Oleh: Ningrum | 15 Agustus 2012

Cantik

Perempuan cantik ataupun seksi memiliki daya tarik tersendiri bagi lawan jenis. Juga bagi yang menilai atau melekatkan segala rupa kondisi fisik, ciri-ciri yang melekat atau yang terlihat pada tubuh sebagai kriteria cantik. Cantik, manis dan serupanya adalah memang sebuah kondisi yang menyenangkan untuk “dinikmati” mata. Ya ketika, memang jika hanya menggolonggkan cantik pada keelokan yang terlihat.

Cantik sebagai penanda, cantik adalah sebuah sebutan pada tampilan yang sesui dengan kriteria indah seperti yang dibentuk pada umumnya. Artinya, cantik itu sendiri adalah sebuah bangunan/ stereotipe yang dibentuk dan dilekatkan pada objek perempuan dengan berbagai prasyarat. Misalnya, kulit putih;halus, tinggi badan semampai juga berisi, hidung mancung, mata berkelopak, atau tampak unyu-unyu;imut dan seterusnya dengan bentuk-bentuk yang proposional.

Lalu, apakah pemaknaan dan pemahaman cantik itu berlaku universal? Saya kira ya. Karna mayoritas memiliki standart cantik yang nyaris sama. Dengan fisik yang begini dan begitu sebagai ukuran umum cantik, wujudnya persis seperti bentukan media selama ini. Sehingga pengertian cantik didapatkan dari tampilan fisik. Nah, ini berarti pemaknaan dan pemahaman cantik dengan sendirinya terbatasi dengan prasyarat tersebut di atas. Maka disanalah pengertian tentang cantik itu berhenti. Pengertian dan pemaknaan yang diproduksi oleh manusia dengan bahasanya.

Lalu, bagaimana dengan wanita yang memiliki ciri-ciri diluar pengertian cantik hasil setereotipe diatas?. Apakah bisa disebut cantik? Hmmm, jika standart yang tak langsung disepakati oleh masyarakat umum itu berlaku maka, ketiadaan pemilikan atau pemenuhan pada seseorang menjadikan dirinya tidak bisa disebut cantik. Tapi itu hanya berlaku bagi yang menilai kecantikan sebatas yang tampak pada fisik. Bagi yang tidak menjadikan bentuk segala rupa yang ada pada tubuh maka, pemaknaan cantik tidaklah mutlak berasal dari tubuh.

Namun pemahaman itu saya kira hanya dimiliki oleh sebagian kecil dan tidak berlaku umum. Yakni, cantik didapatkan dari faktor-faktor yang tak dapat dimaterikan. Cantik didapatkan dari dalam diri. Artinya, cantik itu sendiri tidak memiliki wujud, tidak dapat disentuh atau diraba. Cantik itu abstraksi dari nilai-nilai keluhuran budi seseorang. Mulai dari kebijaksanaan, kearifan, kasih sayang terhadap sesama, dapat juga rupa ketaatan pada Tuhan dan seterusnya. Atau bisa juga bahwa cantik itu muncul dari daya fikir seseorang.

Hmmm….cantik jasmani ataupun cantik rohani keduannya adalah anugerah dari Tuhan. Bersyukurlah ketika cantik ataupun pemahaman/pemaknaan tentang cantik itu tidak hanya berhenti pada fisik. Ketika kecantikan raga bisa berbarengan dengan keluhuran pekerti dan sebagainnya. Atau bisa sebaliknya, kecantikan rohani berdaya mempercantik jasmani yang ndak memenuhi standart/stereotipe media.

Sebagai tambahan, cukup manusiawi ketika kecenderungan keinginan memiliki lebih condong pada yang dikatakan cantik pada umumnya. Namun ada baiknya mengingat bahwa setiap raga adalah hasil kreasi Tuhan, tak sedikitpun manusia memiliki kuasa atas bentuk ataupun warnanya. Sehingga jika ada seseorang yang didekat anda tidak memenuhi berbagai tampilan yang merupakan hasil cipta bahasa manusia (dalam pengertian umum di atas). Maka, ada baiknya jika mau belajar bijaksana, karena yang bersangkutan bukan pencipta bentuk bagi dirinya sendiri. Yang bersangkutan hanyalah jiwa yang dititipi raga oleh Tuhan dengan bentuk dan warna demikian.

Memilih untuk bahagia dengan bersyukur


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: