Oleh: Ningrum | 18 Januari 2013

Anak-anak dan Idolanya

Mickey MouseDunia perkartunan memang cukup manarik untuk anak-anak. Hehe jangankan mereka, saya pun masih menyukai gambar kartun-kartun itu, termasuk versi filmnya. Sebut saja The Legend of Ang; pemilik jurus beberapa elemen. Kungfu Panda; si Panda Jago Kungfu yang awalnya tidak sadar dengan kemampuannya yang akhirnya jadi jagoan. Alice in Wonderland versi film kartunnya; si gadis kecil yang hampir selalu mengimajinasikan segala hal yang ditemukannya dan dia seorang gadis kecil baik hati tentu. Dan Unyil juga menjadi salah satu yang saya tunggu-tunggu (sayangnya kini pamornya tak segagah dulu). Mickey Mouse, si tikus salah satu ikon World Disney. Serta Winnie The Pooh yang versi film dan novelnya juga keren. Ya untungnya, mereka adalah tokoh protagonis. Hmm…. saya tidak bisa membayangkan jika yang menjadi kesukaan adalah tokoh antagonisnya yang sangat jagoan, penebar permusuhan, namun pada akhirnya memberi peluang kejayaan pada lawannya. Akan seperti apa ya laku mencontohnya?

Dan saya agak kerepotan jika mendapatkan anak-anak yang sangat menyukai Power Rangers, Ultramen dan atau robot-robot lainnya (namanya saya lupa). Ya, meskipun pada dasarnya tokoh tersebut adalah pahlawan, namun ternyata yang menempel dibenak mereka buka pembelaan terhadap kebenarannya, melainkan kekerasannya (adu jotosnya). Maka, dengan sangat mudah anak-anak melakukan gerakan gerakan (reflek) memukul, menendang kawannya bak berada persis pada saat pertarungan terjadi antara pahlawan dan penjahat di film-film yang sering mereka saksikan di layar kaca, diperparah juga masih banyak saja CD bajakan film-film lawas itu, juga orang tua yang tanpa sadar telah menanamkan kekerasan dialam bawah sadar anak dan terus mau saja membelikan anak CD film yang syarat kekerasaan itu dengan mudah.

Bahkan pernah pada suatu waktu, salah satu anak (yang orang tuanya meminta tambahan belajar di rumah), saat ia sedang menulis, tiba-tiba mempraktekkan kekuatan idolanya dengan mendorong objek meja belajar dengan berteriak “Kekuataaaaan ciaaa”. Waduh kalau sering-sering ia melakukan hal tersebut maka suasana belajar akan sangat tidak kondusif dan tentu, meja belajar yang menjadi sasaran bisa tidak berada pada posisi seharusnya. Juga pada kesempatan yang berbeda, kursi pun pernah diimajinasikan sebagai batu yang diangkat untuk digunakan sebagai senjata guna melempar temannya yang ia imajinasikan sebagai lawannya, haddeh😦 .

Karena potensi yang dimiliki Agung demikian adanya, potensinya komplit, gemar berbicara seperti orator, kinestetiknya aktif, hanya saja motorik halusnya yang tampak kurang mendapatkan media untuk berlatih. Ditambah sangat menyukai mengekspresikan berbagai macam kekuatan sesuai dengan imajinasinya, maka hal tersebut sekalian saya manfaatkan. “Kekuatan menulis!” atau “Kekuataaan membaca!” . Kalau di tempat Bu guru hanya bolah ada dua kekuatan itu, yang berkelahi-berkelahi ndak ada, kalau ada yang mengeluarkan kekuatan super (apalah) besok ndak boleh kemari lagi. Hehe saya kehabisan jurus, jadi mengeluarkan sedikit warning *cara terakhir*.

Puzzle Dan benar saja dugaan awal saya, ketika hal tersebut saya ceritakan kepada ibunya pada saat ibunya datang menjemput, ibunya menjawab “Iya karena pengaruh tontonan, dirumah sering nonton power ranggers”😦

Dan aktivitas pertunjukkan berbagai kekuatan itu berkurang ketika coba dihadirkan puzzle film kartun beberapa jagoan yang bisa dipastikan dikenal dan disukai anak-anak. Ya, walaupun ini sebenarnya bukan jenis puzzle pilihan utama untuk membuat anak tetap merasa punya media bermain setelah belajar di tempat mereka mendapatkan tambahan melatih diri. Namun, karena puzzle yang bernilai edukasi/membaca dan atau berhitung sulit didapatkan, maka ndak ada pilihan lain terkecuali tetap membeli dan menyediakannya untuk anak-anak dalam mengalihkan aktifitas fisik yang berlebihan tapi sekaligus tetap mengasah otaknya dengan menyusun potongan-potongan itu menjadi gambar yang sempurna atau lengkap. So far, puzzle berhasil menjadi “umpan”, “Siapa mau main puzzle? Harus belajar dahulu”.


Responses

  1. Buat hambatan menjadi potensi ヽ(^。^)ノ

  2. Maunya si bisa seperti itu, tapi kadang-kadang gregetan😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: