Oleh: Ningrum | 19 Januari 2013

Beda Tapi Cinta

Agama yang saya tulis kemarin sebagai hal yang sangat personal sifatnya  adalah juga merupakan masalah sosial dan budaya. Persis seperti yang dibicarakan  dijejaring sosial, soal film Cinta Tapi Beda. Saya belum menonton filmnya si, tapi dari judulnya bisa diperkirakan soal apa.

***

Hmmm, cinta itu soal hati, hati itu persoalan personal dan cinta itu sulit diperintah (dilarang, dicegah atau dibuat-buat) karena ia datang sendiri secara alami. Bagaimana bisa mencegah suka dan memerintahkan “tentara” hati untuk berkerja hingga membuatnya menjadi  tidak suka?, begitupun sebaliknya. Barangkali yang tidak memiliki pengalaman hal seperti ini bisa sangat dengan mudah mengatakan cari saja yang lain, cintai saja si A atau sama si B saja yang satu keyakinan misalnya. Hmmm…. bagi yang memiliki pengalaman ini, saya rasa akan tidak semudah menggenggamkan tangan lalu melepasnya begitu saja.  Karena memang hati yang berbicara…..

Ketika persoalan cinta yang tempatnya dihati lalu “dipaksa” bersinggungan dengan persoalan sosial  dan budaya maka, akan ada polemik baru, menyangkut orang banyak, menyangkut tatanan adat/budaya dan tentu berbagai hal yang cakupannya lebih luas.

Kalau cinta itu adalah hak asasi begitupun dengan agama juga hidup seseorang menyangkut masa depannya, mengapa masih saja ada “ancaman” bagi yang memiliki dan milihnya?. Misalnya saja, aturan anak laki-laki harus menikah dengan perempuan yang satu suku dan satu agama (atau sebaliknya bagi adat yang berbeda), jika tidak maka terancam dikeluarkan dari lingkungan adat, bahkan tidak diakui keberadaannya (diusir) dari tanah kelahirannya dan tentu saja mendapatkan hukuman sosial berupa terisolirnya dia dari saudara-saudaranya.

Tampaknya memang, budaya dan adat sangat berkaitan erat dengan agama. Terlihat kemayoritasan memiliki pengaruh yang cukup kuat. Orang aceh, budaya Aceh  dengan Islamnya, begitupun dengan Minang. Budaya Bali dengan Hindunya, Maluku, Flores juga Timur Leste (yang dulu pernah jadi bagian dari Indonesia) juga dengan Kristennya. Jika hal ini dibawa ke sejarah Indonesia, bukankah  pertumbuhan kemayoritasan ini erat kaitannya dengan bangsa-bangsa, penjajah dan para saudagar yang datang dan (pernah) menetap lalu menyebarkan ajaran-ajarannya?. Mulai dari bangsa-bangsa Eropa, Timur Tengah, India, China dan seterusnya. Hingga sampai kinipun yang mereka tinggalkan masih menjadi bagian negeri ini, termasuk “warna” kepercayaan di pulau yang pernah mereka kuasai dulu. Hmm…. barangkali saya tidak memiliki kepercayaan seperti sekarang ini jika saya lahir dan besar di Flores.  Juga tidak menutup kemungkinan untuk kawan-kawan semua.

Jika difikir, ketika kita sudah diberi kesempatan  hidup dan tumbuh, maka Tuhan sudah memberikan berbagai kesempatan lainnya, termasuk untuk memilih  agama.  Barangkali memang (baiknya) beragama bukan karena sejarah, tetapi karena keinginan diri sendiri, karena sudah menggunakan  atau  sudah ada penerimaan hati dan logikanya terhadap ajaran yang ada disalah satu agama yang hendak dipilih, karena kesadaran yang muncul dari olah fikir yang panjang dan benar-benar sudah difikirkan konsekwensinya, termasuk  siap dengan “perhitungan” Tuhan.

Jadi, kalau beragama adalah juga hak pribadi, mengapa jadi “ancaman” ketika ia berbeda dengan komunitasnya?

_____
Postingan ini bukanlah bentuk dukungan, apalagi anjuran untuk  melakukan pernikahan beda agama. Terimakasih untuk pemahamannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: