track film NHK hingga membuatnya menjadi dikenal di dunia International. Juga bisa dalam satu minggu nihil karya. “Tidak bisa dipaksakan waktunya”. Tapi memang dalam industri musik itu seringkali terjadi karena, berhubungan dengan produksi. Berkaitan dengan ini, hal yang sering ia lakukan adalah meditasi untuk tetap fokus melihat isi hati dan mendengar diri sendiri.

Ketika ditanya apakah karyanya termasuk musik spritual atau tidak, ia pun hanya menjawab ia hanya berusaha mencipta dari dalam hati dan berusaha mengikuti setiap gerakannya.

* * *
Beberapa catatan dan atau hipotesa subjektif saya dengan merujuk pada dialog malam itu:

1. Kitaro adalah sosok yang cerdas, kreatif, inovatif juga penuh inisiatif, sangat menjaga integritas juga originalitas karya. Indikatornya adalah dengan coba-coba memainkan dan belajar berbagai alat musik dan  menolak  mengikuti master:sebutan bagi pemain alat musik  tradisional Jepang.  “Saya suka, tapi saya tidak mau mengikuti permainan master dan saya ingin menciptakan musik sendiri” kata dia.

2.Konsisten dengan kuasa alam. Beberapa kali  ia tetap menjawab lebih menyukai musiknya daripa  jenis-jenis musik lain. Jawaban yang sama setelah beberapa kali Desi mengajukan pertanyaan kepada Kitaro, “Musik apa yang anda suka?”. Lalu ini menghadirkan asumsi saya bahwa, Desi sangat ingin mendengar, tepatnya memancing  Kitaro (dengan  mengajukan pertanyaan yang sama) kepada Kitaro untuk menyebutkan musik apa  yang paling mempengaruhi musik;karyanya.  Kitaro pun tetap dengan ungkapan semula, bahwa ia  lebih sering dan menyukai mendengarkan musiknya sendiri. Lalu berlanjut dengan kalimat “Yang terbaik adalah keheningan, karena ia adalah musik terindah”. Btw, menurut saya, daftar pertanyaan Desi sangat mengena, komplit dan cerdas, secerdas Kitaro menjawab pertanyaan itu.

3.Kitaro mampu mengintegrasikan diri  dan juga berdialog dengan karyanya. Musiknya mampu berdialog?  Ya, karena karyanya juga adalah merupakan representasi dari “bahasa” alam. Lalu dengan kemampuan cipta, rasa dan karsanyalah ia mampu menginterpertasikan; tepatnya menjadi “wakil” alam untuk menjadi perpanjangan rasa alam.  Hingga kemudian keduanya (alam dan Kitaro) bisa saling mempengaruhi dan memberikan efek positif.  Hipotesa ini saya hadirkan dari ungkapan Kitaro bahwa, “Musik bisa menyembuhkan banyak orang, tapi tak semua orang bisa disembuhkan oleh musik. Musik bisa menyembuhkan ketika orang tersebut fikirannya terbuka. Sebaliknya, musik takkan mampu menyembuhkan jika, orang yang itu tidak terbuka fikirannya”.  Jawaban ini pun muncul dari catatan pertanyaan kece-nya host.

4. Memiliki kecerdasan berkomunikasi dengan alam juga  berbanding  lurus dengan  kemampuannya mendengar isi fikiran orang lain, dalam hal ini musik atau nada-nada  yang juga merupakan representai dari bahasa fikiran dari masing-masing personal.  Kaitannya dengan ini,  kebetulan  Kitaro bekerja dengan tim, maka bisa dipastikan mereka memiliki kebedaan dalam  tugas memainkan alat musik, kepemilikan ide, juga kemampuan mencipta sebuah melodi  tentu. Ia mengungkapkan bahwa, awalnya agak susah karena, menyamakan perbedaan punya kesulitan, begitupun dengan penggabungan perbedaan (nada) hingga menjadi enak didengar. Kendala ini mereka pecahkan dengan berusaha saling melatih mendengar. Hingga akhirnya mereka menciptakan sebuah harmoni hanya dengan kemampuan mendengarkan gabungan dari  kreatifitas masing-masing, “Kami seperti bicara lewat nada” kata Kitaro.

5. Kitaro adalah pekerja keras, sesuai dengan karakter  dan budaya orang-orang Jepang.  Ia memiliki pesan untuk pemirsa “Jangan menyerah dan tetaplah bekerja”

* * *

Tempointeraktif.com

Foto; Tempointeraktif.com

Sedikit tentang Kitaro :

Kitaro  adalah sebutan yang diberikan kawan-kawan untuknya. Kitaro itu memiliki arti laki-laki yang penuh kebahagiaan dan cinta. Sedangkan nama sebenarnya Takahashi Masonari yang  lahir  4 Februari 1953 di Toyohashi, Prefektur Aichi, Jepang .   Sebelum usiannya 17 tahun, ia tidak tertarik dengan  musik melainkan penyuka badminton, rajin bermain cabang olahraga tersebut dan sempat bercita-cita menjadi pemain profesional;atlet.  Ia adalah seorang anak petani shinto dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal dengan disiplin ilmu seni musik.
Sejarah kecintaannya bermain alat musik hingga menjadi seorang maestro berawal dari runtuhnya pertahanan penolakannya terhadap beberapa kali ajakan teman untuk sekedar melihat permainan alat musik. Hingga akhirnya ia mau mencoba menyaksikan salah satu grup yang sedang latihan musik. Dari sanalah ia kemudian juga menerima ajakan untuk mencoba gitar yang untuk kali pertama ia mainkan. “Ternyata mengasikkan” katanya. Lalu, ia bergabung dengan Albatross dan terus belajar hingga bisa.  Kemampuannya bermain alat musik lain seperti gitar, gitar bass, drums, piano, keyboards, celo, biola, suling, perkusi dan harpa adalah juga berkat bermula mencoba menggantikan teman satu grup yang berhalangan hadir karena sakit.

Intinya adalah ia mau dan belajar menguasai semua jenis alat musik. Hingga akhirnya ia juga bisa memainkan synthesizer  melalui  pemusik Jerman (salah satu pendiri Klaus Schulze), tepatnya pada saat  Kitaro bersama grup keduanya Far East Family Band berkeliling dunia. Btw, dia juga bisa bermain angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat. Barangkali itu ia pelajari pada saat  menggelar pertunjukkan pertamanya di Indonesia pada 1993. Di 2001 melalui album Thinking of You menghantarkan ia ke  puncak kegemilangan engan memperoleh  Grammy  Award.  Informasi lainnya silahkan search wikipedia untuk mengetahui  berbagai penghargaan atas prestasi yang berhasil ia raih, karya-karyanya, juga  debut solo pertamanya dalam bermusik, yang  pernah ia sebut new age dan di acara itu, Sabtu 30 April 2011 musiknya ia sebut sebagai neoklasik.

* * *

Lintas Berita yang juga potongan visualisasi yang menjadi bagian dari acaraFace 2 Face:
Setelah 18 tahun yang lalu untuk kali kedua, 7 April 2011, Kitaro bertandang ke Indonesia dalam rangka The Silk Road World Tour 2011 di Jakarta Convention Centre, Kemayoran, Jakarta Pusat. Dan dalam rangkaian acara itu Kitaro besama Istrinya Keiko Matsubara bersua dengan mahasiswa UI di Auditorium Gedung IX, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Depok. Saat itu  Kitaro menyaksikan dan sangat mengapresiasi karyanya dimainkan  dengan alat musik tradisional Kolintang. Ia mendekati pemain dan tampak menikmati harmonisasi kolintang. Dikesempatan itu pula ia menunjukan kebolehannya dengan menggunakan piano dan memainkan satu judul.


Responses

  1. Saya juga nonton acara Face2Face itu, tapi karena sambil mendengarkan audio book jadi cuma keambil beberapa bagian wawancara secara acak. Tapi saya suka dengan jawaban-jawaban Kitaro yang notebene polos dengan sendirinya🙂.

  2. Keren lah, ya Kitaronya, ya Desi; hostnya, saya suka dengan program tv yang begini. Hee apa karena saya yang suka Kitaro ya, jadi otomatis senang dengan dialog malam itu🙂.
    Ia bicara dengan kecerdasan musikalitasnya, ya begitulah memang adanya ia mengkreasi karya-karyanya (pendapat subjektif saya). Hingga meski diberikan pertanyaan yang serupa dalam beberapa jeda. Jawabannya akan tetap sama seperti jawaban yang ia lontarkan kali pertama. Semua dilakukan dan dijawab dengan dan dari hati saya kira🙂

  3. karya-karya Kitaro memang menusuk sukma*halah*XD

    salam kenal, mba….^^

  4. Beeuh sampai menusuk segala🙂
    Keren lah pokoknya, rasanya bisa larut *_*

  5. Betul, mba….^_^

  6. ooo Kitaro… suka banget

  7. Karya seorang Kitaro yg dituangkan dalam alunan alat musik nan penuh energi,imajinasi dan siklus keheningan yg penuh inspirasi jenius.
    Salah satu gaya permainan Taiko ketika sentuhan stick pada kulit Bedug yg iramanya begitu mempersona saat melintasi selaput indera pendengaran kita.

  8. Keren deh pokoknya karya-karyanya kitaro tu, karena bukan hanya sekedar mengandalkan kecerdasan musikalitas, tapi jugamenyertakan hati (rasa) jadi ya hasilnya cakep banget🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: