Oleh: Ningrum | 10 Juli 2012

Berharganya Teman

Sepertinya akan banyak yang setuju ketika saya mengatakan bahwa dalam hidup kita butuh teman. Teman berbagi, teman bermain:bersuka ria, teman sharing ide dan pemikiran, juga bahkan teman berbagi rasa. Dari berbagai macam teman itulah, mustahil hidup tanpa teman. Karena teman adalah juga merupakan bagian dalam hidup. Jika dibahasakan secara umum, kita hidup membutuhkan orang lain.

Lalu seberapa kita mebutuhkan mereka? Cukup butuh. Sebuah atau banyak keberartian bisa hadir karena adanya teman. Berbagai makna bisa muncul. Eksistensi diri pun bisa ada karena adanya mereka untuk kita dan kita bagi mereka. Begitupun dengan kehangatan rasa, juga bisa didatangkan oleh keberadaan kita dan meraka (teman) yang merelakan diri untuk berinteraksi secara apa adanya, ikhlas untuk saling membantu dan saling menjaga hati teman agar tak sampai terluka. Dengan demikian, teman atau kawan itu sangat berharga bagi saya.

Hal tersebut tentu sifatnya sangat personal atas dasar subjektivitas rasa dan fikir. Masing-masing memiliki rasa dan rasionalitas yang berbeda menyoal keberhargaan itu. Menurut diri, keberhargaan teman adalah kemampuannya memberikan gambaran nyata seberapa besar ia meletakkan pertemannan dan dirinya menjadi yang berharga sebagai seorang teman. Meminjam bahasa seorang motivator, Mario Teguh “Memantaskan diri”. Ya, menyanggupkan diri untuk memantaskan diri sebagai teman yang berharga bagi temannya. Jika dikonkritkan, laku nyatanya bagaimana?. Apakah harus melakukan hal-hal yang besar? Memberikan pengorbanan sebanyak materi dan juga waktu miliknya? Oh tentu tidak sampai seperti itu, walaupun barangkali ada yang bisa melakukan hal itu.

Keberhargaan ataupun kepantasan itu muncul dengan sendirinya ketika yang bersangkutan mau membantu dikala ketidakbisaan (kebelum mengertian kawan-kawannya tentang sebuah hal). Ketika ia mau berbagi tanpa maksud diberikan hal serupa. Ketika ia mampu berbagi kebahagiaannya dan memunculkan kebahagiaan di kumpulan tersebut. Saat ia bisa setia, setia memberi bantuan dengan tujuan membantu tanpa tujuan lain. Saat ia mampu melakukan sesuatu untuk temannya nyaris serupa ia melakukannya untuk dirinya sendiri. Ketika ia bisa bersabar mengisi, memahami dan memaklumi kekurangan temannya. Keberhargaannya juga ada pada ketika ia tetap perduli;tidak lupa (melupakan), tetap bersama-sama; tidak meninggalkan, meskipun ia memiliki teman baru yang dianggapnya bisa diandalkan.

Sebaliknya, teman yang patut dipertanyakan keberhargaannya adalah ketika ia, seorang teman datang padamu, hanya pada saat-saat ia membutuhkan-mu atau pertolonganmu. Padahal ia telah pernah mengacuhkan, melupakan, tak lagi memperhitungkan dan meninggalkanmu. Setelah ia pernah menganggapmu tak diperlukan;tak penting dan lalu datang dan mendekatimu ketika ia sangat memerlukan bantuanmu. Lainnya, adalah ketika ia tiba-tiba ingat dan mendatangimu, setelah teman yang diandalkannya tak bisa bersamanya/melancarkan urusannya. Jika seperti ini maka teman tersebut telah memantaskan dirinya untuk menjadi yang diragukan.

* * *
Dan saya bersyukur, tugas kuliah Teknologi Informasi Komunikasi dan Pembelajaran inovatif yang merepotkan, menyita waktu dan mengurangi jam tidur itu menunjukkan kepada saya mana teman yang berharga dan tidak. Ya, setidak-tidaknya keberhargaan teman dari sudut pandang pribadi dengan penilaian subjektif berdasar pada gambaran nyata yang ada dihadapan dan perlakuan mereka;beberapa individu terhadap saya juga terhadap kawan lain.

Tugas yang ternyata bukan hanya soal fikir dan waktu, tetapi juga menyentuh domain rasa. Karena tugas itu, ternyata juga memunculkan rasa empati terhadap teman yang merasa ndak terlalu diperlukan tapi lalu dicari setelah ia mampu menyelesaikan hingga kelelahan. Merasai diri bagaimana menemukan dan mendapatkan perlakukan dari teman yang sedang “mabuk” dengan urusan pribadinya hingga seperti lupa dengan teman sendiri. Mendapati teman-teman yang setia menemani;membantu kawan lainnya untuk menyelesaikan tugas/tanggungjawabnya. Menemukan semakin berharganya pemakluman dan pengertian dari seorang teman.

Semoga, enam orang yang bersama di tiga hari dua malam, 4-6 Juli hingga larut, bisa menjadi pribadi yang berharga ketika kapan dan di manapun. Semoga kebikan-kebaikan juga ketulusan yang dimiliki bisa terjaga. Amiin….
Terimakasih untuk Uminya Nurul dan Mamanya Arief, Gali, Arief, Rio, Yulai dan Nurul.

Peluk Hangat untuk Allah SWT.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: