Oleh: Ningrum | 22 September 2011

Jodoh

Saya mengucapkan terimakasih kepada yang pernah mempertanyakan status saya, tepatnya dengan pertanyaan: Sudah menikah atau belum? Usianya sekarang berapa? Memang tidak ingin menikah? Lha kapan nikahnya kok malah mengambil aktivitas lain? Tidak cari jodoh saja? Sudah punya pacar mbak?. Hadeh-hadeh dalam beberapa hari ada beberapa orang dengan pertanyaan yang intinya sama. Ada yang membuat saya terkejut karena tanpa ada pengantar sebelumnya, tiba-tiba kok memberi pertanyaan semacam itu, diluar topik perbincangan yang tengah ada saat itu antara saya dengan orang tersebut.

Respon saya adalah memberikan senyum diawal jawaban saya kepada penanya. Lalu baru menjawab pertanyaan yang bisa saya jawab dengan pasti disusul dengan pernyataan ketidaakpastian, biasanya seputar waktu.

Begini gambaran pengalaman saya diranah ini: Diri juga pernah didamba seorang pria dan sayapun sebenarnya menghendakinya, saya sempat “luka” karena pada akhirnya dia lebih memilih perempuan lain yang tentu sesuai dengan kebutuhannya. Diri juga pernah disukai dan diinginkan pria tapi saya tidak memiliki hal yang sama sepertinya. Diri pernah menyukai seorang pria, tapi laki-laki itu tidak menginginkan saya. Sebenarnya bisa saja menikah beberapa tahun lalu, jika mau ketika itu (tanpa memperhatikan hati saya).

Kesimpulan dari hal tersebut diatas adalah belum jodoh. Mau dikejar sampai ke antartika, mau ditangkal dengan menggunakan pawang jodoh (hehehe ada memang?). Kalau memang jodoh ya bertemu, kalau bukan ya bukan. Kalau belum, karena memang belum waktunya. Bukankah masing-masing dari kita diberi anugerah kebahagiaan yang beragam?. Semoga kita pandai dalam mengelola rasa kita terhadap Tuhan. Meminjam bahasa iklan “Kalau semua disyukuri ada aja nikmatnya”.

Lalu apakah saya tidak berfikir dalam hal ini, untuk tidak lagi me-lajang?. Ya kefikiran, siapa perempuan yang tidak menginginkan menjadi istri;ibu, mendampingi anak dalam tumbuh kembangnnya, mendidik anak menjadi anak yg cerdas dan bermanfaat bagi orang lain dan seterusnya. Tapi, haruskah seluruh fikiran saya berisi tentang jodoh agar bisa terlihat memikirkan hal ini? Tidak musti kan?. Haruskah juga gerak saya menunjukkan seperti sedang mencari? Oh no, saya ini perempuan, barangkali jika saya pria akan lain prilakunya.

Jadi bagaimana? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, sudah saya serahkan persoalan ini kepada Tuhan. Btw, Jodoh saya orangnya baik dan bisa menghadirkan keberkahan-Nya *berfikir positif mode on*, pria yang mendamba saya dan begitupun saya terhadapnya, semoga saja.


Responses

  1. Oh ya sekedar ingin mencatat kata seorang profesor kepada kami beberapa hari lalu.
    “Jodoh itu ada pada perbedaan. Kalau sama justru bukan jodoh. Karena hakekat jodoh itu ada pada ketidaksamaan. Misalnya botol dengan tutupnya. Inilah juga alasan mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda”

  2. Jauh amat ngejarnya sampai ke antartika🙂.

  3. ternyata Jodoh adalah rahasia Illahi …

  4. @Cahya
    hehehe iya juga ya, kejauhan permisalannya🙂

    @Desa
    begitu kira-kira🙂

  5. ^^ begitulah kira2 *apaygbegituya*

    salam kenal mbk ^^ *tiba2sajamendapatiblogini* : ) *padahal sejatiny g ada yg tiba2/kebetulan ya …hehe

  6. @Mbak hadra
    ya begitu seperti kata Desa🙂
    salam kenal kembali, senang berkenalan dg mbak dan terimakasih apresiasinya, semoga ada yg bermanfaat dari blog ini🙂

  7. bertemu jodoh saat ini atau esok…benar2 sudah di atur. berbahagialah karena belum dipertmukan dengan jodoh karena berarti kita masih bisa memberikan cinta sepenuhnya pada pihak lain seperti ibu, ayah, kakak, teman…
    Y kan…hihihih🙂

  8. @mbak warnawanita
    tampaknya memang, Tuhan masih memberi tugas ke saya untuk “membagi” perhatian sekaligus memberi kesempatan untuk belajar di “kelas” sabar n syukur. Setelah ini, saya akan naik “kelas”, semoga🙂

  9. menikah dan tidak menikah adalah pilihan..semuanya hendaknya mendapat penghormatan yang tulus..

    http://tipsbisnisuang.wordpress.com/buku-saya/rahasia-surat-hati/

  10. saya mau sedikit berdendang ‘lagunya’-nya Nasida Ria, “Jodoh di Tangan Tuhan”. Ada kata ‘Tangan” meskipun ini kata kiasan, appakah ini memaknai Tuhan sebagai yang ‘personal’? seperti seorang bapak yang yang mencarikan jodoh untuk anaknya? Karena bagi Karen Armstrong bahwa pemahaman Tuhan yang personal, akan mengarah pada sikap Atheis atau tidak Fundamentalis. Tapi ia optimis pada pemahaman Tuhan yg ‘impersonal’ sebagaimana pengalaman kaum mistik bahwa ketuhanan dapat dijumpai dalam pengalaman. Termasuk pengalaman untuk menemukan jodoh. Mencintai Tuhan lewat Perempuan?! salamun alaikum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: