Oleh: Ningrum | 4 Desember 2012

Bersama Anak-anak

Keberagaman mampu muncul dari sejumlah orang-orang yang ada disekitar kita. Termasuk anak usia dini yang berinteraksi dengan kita diwaktu dan tempat tertentu. Pun berlaku bagi 26 (dua puluh enam) anak. Mereka berpotensi menghadirkan keragaman sejumlah mereka. Dari setiap yang mereka refleksikan seperti menghamparkan persoalan yang meminta jawaban dan penanggulangan tersendiri. Ya, karena semua yang ada pada mereka tidaklah sama, meskipun bisa saja jika mau mempermudah, atau tepatnya seenaknya membuat sebuah generalisasi dan melakukan penangangan yang sama merata. Tapi saya kira, pukul rata dalam penilaian dan penanggulangan justru akan tidak efektif, hal tersebut bisa menimbulkan tanggungjawab moral dua kali lipat karena merasa harus mengulang dan menangani hal-hal yang tidak tepat yang terlanjur dianggap sebagai solusi sebelumnya.

Belum lagi hal-hal yang menjadi objek pengamatan adalah jamak, meliputi berbagai perkembangan nilai-nilai moral dan agama, kognitif, bahasa, psikomotor (motorik) halus dan kasar serta sosial emosionalnya. Jika disadari, bukankah ini tanggungjawab besar? Mengingat pembelajaran yang dilakukan pada anak usia dini adalah merupakan dasar, merupakan masa yang paling efektif dalam menanamkan pembiasaan-pembiasaan positif bahkan dalam menstimulir pertumbuhan otaknya, sehingga kuota 80% pertumbuhan otak yang terjadi pada usia 0-5 tahun dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan. Jadi salah satu jalan yang amat penting adalah memberikan perlakuan khusus.

Perlakuan khusus? Ya, memang agak repot jika harus memperlakukan dan membantu menyelesaikan kendala yang dimiliki masing-masing anak secara khusus satu persatu. Itulah nyatanya tanggung jawab yang ada.

Jika mau konsisten memberikan perlakuan khusus bagi semua anak sesuai keragaman anak, baik bagi yang cepat, sedang atau lambat dalam menerima atau memahami objek yang diajarkan maka, konsekwensinya adalah menyediakan waktu, energi dan juga emosi kita dengan takaran lebih. Karena hal-hal tersebut akan bergerak aktif atau meninggi mengikuti sesuai laju perkembangan atau kemampuan anak.

Heee, terkadang gregetan yang tingkatnya sangat, bisa muncul manakala berada pada kondisi lelah dan mendapatkan anak yang berkali-kali dan atau mendekati konstan enggan memberikan perhatiannya kepada objek yang sedang coba dikenalkan atau diajarkan. Akibatnya, ketika diberi pertanyaan ataupun diberi tugas anak tidak mengerti, tidak bisa mengerjakan dan atau tidak bisa menyelesaikan. Dalam kondisi emosi yang bergerak naik, ada ungkapan yang mampu berfungsi menjadi rem untuk mengurangi lajunya emosi. Kata Seto Mulyadi, psikolog, “Bahwa pada dasarnya semua anak cerdas”. Nah kalau sepontan ingat itu langsung mengingatkan pada diri sendiri untuk menahan emosi.

Btw, emosi yang ada, sebenarnya adalah merupakan akumulasi serta bentuk reaksi terhadap kesibukan pribadi anak, keacuhan yang besarannya atau tingkat kekonstanannya berbanding lurus dengan ketidak pahamannya (anak) terhadap objek yang dibelajarkan. Sehingga, indikator-indikator keberhasilan yang digunakan ataupun yang menjadi tujuan pembelajaran, yang menjadi standart atau yang diharapkan, belum bisa dicapai oleh anak tersebut. Lalu, jika ini terjadi maka, kesalahan siapa? Tidak menutup kemungkinan kekurangan ada pada pendidik yang belum mampu menangani anak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan perlakuan ekstra.

Itulah yang terjadi pagi tadi, 25 anak (1 absen) hanya ditangani oleh satu pendidik. Cukup repot, dan tutor tidak sepenuhnya mampu memberikan perlakuan khusus terhadap yang “kurang”. Ada baiknya memang, pendidik tidak mengurangi hak anak yang kemampuannya standar dengan anak dengan kemampuan dibawah. Karena, dalam pembelajaran anak usia dini, semua anak membutuhan perlakuan dan perhatian, baik yang normal dalam artian bisa mencapai perkembangan yang jamak seperti diatas sesuai dengan tingkatan usianya maupun yang kurang. Karena pasti ada saja yang minta diperhatikan, bertanya dan mengharapkan diberi petunjuk/dibimbing secara personal.

Kemudian, cukup membanggakan jika, pertumbuhan dan perkembangan anak-anak normal dan atau melebihi kemampuan teman sebayanya. Sebaliknya, cukup menghawatirkan ketika mendapati anak (yang menjadi tanggungjawab) nyaris secara konstan belum bisa memenuhi capaian perkembangan semestinya (sesuai dengan usianya).

Anak-anak itu menyenangkan, dan sesekali mampu memancing emosi. Mereka tetap berharga karena, berbagai pembelajaran juga lahir dari interaksi kita dengan mereka. Terimakasih anak-anak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: