Oleh: Ningrum | 22 Mei 2011

Tujuh Cakra

Cukup bisa diterima jika sebenarnya setiap pribadi memiliki dan menyimpan energi positif juga negatif. Oleh sebab itu, laku kita bisa terpuji dan menjadi orang yang berbahagia juga berkemungkinan sebaliknya. Lalu, pengetahuan, kesadaran dan juga kemauanlah yang kemudian bisa menjadikan potensi-potensi tersebut sebagian dapat dijadikan penguasa dan pengendali, sebaliknya sebagian lainnya dapat dilemahkan atau dimusnahkan.

Menurut guru spritualnya Aang di film kartun Avatar, Sabtu, 21 Mei 2011 (hehe tidak sengaja nonton, pas mencet tombol remot tv nomor 5, si Aang sedang berdialog dengan gurunya, jadi saya menontonnya dan ternyata dialog mereka berdua cukup punya nilai).  Kata guru “Untuk menyeimbangkan dunia, kita harus bisa menciptakan keseimbangan dan memulai keseimbangan itu dari diri sendiri. Diantaranya dengan membuka pintu-pintu cakra  yang terdapat di dalam diri”. Kemudian sang guru pun memberikan penjelasan tentang 7 cakra yang harus dibuka *jika kurang lengkap penjelasannya silahkan cari refrensi tambahan ya dan silahkan membuat hipotesa sekaligus analisanya* 🙂

Pertama, cakra tanah yang berkaitan dengan pertahanan. Letaknya ada di bawah tubuhmu dan ini tertahan oleh ketakutan-ketakutan. Apa pengalaman yang mengerikan dalam hidupmu Aang?

Kedua, cakra air. Berkaitan dengan kesenangan dan terhalangi oleh kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan. Apa kesalahan terbesar dalam hidupmu yang lalu Aang?. Ang menjawab, bahwa ia telah menyakiti orang-orang dan kabur meninggalkan mereka. “Buang itu dan jangan sampai meracuni dirimu. Jika kau ingin masih menyinari dan menyelamatkan dunia maafkan dirimu” Kata guru.

Ketiga, Cakra Api, letaknya di perut, di sini lah ada kekuatan dan terhalangi oleh rasa malu. “apa yang membuatmu sangat kecewa Aang?. Kau harus menerima dan tidak bisa mengingkarinya. Lalu lupakan.

Keempat, cakra cinta, letaknya di hati dan ia terhalangi oleh kesedihan. “Apa yang menjadikanmu kehilangan luar biasa Aang?. Hilangkan semua kesedihan yang ada di hatimu.  Betapa cinta adalah energi, meskipun ia telah meninggalkan dunia, tapi energinya masih berada di sini.

Kelima, cakra swara. Berkaitan dengan kebenaran dan terhalangi oleh kebohongan. Kau tidak bisa berbohong dan menolak takdir. kau juga harus menerima bahwa kau adalah Avatar.

Keenam, cakra cahaya. Letaknya tepat di atas kepala dan akan terhalagi oleh ilusi-ilusi.

ketujuh, cakra apa ya lupa, kewaspadaan apa ya?😦. Letaknya ada di dalam kepaka: fikiran dan berkaitan dengan masa lalumu, jika berhasil menguasai ini maka, kau akan menjadi pengendali penuh. Bermeditasilah pada yang tertempel (apa-apa yang ada padamu). Fikirkan yang mennyatu denganmu dan lepaskan, lalu biarkan semua mengalir ke sungai. Belajarlah untuk meluppakan.   Ini semua agar energi kosmis menyatu denganmu dan energi asli kosmismu akan mengalir. Jika kau ingin menguasai negeri Avatar, maka kau harus membuka tujuh cakra ini.

* * *

Terkadang kehidupan ini seperti kita berjalan dalam trowongan, gelap, namun ada cahaya di ujung sana, dan kita tetap harus berjalan (Pamannya Zuko)

Teh dan nasehat itu sama baiknya (Pamannya Zuko)


Responses

  1. bagus….

    • betul, seringkali ada dialog yang bagus pas nonton film ini🙂

  2. Kalau diurut seperti itu, berarti yang membuat film Legend of Aang, mengambil dari bawah ke atas.

    Seperti yang pertama dikenal sebagai muladhara, dilambangkan dengan kotak kuning, kalau di film Aang jadi cakra tanah. Berkaitan dengan insting dasar manusia untuk bertahan hidup, seperti respons flight or fight. Karenanya ia bereaksi terhadap tantangan-tantangan yang mengancam hidup, makanya Aang ditanyakan apakah memiliki pengalaman yang menakutkan.

    Hingga yang terakhir dan teratas, cakra mahkota, sahasrasa, yang bermakna kesadaran murni (kesadaran Ilahi), dilambangkan dengan lotus berkelopak seribu. Ini adalah cakra terakhir yang akan terbuka ketika manusia mencapai kesadaran murni menurut doktrin Hindu dan Tibetan Buddhist.

    Cakra sebenarnya juga mempersonifikasikan kesadaran, jika kesadarannya hanya sebatas insting dasar, bertahan hidup, maka yang terbuka hanya cakra dasar. Dan selanjutnya hingga jiwa berevolusi kesadarannya.

    Misalnya pada film Aang, cakra keenam adalah ajna, yang sering dilambangkan sebagai lotus indigo berkelopak dua (melambangkan berakhirnya dualitas) , atau mata ketiga. Mereka yang mencapai kesadaran ajna, sudah tidak terikat oleh yang benar dan salah. Karena dunia hanya sebuah ilusi, sebuah dualitas, makanya Aang diberitahu bahwa keterikatan akan semua ilusi tidak akan membuat cakra ini terbuka.

    Tapi cakra terakhir itu, yang memang tidak bisa diraih. Karena dengan mencapai kesadaran di cakra mahkota, bermakna seseorang mencapai kesadaran Ilahi, dan menjadi Tuhan dengan sendirinya. Kalau dalam Buddhisme, ini dikenal dengan Nibbana, dan dalam catatan sejarahnya, hanya Pangeran Siddharta yang cukup dikenal mencapai kesadaran ini. Dan dalam tradisi Hindu, seluruh avatar memiliki kesadaran ini. Makanya di film Aang, dia harus mencapai tahap ini untuk menjadi avatar sepenuhnya. Kesadaran di mana sedemikian hingga hanya ada lautan cinta kasih, tanpa ada kebencian ataupun permusuhan bisa tumbuh di dalamnya.

    Yah, manusia umumnya tidak akan mencapai kesadaran ini. Karena masih terikat dengan dualitas. Kita bisa dengan mudah membenci orang yang berbeda pandang dengan kita, menyalahkannya dan membenarkan pendapat kita.

    Kalau menilik sejarah lagi, kita bisa melihat banyak hal serupa. Yang menolak Nabi Muhammad SAW di masanya, demikian pula yang menolak Yesus Kristus dan Buddha Gautama pada masanya masing-masing adalah mereka yang mengganggap dirinya benar dalam pandangan beragama atau hubungan antara manusia dan kosmis/Tuhan.

    Kadang membuat saya berpikir, bahwa manusia ini cukup aneh juga, termasuk saya sendiri.

    Wah, maaf kalau jadi kepanjangan.

  3. waah terimakasih, sudah mau menghadirkan keterangan dan beberapa tingkatan cakra. Jika mau menambah atau berbagi dipersilahkan, cukup menarik dan bermanfaat🙂

    Kalau dalam Islam, hal ini juga ada dikhasanah kajian sufistik. Tingkatan-tingkatan tersebut dinamai maqom, ada yang 7 dan ada pula yang 9. Saya si cenderung sependapat dengan yang 9 dalam tasawuf modernya (untuk cara pengejawantahannya). Bagaimana dan apa saja tingkatannya barangkali akan disajikan dalam sebuah postingan saja y, belum janji tapi ya🙂 .

    Btw, ada titik yang mempertemukan antara tradisi hindu, budha dan di kajian sufistik. Diantaranya soal pembersihan diri dari segala sifat-sifat buruk, melepaskan diri dari kefanaan dunia (zuhud) yang dalam cakra disebut ilusi. Ridha menerima qodo dan qodar; ketetapan dan ketentuan, dalam film adalah cakra swara. Juga hingga munculnya hati yang dipenuhi cinta terhadap Tuhan juga sesama manusia.

    Kata-kata ini bisa menjadi refleksi:
    1) “Kita bisa dengan mudah membenci orang yang berbeda pandang dengan kita, menyalahkannya dan membenarkan pendapat kita.
    2) “Kadang membuat saya berpikir, bahwa manusia ini cukup aneh juga, termasuk saya sendiri”.

    Jangankan kita yang berbeda dalam berkepercayaan dan berkeyakinan. Dalam agama saya, yang sama-sama menyakini satu Tuhan dan mengimani kitab yang sama pun banyak friksi, banyak interpertasi. Hingga pemahaman dan prakteknya pun berwarna.

    Dalam perjalanan, ada hal-hal yang kita akui punya nilai baik, bisa diterima logika dan hati;nilai hingga bisa dipelajari sebagai refrensi.

    Namun yang seringkali terjadi: kepercayaan dan keyakinan dalam diri kita terhadap Tuhan dan jalan yang kita pilih selalu akan menarik kita kembali padanya dan masuk dalam “kotak” (kotak saya pinjam dari Jindu K). Anggap saja ketika dalam kotak, ia berada dalam rumah miliknya dan ruang privasinya. Ketika ia masuk kedalamnya kita tidak bisa melarangnya untuk tidak menghuninya atau keluar dari sana. Dan ketika ia keluar inilah waktunya kita berinteraksi dengannya. Sama dan beda punya tempat berenaung dan waktunya masing-masing. Btw, barangkali memang area penerimaan dalam diri kita terhadap yang beda maih kurang luas. Ah entahlah, bicara keanehan memang aneh.

    Maaf ya panjang juga


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: