Oleh: Ningrum | 5 Januari 2013

Agama itu Perkara Hati

Agama adalah perkara yang sifatnya sangat pribadi, setiap pemeluknya memiliki sensifitas rasa yang berbeda terhadap keberagamaannya. Begitupun dengan kecintaannya terhadap Tuhan beserta utusan-Nya. Bahkan bagi sebagian dari pemeluk agama pun bisa mencapai maqom kebersatuan dirinya dengan penciptanya. Dan kemampuan hal-hal semacam ini sangat personal rasanya, meskipun disekumpulan orang-orang bisa memiliki ini, saya kira akan berbeda pengalaman rasanya.

Manusia yang dekat dengan Tuhannya memiliki cinta terhadap Tuhannya, melebihi cintanya terhadap apapun yang ada dihadapannya, meskipun masih berjalan di atas dunia, setiap langkahnya ditujukan hanya untuk kekasih tunggalnya: Tuhan yang Esa. Dan sepengetahuan saya, cinta dan kasih sayang Tuhan itu jauh lebih besar dan luas dari pada rasa cinta mahlukNya terhadap Tuhanya. Manusia yang diam tanpa ada upaya untuk mendapatkan cinta Tuhannya pun tetap mendapat kasih sayang Tuhan, tetap diberi hidup, tetap dianugerahi panca indera dan atau berupa kesejahteraan lainnya. Apalagi jika seorang manusia menunjukkan ikhtiarnya mencari jalan yang dianjurkan Tuhan. Jangankan ikhtiar, sebuah niat baik yang sejatinya baru ada dalam desir hati pun sudah dihargai dan diperhitungkan oleh Tuhan senilai kebaikan itu.

Tuhan itu selalu ada untuk kita, kata Tuhan “Jika ada yang bertanya tentangKu maka jawablah, Aku itu dekat sedekat urat lehernya”. Karena Tuhan telah berkata demikian tentang keberadaanNya, juga wujud-Nya yang tidak bisa ditangkap secara kasat mata, baik besar atau bentuknya, maka bukankah Ia ada dalam rasa di setiap kita?.

Masihi ingat kan? Kala Nabi Musa berdoa setengah memaksa Tuhan untuk memperlihatkan Diri, agar keyakinkan sempurna terhadap Tuhan. Dan lalu kemudian Tuhan pun memenuhi permintaan Nabi Musa. Baru saja muncul cahaya, tak sampai terlihat wujud Tuhan, sontak ia tak sadarkan diri karena tak sanggup melihat yang terjadi. Sejak saat itu Nabi Musa percaya dan berkeyakinan bahwa Tuhan ada, tentu berserta cinta-Nya. Bukankah percaya juga rasa?

Alasan lain bahwa agama itu perkara hati adalah karena agama itu diyakini. Kadar keyakinan kita terhadap Tuhan, utusan atau berbagai rupa dalam kitab-Nya tentu berbeda-beda. Ada yang percaya, mengimani dan atau menerima dengan begitu saja, ada juga yang memilih meyakini berbagai hal, lalu menjalankan yang diperintahkan-Nya dengan melibatkan logikanya. Bahkan ada berbagai usaha saintis mengupas kalam-kalam Tuhan yang sudah ada sebelum Masehi, lalu mengkorelasikan ayat-ayat tersebut dengan fenomena alam saat ini. Kemudian melakukan penelitian, perhitungan dan berbagai upaya lainnya demi mendapatkan keyakinan melalui kebenaran ilmiah. Kemudian hasilnya adalah agama tersebut dianggap memenuhi prasyarat kebenaran dan cukup terlogikakan. Apakah setelah itu ilmuan tersebut berganti agama? Belum tentu, karena keyakinannya lebih memiliki daya tarik yang besar daripada penelitian ilmiah yang telah ia lakukan. Ya ada juga si, yang lalu berganti keyakinan, karena ia meyakini kebenaran yang ia temukan pada salah satu agama.

Hmm… logika memang bisa memperkuat keyakinan, namun tak semua kebenaran bisa terlogikakan dan semua yang dapat dicapai dengan logika juga belum tentu bisa disebut atau dibenarkan bukan?. Maka hipotesanya adalah agama ini perkara kepercayaan, keyakinan dan letaknya ada pada kuasa hati dan sifatnya sangat personal.

Dilingkupi Petunjuk Allah Swt *semoga*


Responses

  1. Tapi kadang yang dilihat “ego” bukan “hati”, namun tetap saja belabel “agama”😦

  2. Sepetinya ego itu sangat “halus” hingga buat pemiliknya ndak sadar.
    Miris kalau agama sampai dipakai ego untuk sekedar jadi tameng😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: