Oleh: Ningrum | 12 Januari 2013

Berhitung, Sedih atau Bahagia?

Spesial atau tidak itu sangat bergantung pada bagaimana penerimaan dan pemaknaan kita terhadap segala sesuatunya. Sama halnya dengan pemaknaan, pengkhidmatan kita terharap hari yang setiap harinya selalu berisi dengan kejadian yang berbeda. Bisa saja, tidak ada persitiwa yang membuat hati terkejut, ternyata ada hal kecil yang begitu menjadikan suatu hari menjadi sangat spesia atau sebaliknya. Artinya, spesial atau tidaknya sebagian besar dipengaruhi “kuasa” diri mengkondisikan, mengisi dan atau memaknainya. Dan sejauh yang dirasakan dan atau dialami, selalu ada cerita, kelucuan-kelucuan dan atau perlakuan orang lain terhadap kita yang berbeda setiap harinya. Bukankan sebuah kebedaan itu juga salah satu petanda spesial? .

Begitupun dengan hari ini, sebagian teman-teman, kakak tingkatku dulu, saudara juga keponakan memberikan ucapan selamat baik atas sampainya saya pada sebuah waktu pengulangan hari lahir untuk yang kesekian puluh kalinya. Cukup beragam doa-doa yang mereka sertakan pada ucapan selamat yang ditujukan kepada saya. Mulai dari: Happy born day, selamat ulang tahun, happy milad, barakkallah fii umrik, semoga: panjang umur, sehat selalu, sukses selalu, cepat selesai eslorone, cepat dipertemukan dengan belahan jiwa, tambah shalihah, tambah cantik, tambah baik hati, tambah istiqomah, tetap jadi my best fiend, moga cepat seminar proposal, getting older getting better, always have a greatiful life healthy and happyness, wish you all the best, doa-doa terbaikku dikabulkan oleh Allah, selalu bahagia dunia akherat, mendapatkan keberkahan Allah SWT, aamiin ya rabbalaallamiin…. *terwujud*

Alhamdulillah sebagai syukur saya kepada Maha Pemberi Hidup dan Penguasa Alam Semesta. Pun untuk semua yang telah memberikan doa tulusnya, saya ucapkan terimakasih.

Lalu, pertanyaan ini pun datang, harus sedih atau bahagia?. Ya tentu sampai detik ini ada bahagia atas segala nikmat juga segala yang dihadirkan oleh Allah untuk bisa dihadapi. Jika mau menghitung nikmat (pemberian-Nya), saya fikir hasilnya akan tak terhingga. Dengan demikian akan baik jika rasa bahagia dan syukur yang ada juga besar dan banyaknya juga tak terhingga. Lalu, bagaimana? Apakah ada sedih? Ada, sejenak sedih disebabkan oleh panggilan Mbak tadi (tetap harus ikhlas). Kemudian, pada hakekatnya penambahan jumlah angka, hari ini adalah perhitungan mundur “jatah” umur saya. beberapa capaian yang belum terwujud, dan masih tertundanya “hadiah” yang saya niatkan untuk diberikan kepada ibu *speechless*

Beginilah hidup, pun warna hari ini, campur aduk. Senang atau bahagia? Keduanya ada dengan sendirinya, saya biarkan hadir dan melanda secara bergantian. Karena memang begitulah realitas rasa.
Terimaksih Tuhan, Terimakasih alam
Peluk hangat


Responses

  1. Saya tidak menghitung mundur, jika tiba waktunya, maka yang datang itu pun layak disambut dengan suka cita, ibarat jodoh yang sudah lama ditunggu untuk bersua🙂.

  2. Hmm ada benarnya jg🙂
    Setelah difikir lagi, Mungkinkah menghitung mundur sebuah misteri atau hal yang belum diketahui kapan berhentinya (harus menghentikan hitungan di”angka” keberapa)?. Kalau memang sudah waktunya ya akan datang juga to (meskipun belum tahu kapan itu).
    Bersyukur dan bahagia selalu *semoga*🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: