Oleh: Ningrum | 19 Mei 2011

Perempuan dan Dapur

Jamur kuping bersahabat putren oseng

Pernah mendengar ungkapan ini?: “Setinggi-tingginya perempuan sekolah, akhirnya akan ke dapur juga”. Menurut saya si, dapur tidak ada hubungan secara langsung dengan sekolah apalagi tinggi. Jika dapur dengan perempuan boleh lah, karena hampir semua yang ada di wilayah domestik umumnya adalah memang menjadi tanggungjawab perempuan. Tidak baku si,  tapi berlaku umum. Baiknya memang membuat kesepakatan, dimana keduannya (laki-laki dan perempuan) telah bersepakat berperan dengan pembagian tugasnya masing-masing. Misalnya telah disetujui oleh kedua belah pihak bahwa laki-laki lebih bertanggungjawab terhadap hal-hal yang di luar rumah dan perempuan sebaliknya. Atau bahkan bisa saja semuannya berbagi kesanggupan untuk saling membantu dan jika diperlukan disuatu waktu dapat berperan didua hal tersebut. Ya diatur sajalah.

Kembali kesini, jika ungkapan diatas (baris pertama pada paragraf pertama) muncul pada jaman nenek kita maka, ungkapan tersebut memiliki arti bahwa anak perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena pada akhirnya akan mengurusi dan sibuk di dapur. Dan untuk melakukan semua (di dapur) itu tidak perlu sekolah atau berpendidikan tinggi.

Kacang hijau tanpa santan

Kacang hijau tanpa santan

Tapi jika ungkapan tersebut hadir dimasa sekarang maka, itu bermakna, setinggi-tingginya perempuan sekolah atau berpendidikan, harus bisa memasak dan mengurus segala yang berkaitan dengan dapur. Setuju saya dengan yang ini🙂

Ini bukan berarti pendidikan saya sudah tinggi lho dan  juga terlepas dari saya yang kalau masak hasilnya khas masakan anak kos (diolah dengan dan berbahan sederhana) dari dulu hingga kini, bagi saya dapur itu menyenangkan. Bagaimana tidak, bukankah yang akan kita olah itu juga untuk dikonsumsi diri sendiri juga?. Ada sebuah kepuasan yang tercipta ketika yang kita makan adalah hasil kreasi diri sendiri, yah bagaimanapun hasilnya. Apalagi jika sudah menjadi seorang ibu, ini adalah hal yang menggembirakan ketika buah hati mempercayakan ibunya untuk mengolah makanan yang diinginkannya. Anak akan cukup puas dan tak terbiasa jajan (ingat ketika dulu dimasak-kan oleh ibu).

Susu sapi segar berbusa

Jadi sebenarnya, persoalan dapur itu adalah lebih tepat jika dikaitkan dengan persoalan kesadaran dan kemauan, bukan yang bersekolah tinggi atau rendah, buka sebuah “dosa” juga bagi laki-lai yang mau di dapur . Bisa saja yang tidak berpendidikan juga memiliki kesadaran atau kemauan yang rendah soal ini, atau bisa juga bukan hanya perempuan, juga sebaliknya. Atau bahkan berlaku rendah (kemauannya) pada kelompok-kelompok tersebut. Jadi ya apapun pendidikan anda, dibuat asik sajalah tugas domestik ini, tenang saja, kelelahannya tak seperti lelah pada saat kita memiliki emosi amarah kok. Jadi, jika tidak mendesak atau terpaksa, maka tidak perlu mendelegasikan tugas ini ke orang lain. Bisa-bisa tambah repot lho kalau tidak pernah mau mencoba memasak🙂


Responses

  1. Jadi ingat lagu, “wanita dijajah pria, sejak dulu…”🙂.

    • Whaduh berat bahasannya, jajah menjajah🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: