Oleh: Ningrum | 17 Mei 2011

Bermula dari Ungu

Saat ini saya sedang gandrung dengan ungu sebagai warna di windows color and appearance, saya juga baru menemukan windows desktop background scenes yang lucu-lucu dan menarik di personalization. Selama ini saya ndak merasa download  tiba-tiba kok ada di dalam sana, aneh!.  Ah barangkali saya yang  tidak teliti ya, jadi ndak tahu kalau ada yang menarik🙂. Btw, jika bicara ungu, saya jadi ingat  simbah (nenek) saya. Beliau tidak suka melihat saya mengenakan mukena (telkung) warna ungu yang kebetulan saya bawa untuk menemani saya di Yogyakarta. Bulek (tante) saya juga berkomentar ketika melihat saya memakainya “Mukeno kok wungu to nok, warna rondo to kuwi”  Artinya, mukena kok ungu to nak, warna janda kan itu?.  Begitu kira-kira kata tante saya.

Kadang saya berfikir, interpertaasi warna juga bagian dari doktrin orang-orang terdahulu yang kebetulan lebih dahulu daripada kita dalam memberikan makna  warna sebagai sebuah tanda. Misalnya ungu;warna janda, malah pernah saya membaca ungu memiliki arti tidak tetap pendirian. Merah berarti seksi atau penuh gairah. Abu-abu;tidak jelas, karena dia tidak putih juga bukan hitam, melainkan percampuran dua warna tersebut. Biru (biru seperti logo partai besar) adalah warna kejujuran;kepercayaan bagi masyarakat barat, sehingga warna ini banyak dipakai dalam logo di dunia perbankan atau lembaga-lembaga resmi. Dan seterusnya juga untuk warna-warna lain.

Jika demikian, tanpa kita sadari, kita seringkali memberikan legalisasi pada makna-makna yang telah  diciptakan. Padahal bisa-bisa saja kan kita keluar dari pemaknaan yang saya bilang terlanjur itu?. Bukankah soal warna juga soal taste atau ketertarikan yang  masuk ke dalam ranah pribadi?. Hingga pink tak selalu bermakna romantis, cinta atau sangat perempuan. Hingga ungu pun tak selalu bermakna kesendirian atau janda, justru sebaliknya ungu itu elegan dan romantis. Juga untuk warna putih, menurut saya putih itu berani dan elegan.  Jadi jangan protes jika calon mempelai dan para pekerja rumah sakit atau kesehatan juga banyak yang menggunakan  warna putih sebagai warna “kebangsaannya”🙂

Soal warna juga sama halnya kita bicara kesinergian juga keindahan. Hal itu seringkali bisa kita dapatkan dan rasakan manakala ada keberadaan warna lain yang menjadi pendamping sebuah warna yang dimaksud. Kita bisa membuat sebuah kesimpulan jika warna A memiliki aura A juga dari pengalaman kita melihat warna B dengan aura dan makna dari B-nya. Perbedaan mereka  menambah beberapa pengetahuan kita akan kebedaan itu sendiri dan akan kemampuan warna mencipta sebuah harmoni. Apapun label makna yang terlanjur sudah dilekatkan pada biru, putih, merah, hijau, ungu, kuning, pink dan seterusnya,  semuanya adalah satu entitas, yakni warna yang  keberadaannya berguna untuk mempercantik semesta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: