Oleh: Ningrum | 19 Mei 2011

Jendela

Melalui jendela bertirai vertikal yang memanjang di hadapanku, melalui sela-sela tirainya yang terbuka, sebuah keluasan itu tetap tertangkap oleh pupil mata yang terlalu kecil jika dibandingkan dengan  hamparan kenyataan di balik kaca jendela. Kelabunya langit sebagai tanda cuaca tak cerah tetap menyapa kemarin sore. Gerimis mampu berbicara melalui jejak basah yang ditinggalkan pada permukaan yang dijatuhinya: jalanan, atap gedung Universitas yang berkubah itu. Deruan mesin bus, motor, angkutan kota yang terpaksa merayap di Jl.Ir.Juanda, gelombang riuhnya tetap terdengar, barangkali karena sudah akrab, tapi ini adalah kedekatan yang sesungguhnya tak kuhendaki, tapi juga tak bisa dihindari. Lalu, horizon yang menyamarkan ketakterbatasan pun terlihat dari balik jendela yang memanjang horizontal pada pandanganku. Dan pada saat itu juga, di ruang tunggu poli gigi Lantai II R.S Syarif Hidayatullah kemarin, muncul secara nyata tentang imajinasi dan rasa dalam ketakterbatasan.

Jendela, meskipun dengan bentuk sederhana dan tak ajaib, bagi kita keberadaan jendela tetap mampu menghadirkan sesuatu yang sifatnya tidak sejajar dengan bentuknya. Melalui jendela, berbagai bentuk kenyataan dan imajinasi  yang “liar” bisa dilahirkannya. Kita akan mendapatkan sesuatu yang “besar” dari luar sana. Bahkan untuk sesaat kita bisa terlupa akan keterkungkungan raga, akan keterbatasan tempat berdiam, juga tak ingat dengan titik di mana kita berdiri. Yang pasti, keluasan yang tertangkap dan terimajinasikan takkan simetris dengan hasil perkalian antara panjang dan lebarnya jendela. Percayalah jauh melebihi itu.

Hingga jika sampai pada kejauhan, ketinggian dan keluasan yang sangat itu, pun dengan mudah akan “jatuh” kembali pada kesadaran bahwa begitu kecil dan kerdilnya diri dibanding keluasan milik Sang Maha itu. Disaat yang sama juga akan muncul suara tentang ketakpantasan membanggakan diri dan ketakpatutan merasa berkuasa penuh akan banyak hal: atas diri, kehendak, rencana dan segala sesuatu yang pernah tertata rapih dalam benak.   Lalu, hati kita pun menjadi sebuah jendela diri, tempat dimana kita melihat diri sendiri.

Dengannya kita  bisa berbahagia, mengharu juga tiba-tiba bisa sangat bersemangat dan optimis. Dan ini pun nyata terjadi, seringkali muncul kehendak dan rasa “indah” terhadap segala alur yang diciptakan-Nya. Dan kuberitahukan bahwa ini melebihi yang tergambarkan, saat-saat semua ini bisa dirasakan pada saat hadir juga masa menjadinya yang begitu mempesona pada rasa.

Ya, melalui sebuah jendela berkaca, jendela hati, juga sepasang jendela raga: pupil beretina, ada banyak hal yang bisa terlihat. Lalu, sempurnannya kerap kali ada ketika imajinasi menemaninya dalam segala keindahan hakiki yang sebenarnya bisa hidup dalam setiap pribadi. Kita pun sadar bahwa kita adalah tetap manusia dan Dia telah sedang dan akan memberikan keberkahan yang indah untuk kita.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: