Oleh: Ningrum | 29 Agustus 2012

Rupaku Tulisanku?

Seringkali diri menuliskan sesuatu, tepatnya memposting di blog ini tanpa ada pretensi apapun atau maksud-maksud tertentu. Menulis begini dan begitu karena memang ingin menuliskan, hanya ingin mengeluarkan dari fikiran agar tidak menjadi penghuni tetap atau bahkan menjadi “monster”. Lalu, juga tidak pernah mendesain bagaimana bahasa yang harus saya gunakan, harus A atau Z. Semuanya begitu apa adanya dan seperti apa yang ada dalam fikir juga rasa (jika itu memang menyangkut salah satu atau kedua hal tersebut). Juga ndak ada maksud memiliki ciri tertentu hingga memunculkan sebuah karakter tertentu.

Salah satu teman, yang memiliki ketertarikan membaca postingan di blog ini dan lalu dengan rela memberikan beberapa kesan tentang karakter yang ia dapatkan dibalik beberapa postingan. Kesimpulannya adalah saya itu A,B, C dan D. Dan lalu entah bagaimana alurnya akhirnya pembicaraan menyentuh ranah relationship. Penilaiannya adalah beberapa kemampuan dan karakter yang ia dapatkan dari postinganku tidaklah menguntungkan bagi hubunganku dengan pria.

Menurutnya kurang lebihnya begini, pada umumnya pria ndak suka dengan: Pertama, perempuan yang tegas dan berani menyatakan pendapat, karena ini memberikan kesan bahwa keberanian menyebabkan akan susah diatur. Kedua, tidak menyukai perempuan pintar, karena pria takut tersaingi. Ketiga, ndak suka dengan kepemilikan jiwa pemimpin, karena nanti umumnya yang akan memipin adalah laki-laki bukan perempuannya. Keempat, semua ditulis seolah olah penulis berada diposisi yang benar. Kelima, mellow.

Saya fikir, susah diatur ndak ada kaitannya dengan kepemilikan argumen. Justru argumen yang tepat dan logis dapat membantu semuanya bisa diatur sebagaimana mestinya, hingga semuanya juga lebih bisa diatur dan teratur. Satu sama lain justru bisa saling mengisi, belajar menerima dan mendengar pendapat orang lain (bukan hanya maunya didengar dan memerintah), kondisi ini pada akhirnya akan menguntungkan bagi semua, menjadi sebuah pribadi yang bijaksana, baik dari proses dialog antar keduannya dan dari hasil kesepakatan: aturan terbaik yang akan digunakan atau diberlakukan.

Perempuan pintar dalam hal ini yang akan menjadi ibu dari anak-anak, menurut saya justru sangat diperlukan sebuah kemampuan. Karena ibu adalah buku pertama bagi anak-anaknya. Jadi bisa dibayangkan jika sebuah buku pertama yang dikenal anak-anak adalah sebuah buku yang cukup mengesankan dan mampu mengajak anak menjadi sebuah pribadi yang unggul. Bukankah ini juga akan cukup menyenangkan bagi sang ayah?. Dan saya kira ketika kepintaran itu dibarengi dengan kesadaran bahwa sebuah kelebihan bukan ada untuk menjadi alat persaingan atau menjadi yang superior, ini tidak akan menjadi sebuah masalah. Menurut saya ini justru baik untuk semua, jadi kebersamaannya memiliki kontribusi mebesarkan nilai dari hasil kebersamaan.

Mengenai jiwa kepemimpinan, ini pun ndak perlu dikhawatirkan. Karena dalam kitab suci yang saya percayai dan imani juga ada tertulis bahwa masing-masing dari kita adalah pemimpin, tidak terkecuali bagi dirinya sendiri. Jika dalam kebersamaan laki-laki dan perempuan yang telah bersepakat melembagakan kebersamaannya dalam sebuah lembaga pernikahan (keluarga), yang wajib dan sudah semestinya sebagai pemimpin diantara mereka adalah laki-laki. Porsi nya memang begitu kan?. Dan ini ndak menjadi masalah bagi perempuan, selama kepala keluarga adalah pria yang bertanggungjawab. Lalu, perempuan juga punya wilayah sendiri, yakni bertanggungjawab terhadap rumah dan anak-anaknya, ini juga diperlukan jiwa pemimpin agar semuanya bisa termanage. Dan tetap, sudah barang tentu tetap diperlukan ayah sebagai pemimpin umumnya. Analoginya, jika dalam organisasi ada ketua umum, ada ketua bidang A, ketua bidang B dan seterusnya. Semua memiliki tanggungjawab dan menjadi pemimpin sesuai dengan porsinya, agar semuanya dapat terprogram dan terselesaikan demi tercapainya tujuan besarnya; visi dan misi. Ya kira-kira begitulah. Lalu baik diingat, orang tua adalah tauladan bagi anak-anaknya dan setiap yang tersaji adalah pembelajaran bagi putra putrinya.

Lalu, soal seolah-olah ada di posisi yang benar. Hmm…hampir semua yang tertuliskan adalah pengalaman dan hasil interaksi penulis dengan berbagai rupa yang pernah didapatkan atau ditemui. Insyaallah ndak ada rasa paling benar, tapi benar jika itu ditulis dengan benar dalam artian tidak dibuat-buat atau bahasa populernya alay atau lebay. Argumen yang ada ya begitu memang seperti yang tertuliskan. Atau barangkali penilai sesungguhnya membenarkan hal yang telah tertulis? Memiliki sudut padang yang sama? Jadi kesan yang didapat adalah penulis sudah benar-benar benar. Dan yang perlu dipertimbangkan adalah penulis tidak menistakan sisi-sisi atau sudut yang dimiliki orang lain dalam menilai sesuatu, termasuk dalam menilai sebuah sosok dengan pemikirannya. Semua bisa berdiri di mana saja dengan kesimpulan apa saja.

Kalau soal mellow, barangkali benar juga. Ya, namanya juga perempuan, seperti yang sudah terlanjur dipopulerkan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan perasaannya. Hmm… bukan berarti membuang jauh-jauh logikanya. Namun terkadang juga terlarut dalam sebuah kisah (baik pribadi atau bukan) yang sangat menyentuh perasaan. Atau tersedu tiba-tiba tanpa alsan yang jelas kecuali hanya karena sebuah rasa dan sebuah kondisi yang sulit terpahami. Jika ini terjadi, membiarkannya mengalir pun menjadi sebuah pilihan, karena ini bukan sebuah dosa, bahkan diam-diam aku kerap merindukannya. Bila dirasa, ini mampu menghadirkan sebuah kedamaian dan nyaman setelah itu ada.

Dari beberapa sisi yang tampak. Keberadaan orang lain bagi saya adalah sebuah keniscayaan. Karena dalam banyak hal perempuan dan laki-laki itu sama sekaligus berbeda. Kesamaannya sebagai makhluk Tuhan tak dapat disangkal dan kebedaaan yang nyata juga tidak dapat ditolak dan dipertukarkan. Memahami kebedaan sebagai takdir, sebagai pasangan. Ada kelebihan dan kekurangan, jadi diperlukan keselerasan untuk memahami dan mengerti, sunguh ini akan bermanfaat bagi keduanya.

So, indah dimaknai jika tiada yang mencipta superior dan inferior, penguasa dan yang dikuasai.
* * *

Temanku berkata bahwa aku sudah merdeka, tapi jika tulisanku membuat pria menjauh maka, simpan berbagai tulisan untuk konsumsi pribadi. Hmmm…. boleh baca bagian yang ini
Masih tak mengerti, tapi itu pernah benar terjadi.


Responses

  1. Nah, ndak selalu sih, kalau perempuan tidak menggunakan logika, maka generasi sebelum kita tidak menyisipkan kehormatan kata “empu” di dalam kata perempuan, yang bermakna cerdas nan bijaksana🙂.

    • Bagus, kalau ndak selalu🙂
      Btw, soal “empu” iya juga ya, karena maknanya agung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: