Oleh: Ningrum | 16 Mei 2011

Antara Mendengar dan Bicara

Postingan agak berantakan, tapi semoga saja pesannya tidak tercecer🙂

Dua aktifitas yang sudah tidak asing lagi. Setiap hari bahkan setiap saat kita lakukan baik ketika saat berdialog dengan diri sendiri ataupun ketika berinteraksi dengan orang lain. Hal yang sangat biasa, hingga karena terlalu menganggap hal itu sebagai yang sangat biasa, maka seringkali kita tak sadar hanya lihai disalah satunya yakni, bicara dan agak (eggan) menjadi pendengar. Pahal jika ditengok kebelakang (saat usia nol tahun:saat dalam rahim) kita lebih dahulu belajar mendengar;merespon dari pada bicara. Tapi mengapa hal itu tidak berpengaruh banyak ya?.

 

Setelah lahir pun menurut saya, kita tidak langsung bisa bicara tapi menagis. Meskipun menagis itu ada melalui perantara pita suara, saya menganggap ini adalah respon dari aktivitas ibu saat mengajaknya untuk keluar dari rahim. Artinya bayi memberikan respon setelah menerima sebuah pesan;aksi komunikator yakni ibu.

Nah, baru setelah itu kita belajar bicara dengan aksentuasi dan artikulasi kata seperti yang diajarkan ibu dan ayah. Itu pun kita masih butuh waktu kan untuk belajar bermacam-macam kosakata dan pengucapannya. Artinya, sebelum bicara ada aktifitas belajar untuk mendengar sebelum itu. Jika demikian, jika dilihat dari lama atau proses kita belajar sudah seharusnya kita lebih pandai mendegar daripada bicara bukan?. Tapi yang terjadi sekarang adalah tampak sebaliknya ya?. Apa jangan-jangan karena sudah merasa pandai bicara jadi malas menjadi pendengar? Weew ego pun ikut berbicara.

Lalu jika demikian apakah yang menjadi pendengar itu lebih “rendah” daripada yang bicara? Dan berlaku sebaliknya? Menurut saya ya tidak juga begitu. Hanya saja barangkali banyak yang merasa “tinggi” ketika ia mampu mendominasi pembicaraan, jadi menyebabkan yang bersangkutan ingin selalu didengar. Tapi tidak selalu ya, tergantung konteks pembicaraannya. Karena bisa terjadi di suatu waktu, yang bersangkutan banyak bicara karena ia sedang senang, bersemangat dan benar-benar ingin berbagi cerita kepada yang lain.

Berbicara itu memerlukan keberanian dan mendengar itu membutuhkan kebijaksanaan diri yang lebih. Berbicara itu banyak didorong oleh keinginan atau ego untuk menunjukkan, sedangkan mendengar adalah sebuah aktivitas yang cenderung menahan ego. Seringkali mendengar itu melatih kita untuk bersabar atas kesukaan atau ketidaksukaan terhadap yang kita dengar. Mendengar itu pun sebuah kebijaksanaan, karena memang elemen mendengar adalah bijak untuk menerima atau tidak hal-hal yang enggan didengar. Intinya adalah mendengar itu lebih memiliki prosentase sabar yang lebih daripada berbicara. Ada toleransi yang tinggi juga di dalamnya.

Saya membahas ini bukan berarti berbicara itu hal yang dilarang ya. Hanya saja terkadang tanpa kita sadari, berbicara yang katanya hak itu ternyata bisa melupakan kita bahwa, kita juga punya kewajiban untuk menjadi pendengar manakala orang lain berbicara. Dan berbicara juga bisa menjadi sebuah kewajiban manakala ada hal bahwa memang harus ada yang diperdengarkan untuk diketahui dan  dibagi. Atau ketika bicaranya tersebut adalah upaya untuk sekedar mengingatkan terhadap hal yang luput atau dilalaikan.

Termasuk mendengar nurani yang juga bisa berbicara.

Lagi-lagi, hanya menulis yang ingin ditulis.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: