Oleh: Ningrum | 10 Mei 2011

Membangun Karakter Lewat Sekolah Alam

Ruang:Kelas Sekolah Alam

Semakin kemari semakin sering mendengar istilah caracter building atau yang juga populer disebut dengan pendidikan karakter. Ini muncul sebagai alternatif dari pendidikan formal yang selama ini dinilai hanya memperhatikan atau mementingkan aspek kognitif (kecerdasan otak) dan terkesan mengabaikan kecerdasan interpersonal.

Kecerdasan interpersonal sebatas yang saya tahu adalah kemampuan seseorang dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Kecerdasan ini bisa disebut juga kecerdasan sosial yang didalamnnya terdapat kemampuan berempati terhadap orang lain, pandai beradaptasi, mengorganisir kelompok yang juga berarti terlatih dalam hal kepemimpinan dan memiliki tanggungjawab yang tinggi. Nah unsur-unsur inilah yang tampak luput dari perhatian pendidikan formal yang selalu mengukur kecerdasan dan prestasi dalam tuangan angka pada raport. Hal tersebutlah yang disinyalir menjadi penyebab menjamurnya prilaku korup, aparat hukum yang mbalelo dan kerusakan-kerusakan lain yang disebabkan oleh kecerdasan manusia: tepatnya sumberdaya manusia dengan karater yang sudah terbentuk sedemikian rupa.

Lalu bagaimana ini? Saya kira sebagian besar kuncinya ada dipendidikan tingkat dasar dan dikeluarga. Jadi untuk membentuk karakter manusia jempolan memang harus sedini mungkin. Ini penting mengingat proses ini juga yang menjadi pondasi. Jika pondasinya lemah; tidak memiliki konsep bagaimana dan mau seperti apa karakter dibentuk, maka ya bisa jadi anak akan tumbuh dan berkembang dengan karakter yang seadannya, apalagi jika ia tumbuh di sekolah yang menyedihkan.

* * *

Bermain Bola Yuuk!

Bermain Bola Yuuk!

Hari gini, berkualitas dan berfasilitas pasti identik dengan mahal, inilah kenyataannya.  Salah satunya sekolah alam (maaf namanya tidak saya sebutkan) di Ciganjur, Jakarta Selatan yang memiliki metode berbeda, menekankan pendidikan;pembentukan karakter dengan tetap memperhatikan perkembangan kognitif.  Btw, beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjunginya. Suasananya menyenangkan memang. Hmm… tapi nanti dulu, perlu tahu berapa biaya yang harus dikeluarkaan untuk bersekolah dengan berbagai aktifitas belajar tapi fun-nya. Untuk  tingkat pra sekolah SPP perbulannya Rp.480, SD Rp.520 dan Sekolah lanjut:SMP berkisar Rp.1 juta. Dengan biaya masuk masing-masing tingkat Rp.11 juta. Saya fikir, ini nominal yang  fantastis untuk mayoritas penduduk negeri ini.

Dengan biaya sejumlah itu, sekolah memang memberikan nuansaya berbeda, Iklim dan fasilitas nya tentu juga berbeda dengan sekolah formal umumnya. Murid tak berseragam, bebas menggunakan pakaian, tak harus bagus. Yang terpenting dengan baju yang mereka kenakan, murid nyaman dan bebas  beraktifitas dan mengekspresikan dirinya.

Untuk tingkat SD (kemarin lalu, objek yang saya lihat kelas 2 SD), setiap anak akan diajarkan menjadi pemimpin dan mereka akan bergiliran mengkoordinir dan merasakan menjadi pemimpin kelompok atau kelasnya. Sangat dibiasakan berdiskusi dan mengungkapkan pendapat. Sudah diajak dan dilatih melakukan observasi ke lapangan, misalnya berkunjung ke sebuah pelabuhan. Setelahnya, murid akan melaporkan observasinya dalam sebuah karya tulis untuk dipresentasikan.

Begitupun dalam bidang ilmu pengetahuan hayati, akan ada kelas menanam sayurang dan berternak; budidaya berbagai macam ikan atau itik dengan menggunakan  sejumlah lahan  yang memang khusus diperuntukkan untuk hal tersebut. Hasilnya pun tetap akan dipresentasikan dalam sebuah karya tulis. Menurut salah satau orang tua, menulis sudah dimulasi sejak kelas 1 SD, menulis bebas (singkat, sederhana) dan tetap memperdengarkan hasil karyanya kepada teman-temannya.

Hingga nanti ia duduk di kelas 5 atau 6 SD sudah diterjunkan di lapangan untuk berkomunikasi dengan pihak luar atau sebuah lembaga publik.  Ya, tentu sebelumnya ada komunikasi antara guru atau orang tua dengan pihak-pihak yang dituju. Hingga pada hari H, anak didik membawa proposal kegiatan  yang dibuat kelompoknya dan kemudian mempresentasikan proposal tersebut.  Pihak-pihak yang dituju selama ini: Telkom, Bank Mandiri, BNI, LSM, perguruan tinggi  juga kedutaan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik  dengan Indonesia.

Bebaskan Imajinasi Berkreasi

Bebaskan Imajinasi Berkreasi

Proposal kegiatan diajukan dalam waktu yang berbeda sesuai waktu pelaksanaan. Diantaranya: Pertama, Out Tracking Fun Adventure untuk siswa SD dilakukan di luar Jakarta tentu, setiap menjelang ujian semester. Begitupun dengan sekolah lanjutan (SMP) nya, outing bisa dilakukan hingga ke Papua, Irian Jaya. Kedua, Market Day, kegiatan ini anaka akan diajarkan bagaimana menjual produknya. Ketiga, Bisnis Gathering,  acara ini lebih besar daripada market day, akan melibatkan orang tua juga pengusaha sukses yang akan menjadi pembicara seorang pengusaha sukses atau motivator bagi anak-anak tentang pengalaman  atau kita-kita jitu menjadi seorang pengusaha. Keempat, Parenting berupa Talk Show yang biasanya diadakan dua kali dalam satu tahun mengawali semester baru. Kelima, Language Fair, dimana setiap kelompok memiliki stan sendiri (sesuai dengan peran negara-negara yang sudah ditentukan oleh guru) dan memberikan sebuah pertunjukan berbahasa inggris. Keenam, Expo Move: Work with Parent, kebetulan tema tahun ini adalah alat transportasi. Jadi setiap anak mendapat tugas membuat sebuah replika alat transportasi dan membuat sebuah tulisan yang berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya kapal  laut atau pesawat, dalam tulisannya akan berandai-andai menjadi nahkoda atau pilot. Semua imajinasinya akan ia tuangkan dalam sebuah deskripsi dalam tulisan. Dan juga akan dipertunjukan di stan sesuai dengan kelompoknya. Dalam hal ini orang tua ikut membantu membuatkan replika dengan menggunakan barang-barang bekas dan juga mengarahkan jalannya tulisan.

Baru-baru ini sekolah alam juga mendirikan bank sampah. Siapa saja boleh menjadi nasabahnya. Bahkan murid sekolah lanjut (SMP) telah berhasil  menggandeng perusahaan besar untuk menjadi salah satu nasabah. Sampah-sampah tersebut kan dikelola oleh sekolahan didaur ulang menjadi sebuah karya lalu dijual hasil dari pengelolaan tersebut akan diberikan kepada  nasabah pada saat  ia meminta kembali. “Setiap setoran atau pengambilan akan ada di pembukuan Bank sampah” Kata ibu A salah satu orang tua murid.

Belajar English di Aula

Persiapan menjelang Language Fair

Hal lain  yang juga ia sukai dari cara sekolah alam ini adalah orang tua juga dilibatkan dalam Lesson Plan. Ide guru yang kreatif di-combain dengan ide-ide dari para orang tua murid yang juga akan mengkomunikassikan hal yang telah menjadi kesepakatan bersama itu kepada anak-anak.  Jadi, orang tua  bersinergi dengan guru dan keduannya saling mendukung dalam mendidik anak anak. “Sebenernya agak repot si, tapi seru juga. Karena ini sekolah kominitas, jadi maju tidaknya ya tergantung kami juga yang menjadi pelaku dalam komunitas itu” Kata ibu A. Lalu apakah anak didik merasa “repot” juga? tentu (dalam konotasi positif) jika ada event atau sedang mengobservasi sesuatu hal.

* * *

Hasil pengamatan saya adalah anak-anak senang berada di sekolah itu.  Kesenangan dan kegembiraan mereka saat belajar seperti kala bermain saja. Serasa belajar adalah bermain dan setiap bermainnya adalah berlajar tentang  nilai-nilai kebersamaan, tanggungjawab, kepemimpinan sekaligus belajar tentang makna sebuah kompetisi.  Tampak oleh saya, semua anak-anak begitu menikmati, tak merasa didekte dan tampak bersuka cita tanpa memiliki beban fikiran dalam proses belajar dan dalam tugas menulis.  Suasana dan metodenya sangat memerdekakan anak-anak. Sekolah yang kretif sekaligus inovatif dalam mengasah kemampuan dan membentuk karakter positif peserta didik. Potensi kecerdasan yang dimiliki anak-anak seperti psikomotorik, kognitif dan afektifnya semua mendapatkan media untuk diasah dan dikembangkan.

Out bond Area

Out bond Area

Hal-hal tersebut diatas adalah merupakankewajiban sebuah lembaga pendidikan atas harga atau biaya pendidikan yang tidak bisa dibilang murah, kecuali untuk orang-orang dengan penghasilan lebih.

Jadi bagaimana ini?  pendidikan yang bagus tapi mahal dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya. Apakah bisa sekolah “biasa” yang syarat dengan gaya konvensionalnya memiliki daya yang sama? Hingga mempunyai kemampuan membentuk karakter manusia yang paripurna.  Hmm..barangkali  sekolah formal yang masih konvensional perlu  mgadopsi metode pembelajaran dan pengajarannya, agar hasilnya menuju serupa.  Dan yang tak kalah penting adalah keperdulian orang tua terhadap pembentukan karakter anak, tetap memberi dan mendampingi anak dengan cara-cara terbaik.

Hanya menuliskan yang sedang ingin ditulis.

Salam


Responses

  1. terimakasih🙂

  2. Software Laporan SPJ BOS 2013 Gratis http://adf.ly/Jk5lL

  3. assalamua’laikum,wr,wb
    Alhamdulillah, segala sesuatu yang berjalan bersama rahmat ALLAh SWT memang selalu diberkahi. Selamat semua sekolah alam yang ada di seluruh penjuru Indonesia, semoga kehadiran sekolah alam bisa meningkakan kesadaran para orang tua dan pendidik akan pentingnya pembentukan karakter anak yang berjiwa kepemimpinan dalam pembelajaran yang fun. Terimakasih blognya dan informasinya. Allhamdulillah, sekolah alam sudah berdiri selama 7 tahun di KOTA JAMBI, telah berdiri dengan Program RUMAH BALITA,TK dan SD, yang masih dalam proses belajar untuk lebih baik lagi. Semoga ALLAh SWT selalu merahmati umatnya yang terus berjuang dijalan-NYA.amin.wassalamua’laikum. Hormat kami SD ALAM AL FATH JAMBI.

  4. Sekolah yang berbasis Sekolah Alam itu memang lebih menyenangkan karena metode pendidikannya yang lebih mengedepankan interpersonal karakter


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: