Oleh: Ningrum | 8 Mei 2011

Tiga Hari Dua Malam

Bukan dokumentasi pribadi

Bukan dokumentasi pribadi

Perbedaan dalam hal kepercayaan atau keyakinan  adalah sesuatu yang  sulit untuk ditiadakan. Tidak dimunculkan pun akan tetap kentara pada akhirnya. Apalagi jika seperti saya yang memakai jilbab, sangat mudah diidentifikasi  apa kepercayaan saya. Begitupun dengan atribut-atribut  sebagai contoh pakaian  yang dikenakan suster,  pendeta, romo, rahib dan ustadz, benda-benda itu  semua bisa menjadi identitas.

Apakah itu semua akan mengusik  gerak mata yang memandang?.  Saya  kira semua yang dikenakan tidak akan mengganggu orang-orang yang memandang dan berinteraksi  dengannya. Ya,  ketika kita  tidak mempermasalahkannya. Tidak  merasa alergi dengan atribut-atribut itu atau juga  jilbab yang saya kenakan. Ini mengingatkan saya pada kebersamaan diri  dengan Kak Ta, selama tiga hari dua malam, acara tour anggota Koperasi Batik Mataram yang beralamat di antara Jl.Bugisan dan Jl.Kapten Tendean Yogyakarta.  Rute  perjalanan kami adalah Yogyakarta, Surabaya dan Madura.

Keberangkatan dijadwalkan pukul  07.00. Pukul  06.50 saya tiba di tempat yang ditentukan,  di  Jl.Ahmad Dahlan, kawasan  RS.PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Langsung saja mencari bus C seperti yang tertera dalam registrasi peserta tour. Ternyata, hanya tinggal satu bangku yang tersisa. Lalu, duduk, menyapa, berkenalan dan bincang-bincang dengan rekan satu deretan bangku. Perjalanan pun dimulai  pukul 07.13. Lama berbicang sepanjang perjalanan, hingga percakapan kami pun menyentuh ranah kepercayaan  dan keyakinan.

Untuk saya, hampir tidak pernah dalam perkenalan awal mempertanyakan hal-hal tersebut. Selama saya enjoy dengan lawan bicara saya, juga sebaliknya  semuannya ya mengasyikan saja. Saat itu barangkali Kak Ta merasa perlu memberitahukan kepercayaan dan keyakinannya  kepada saya.  Hingga akhirnya ia pun bercerita dan berbagi pengetahuan soal kehidupan beragama keluarganya dan aturan-aturan yang ada dalam kitabnya. Saya senang menjadi pendengar yang baik kala itu. Hasil kesimpulan saya untuk Kak Ta, ia adalah orang yang taat terhadap kepercayaannya, dimana Roma sebagai acuannya. Akhirnya ia pun melontarkan pertanyaan kepada saya soal keberagamaan yang saya pilih. Beberapa diantaranya soal syahadat, jilbab, poligami dan tata cara beribadah.  Lalu saya pun menjawab pertanyaan-pertanyaanya sepanjang perjalanan, juga pertanyaan lainnya.

Perjalanan kami nyaris tanpa henti, kecuali untuk keperluan penumpang  muslim pada saat zuhur tiba yang kemudian dipersilahkan menjamak sholat: taqdim ashar dan terus demikian. Juga pPada saat bus mengisi bahan bakar atau jika ada permintaan penumpang untuk berhenti sejenak bahwa ia memerlukan toilet.  Selepas ashar, panitia membacakan nama-nama peserta dengan nomor  kamar  hotel (Inna Simpang Surabaya) yang sudah dibooking . Ternyata saya dan Kak Ta tidak satu kamar. “Ningrum, saya dengan kamu saja ya, gak mau ah sama yang lain” kata Kak Ta. Akhirnya saya meminta  tolong kepada panitia untuk menukar nama  tersebut. Sepertinya kami berdua merasa nyaman, hingga ia pun enggan jauh-jauh dari saya dan saya pun tak merasa keberatan dengan permintaanya tersebut.

Kami berdua paham sangat berbeda, saya berkiblat ke Ka’bah Mekkah dan Kak Ta patuh pada Vatikan Roma.

Menjelang magrib, kami melintasi  jembatan Suramadu dan menuju ke beberapa galeri batik Madura di Bangkalan, hanya kunjungan sejenak. Lalu menuju hotel Inna Simpang untuk bermalam di sana. Ternyata seharian di perjalanan tadi belum mencukupkan  perbincangan kami soal kepercayaan dan keyakinan kami masing-masing. Setelah kami sampai di hotel  lalu bersih-bersih diri. Kak Ta kembali bertanya soal wujud Tuhan dan Nabi Muhammad. Syapun bertanya soal konsep trinitas ketuahannya yang  belum saya pahami.  Ia  menjawab “Yesus tuhan: Bapa, roh kudus dan anak tuhan. Gimana ya ngejelasinnya, susah kalau tidak percaya;mempercayainya” Kata kak Ta.

Karena lelah dan kantuk sudah menyergap, lalu  kami mengambil tempat masing-masing untuk merebahkan diri. Saya ranjang dekat jendela, Kak Ta memilih ranjang  dekat pintu. “Kalau nanti bangun jam 03.00, bangunkan saya, saya mau berdoa” kata Kak Ta. Dan benar (walaupun tidak tepat) saya terbangun 03.10. Dan lalu kami pun beribadah;  dengan do’a,  tujuan Tuhan dan cara yang berbeda.

Hingga  tour itu berakhir, tiga hari dua malam, kami benar-benar berbeda, dan kami juga begitu sama, sebagai manusia dan kami menikmatinya.

Salam


Responses

  1. terimakasih🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: