Oleh: Ningrum | 15 Juni 2011

Wujud Lain Bintang

Pohon Belimbing Sebagai Saksi

Pohon Belimbing Sebagai Saksi

Tak ingat pasti sejak kapan aku mengenal bintang.  Tapi jika mengetahuinya melalui sebuah lagu berjudul Bintang Kecil, maka sejak di Taman Kanak-kanak Darma Wanitalah aku sudah mengenalnya lewat sebuah syair, ada di langit yang biru, si penghias angkasa.

Barangkali memang  aku ditakdirkan untuk bersamanya sejak dulu hingga kini. Belum lama aku sadar bahwa kedekatanku dengan bintang juga sangat intens ketika duduk di Sekolah Dasar (SD), meskipun bintang tersebut  berwujud buah, bernama fruit star atau blimbing. Jika berbuah, hampir setiap hari aku memetik pohon yang sepertinya tak kenal musim. Pohon itu berada di kebun belakang rumah. Buah inilah yang paling sering aku konsumsi bersama mbak;kakak yang jarak lahirnya hanya 2 tahun lebih, jarak lahir paling dekat daripada ketiga kakak kandungku lainnya. Karena faktor umur, maka dengan mbak Mala-lah aku paling sering bersama, termasuk menikmati buah blimbing di atas pohon.

Fruit Star

Fruit Star

Kelas berapa aku juga tidak ingat, tapi ketika itu setiap kali memanjat, aku selalu menggunakan kursi bundar yang tingginya sekitar 80cm untuk mempermudah proses memanjat pohon ke batang utama yang tinggi. Batang ini juga memiliki anak cabang yang lumayan besar beberapa diantaranya, hingga kamipun bisa duduk-duduk di sana. Jika tidak salah ingat, tas plastik kresek adalah benda utama yang kami sertakan, di dalamnya berisi pisau dan garam. Pernah juga membawa es balon juga nasi atau kue untuk dinikmati. Cara benda-benda tersebut bisa sampai di atas adalah dengan mengoper. Siapa yang lebih dahulu berada diatas akan bertugas sebagai penerima segala rupa bekal.  Kami juga pernah  membawa gayung berisi air untuk diamati saat air tersebut ditumpahkan dari ketinggian  ke tanah, imajinasinya adalah air terjun. Terkadang kami menyanyi sesuka hati sembari menikmati hembusan angin yang lebih bisa dirasakan kala berada di ketinggian. Dan ada hal yang paling lucu tapi memalukan jika diceritakan jadi, cukup aku, mbakku, pohon blimbing dan Tuhan saja yang tahu soal ini, hihi pokoknya kurang kerjaan betul.

Waktu itu, pohon blimbing cukup lebat, daunnya juga buahnya. Hingga kamipun  bisa berlindung daripadanya dari sengatan matahari siang dan bisa memilih sesuka hati buah yang termasak dan terbesar bahkan yang teraneh bentuknya; melengkung seperti keong, juga mirip kikil; kulit sapi yang dijual di pasar-pasar.

Pohon belimbing tersebut pernah beberapa kali ditebang, tapi tetap saja tumbuh lagi. Terakhir kemarin, diameter batang induk sudah mencapai sekitar 35cm dan dua batang utama muda yang tumbuh di kanan dan kirinya masing-masing  berdiameter sekitar 15 cm.

Pepaya

Pepaya Organik

Jika ini adalah termasuk dalam kesetiaan bintang menghiasi dan memunculkan tawa juga ketakjuban dalam hari-hariku meskipun mewujud bukan dalam cahaya berbentuk, maka lebih dari belasan tahun ia memang sudah  menemaniku. Hingga dalam usiaku yang sudah digolongkan dewasa, bintang tersebut mewujud pada awan berkerjasama dengan mentari saat perjalananku pulang menuju Jakarta setelah hampir satu tahun tinggal di Jogja.  Mereka seperti berucap kepadaku “Selamat jalan, terimakasih dan untukmu awan bentuk bintang dengan cahaya sang surya di dalam bentukku. Ningrum, tetap dan selalu tersenyumlah untuk dunia”. Benar-benar spechless pagi itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: