Oleh: Ningrum | 13 November 2012

Rumah Cahaya

Tampak menyenangkan ya bisa memiliki dan mengelola taman baca di lingkungan rumah. Selain menciptakan sebuah iklim lingkungan rumah yang “sehat” bagi keluarga, juga tentu membawa efek yang positif bagi masyarakat sekitar, terlebih memang jika taman baca mendapat respon positif atau dukungan dari segenap warga. Jadi, sangat mungkin seperti kata bang Haris alias Gol A Gong pada acara workshop mengelola taman baca masyarakaat (TBM) dan travel writing bahwa, merubah Indonesia tak perlu ke Jakarta, bahkan merubah dunia bisa dilakukan atau dimulai dari rumah. Mustahil? Tidak, kalau yang menjadi refrensi adalah taman baca sekelas Rumah Dunia (RD) yang diinisiasi oleh bang Haris.

Saat workshop yang berlangsung 21 Oktober lalu, bang Haris memutar film dokumenter tentang keadaan dan berbagai kegiatan di RD. Menarik! Terlebih ketika semua dijalankan oleh masyarakat (penanggung jawab) pelaksanaan berbagai sentra kegiatan belajar yang ada di RD. “Saya dan Istri hanya sebagai fasilitator” kata dia. Dan yang menarik juga, beberapa dari penanggung jawab sentra kegiatan ada yang mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri (siapa dan di negara mana saya lupa, hee). RD Juga mampu memetamorfosiskan seorang pemulung menjadi seorang mahasiswa, penjual gorengan menjadi seorang jurnalis dan seterusnya. Dan lainnya, sekilas tampak adanya sebuah bukti dan hasil dari upayanya untuk membangun jaringan yang lebih luas hingga kemancanegara. Oh ya, pada banyak kesempatan, sedekah buku menjadi ritual RD dan beliau percaya bahwasanya bagi setiap sedekah yang dikeluarkan dengan ringan akan diganti oleh Allah dengan jumlah yang berlipat, baik dalam bentuk yang serupa atau berbeda. Seru banget mendengarkan cerita suka dukanya mengelola TBM RD.

Kalau menyimak cerita atau tepatnya sekilas sejarah RD si, semua yang ada sekarang di RD adalah buah dari keseriusan dan niatan yang baik. “Niat awal didirikannya RD adalah memang bukan untuk mencari keuntungan” Kata Bang Haris. Oleh sebab itu, sebelum RD benar-benar ada beliau bertekad memiliki pekerjaan tetap yang hasilnya bisa mencukupi kebutuhan RD. Dan lalu, beruntung pula beliau mendapatkan jodoh yang juga sama-sama suka (memiliki visi) yang sama, bahkan hobinya pun sama travelling, hingga kebersamaan mereka berdua bisa membesarkan nilai keduannya juga llingkungan.

“Jadi langkah pertama yang diambil untuk membuat atau mengelola taman baca masyarakat adalah menikah” Demikianlah jawaban beliau atas pertanyaan yang saya ajukan. Hehe, jawaban beliau sepintas agak punya kesan ndak nyambung, tapi setelah difikir-fikir ada benarnya juga. Karena perkara TBM adalah perkara tim, juga persoalan sungguh-sungguh. Kerjasama dan dukungan dari patner cukup memiliki prosentase yang besar untuk mewujudkan TBM yang diinginkah hingga bisa ikut andil untuk merubah masyarakat lingkungan rumah. Btw, kata Bang Haris si, jawaban dari pertanyaan saya itu sudah tercover dalam sebuah buku yang cukup tebal, yang kalau ndak salah saya menagkap inforamasi yang diberikan, bukunya itu semacam modul manajemen taman baca RD. Kata Bang Haris “Sebenarnya sudah saya siapkan untuk door prize juga, tapi ternyata tertinggal”. Yaaah😦

Rumah kita surga kita
Rumah kita sekolah kita
Rumah kita rumah cahaya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: