Oleh: Ningrum | 15 Juni 2011

Bagaimana Nasib Paket?

Tadi pagi saya memiliki janji bertemu dengan pembimbing seskripsi saya dulu pada pukul 10-an pagi. Saya pun membawa serta buku yang sudah rapih dibungkus ke Kota Bandarlampung. Paket tersebut akan saya kirimkan ke alamat Jl.Pabrik Kulit no 25, Belakang Jatim Expo, Wonocolo, Surabaya Selatan. Sebelumnya senin 13 Juni 2011 paket tersebut sudah coba saya kirimkan tapi, tidak terdetect oleh komputer dan daftar manual (foto copy) yang dimiliki oleh kantor pos di desa tempat saya tinggal. Lalu petugas mempertanyakan, alamat tersebut  masuk kabupaten mana? kecamatan apa? kode posnya berapa?.  Dan saya pun menjawab tidak tahu karena memang tidak tahu, hanya  seperti itulah alamat yang diberikan kepada saya. Ingin segera konfirmasi, tapi saya tidak memiliki nomor hape yang bersangkutan, melainkan hanya melalui e-mail.

Melalui e-mail-lah saya mempertanyakan kejelasan alamat kepada yang bersangkutan. Balasannya adalah memang alamat tersebutlah yang selalu ia gunakan untuk berkorespondensi selama ini. Saya menggunakan kata ganti yang bersangkutan dan ia dengan pertimbangan karena memang, ia tidak menunjukkan identitasnya (nama) kepada publik  per-blog-an. Jadi saya pun tidak menyebutkan siapa nama yang bersangkutan dalam postingan kali ini.
* * *
Pagi tadi, “Tunggu di ruang dosen jam 10an” kira-kira begitu pesan ibu Rodyah sebagai jawaban pesan yang saya kirimkan setelah panggilan selular saya tak mendapatkan jawaban dari beliau sekita pukul 07.05 wib.  Jadi setelah mendapatkan kepastian dari sms beliau bahwa bisa ditemui di kampus maka, saya pun bersegera mempersiapkan diri dan hal-hal yang memang diperlukan untuk dibawa serta.  Pukul 08.50 saya melakukan perjalanan Metro-Bandarlampung dengan menggunakan kendaraan bermotor, jarak yang akan ditempuh berkisar 47km dan bisa ditempuh  dalam waktu kurang atau lebih dari 1 jam, tergantung kecepatan dan kondisi jalan, padat atau tidak.

Lalu, sampailah saya di gerbang kampus sekitar pukul 10.13 menit. Melihat kantor pos di seberang gerbang kampus maka, sayapun mampir untuk memaketkan buku. Ternyata petugas sedang menyelesaikan banyak print-an, kertas-kertas  yang  terprint panjang tersebut mirip seperti tagihan rekening telfon atau listrik. Menunggu, dalam hatiku haduh sudah pukul 10.18. Sayapun bertanya kepada petugas yang saya lihat hanya dua orang “Mbak masih lama nggak?”, kalo masih lama nanti saja saya akan kembali.  “Tidak sebentar lagi” kata mbak petugas.

Saya berusaha menunggu lagi, meskipun sangat terburu-buru  ketika itu. Kefikiran waktu, kefikiran dosen.  Bagaimana jika  dosen tersebut sudah menunggu atau bahkan  sudah melakukan aktifitas lain di luar kampus?. Duh, belum tentu besok atau lusa beliau bisa ditemui jika ada hal yang lebih penting daripada menandatangani  surat rekomendasi atas nama beliau untuk kepentingan  seorang Ningrum.

Karena fikiran saya yang sudah kemana-mana dan juga dalam kondisi terburu-buru, saya tak sempat memprotes alias diam saja ketika petugas menuliskan secara manual (dengan bulpoin) resi pengiriman.  Setelah ia menyebutkan biayanya dan menuliskan ke kertas bukti pengriman lalu mengembalikan sejumlah uang kepada saya. Sekitar pukul 10.25 Saya pun segera meninggalkan kantor pos juga dengan tergesa-gesa seraya berharap bahwa dosen yang akan saya temui  masih berada di ruang yang beliau informasikan.

Ternyata, saya pun harus mencari ruang dosen yang beliau maksud, karena memang sudah berubah kondisinya. Jadi saya pun bertanya kepada yang berseragam, ternyata  setelah sesampainya saya di lantai II,  saya tidak mendapati ruang dosen. Area yang ia informasikan adalah ternyata ruang  para ketua Jurusan dan Dekan.  Ke lantai 1 lagi, bertanya kepada mahasiswa. Kata dia  dibawah sana dengan sana yang juga tak jelas. Akhirnya saya pun bertanya pada mbak OG; OB yang sedang ada di pantry. “Bu Rodyah belum datang mbak, ruangannya di Gedung itu lantai 1”.

Syukurlah  dalam hati saya, tak sampai beliau yang menunggu saya.  Barangkali ada  sekitar 25 menit saya menunggu beliau. Datanglah beliau, lalu  ya biasa, berucap salam, dan seperti agak lupa siapa saya. Tapi beliau segera ingat, bahkan bagaimana tindak tanduk saya dulu masih ada dalam memori beliau. Komunikasi sangat cair seperti dengan teman sendiri. Saya pun mendapatkan tandatangan beliau dalam surat rekomendasi, persis seperti tujuan awal. Setelah itu, saya tidak langsung pulang, melainkan mengunjungi beberapa teman, sekedar ingin tahu bagaimana keadaannya sekalian mampir untuk sholat.

Menjelang sore saya pulang, sampai  rumah pukul 17.05. Duduk sejenak dan baru kefikiran keanehan, soal bukti  resi yang mengapa ditulis dengan bulpoin setelah saya menjawab tidak tahu nomer  hape pemilik alamat yang dituju?.  Mengapa bukti pengiriman itu tidak diketik secara on-line lalu di print seperti yang biasa dilakukan petugas pos ya?. Berpengaruh nggak si?. Haduuh,  parah, ini akibat terburu-buru, jadi menyebabkan saya tidak ingat apakah petugas tadi memberikan bukti resi pengiriman kepada saya atau tidak?. Bagaimana saya akan mengecek sampai dimana paket lewat situs resmi pos Indonesia jika saya tida memiliki  kode nomor pengiriman itu?.  Lalu saya pun membongkar tas dan juga map plastik. Tak saya temukan kertas yang saya cari. Justru menemukan bukti pengiriman yang saya lakukan pada 30-05-2011 berkode 11702572160 dengan tujuan tempat yang berbeda. Bagaimana nasib paket ke Wonocolo itu? 😦

Semoga saja bisa sampai dengan keadaan baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: