Oleh: Ningrum | 27 Januari 2013

Belajarnya Anak-anak

Bu guru  :  Kalau di rumah belajar baca dengan ibu?//Anak  :  Enggak//Bu guru :  Lho kok ndak belajar, kenapa?// Anak   :  Ngapainlah belajar-belajar// Bu guru:  Jadi  dirumah ngapain? //Anak:  Main hape//Bu guru: 😦

* **
IMG-20130717-04575. Biasanya anak-anak itu sangat jujur, lalu jika memang benar seperti jawaban Ila (bukan nama sebenarnya) maka, kalau anak belum bisa membaca  maka kesalahan bukan pada anak. Karena yang terjadi adalah hasil dari proses yang terus dan sedang masih berjalan. Sangat disayangkan ketika seorang Ibu beserta ayahnya tidak sempat dan atau menyempatkan diri untuk mendampingi anaknya, baik secara fisik dan juga mentalnya (termasuk kemampuan atau perkembangan kognitifnya).

Hmm…. benar bahwa dalam Permendiknas No 58 tahun 2009 tentang standar pendidikan anak usia dini  tidak mewajibkan anak usia dini memiliki kopetensi atau harus sampai pada capaian perkembangan keaksaraan hingga  mampu membaca kalimat sederhana.  Di sana hanya disebutkan membaca dan menuliskan nama sendiri.

Namun,  menjadi kekhawatiran yang lumayan besar ketika anak belum bisa membaca. Padahal beberapa bulan kedepan anak tersebut menurut perhitungan umur sudah masuk sekolah dasar. Kondisi ini  menjadikan orang tua ketar-ketir. Apalagi jika anak  tersebut diproyeksikan ke sekolah yang mutunya tidak diragukan. Maka, dengan mudah anak tersebut akan tereliminasi. Ya, meskipun SD dilarang mengadakan tes dalam bentuk apapun dalam penerimaan murid baru. Namun kenyataan berbicara lain. Jika memaksakan “jalan pintas” pun dan ternyata bisa menjadikan anak tersebut lolos (diterima) maka, justru nanti anak akan sangat tertekan karena tertinggal  jauh dari teman sebaya yang sudah bisa  menerima pelajaran dan pembelajaran yang  mayoritas bertumpu pada kemampuan keaksaraan anak.

Tampaknya baik jika kita mencoba mencari faktor penyebab mengapa kemampuan keaksaraan anak rendah.

Pertama, faktor internal, selama di sekolahan, anak tersebut kurang bisa mengendalikan keinginannya untuk bermain, sehingga susah berkosentrasi dan menyebabkan apapun yang diberikan ibu gurunya lewat begitu saja. Lainnya, anak tidak memiliki motivasi yang besar untuk bisa membaca,  mengapa? Kemungkinan dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Kedua, faktor eksternal. Orang tua yang tidak telaten mendampingi anak untuk belajar melalui bermain. Orang tua terlalu percaya dengan jam belajar di sekolah, padahal anak didik hanya memiliki waktu berkonsentrasi sepersekian dari jam belajarnya di sekolah, apalagi jika anak tergolong yang ndak mudah untuk memusatkan perhatian. Nah tampak lengkap. Di sekolah lewat, di rumah juga tidak  didampingi.  Dua hal yang bisa berakibat fatal terhadap keberadaan motivasi anak.

Kemudian, jika mempersoalkan motivasi duluan atau faktor eksternal duluan dalam hal ini maka, sama halnya dengan pertanyaan ayam dan telur duluan mana?. Kalau menurut saya, bagi anak usia dini, motivasi  yang pada dasarnya adalah potensi terbesar dalam diri anak itu ada justru bisa timbul karena stimulus (faktor eksternal) yang ada. Jadi ada baiknya menyediakan berbagai stimulus yang mampu memberbesar  motivasi atau menimbulkan minat anak. Misalnya saja,  belajar mengenal abjad dengan media yang warna warni, mengingat anak-anak sangat menyukai tampilan yang demikian, nah ini bisa menjadi jalan mengenalkan huruf  hingga terus sampai merangkainya menjadi kata-kata.

Kemudian, kedekatan orang tua dengan buku perlu menjadi sebuah pemandangan yang lumrah (biasa), sehingga tanpa dipaksa membuka buku atau sekedar melihat gambar-gambar yang ada dibuku adalah hal yang biasa, mungkin juga menyenangkan karena warna-warninya atau karena gambarnya yang memang menarik. Dan ketika anak bertanya apa ini? Apa itu?. Inilah sebaik-baiknya kesempatan orang tua menyampaikan kepada anak bahwa, jika ingin tahu tentang  berbagai yang ada dibuku maka, lebih seru kalau bisa membaca sendiri, katakan padanya bahwa  kisahhnya menarik lho,  keren”. Lama-lama anak akan tertarik dan memiliki motivasi yang semakin besar untuk belajar membaca demi tahu apa cerita dalam berbagai buku yang ada  dengan gambar yang menyenangkan itu.

Kondisi tersebut dapat berjalan normal dalam artian seperti yang diinginkan jika, kesadaran serta kondisi ekonomi orang tua cukup memadai untuk membuat atau membeli berbagai macam buku atau media lainnya. Jika ekonomi orang tua anak terbatas maka, bukan sebuah pemandangan yang mengherankan bahwa kemampuan kognitifnya dalam hal ini keaksaraan capaian perkembangan membacanya rendah, baik secara langsung atau tidak.

Kondisinya ndak selalu seperti itu si, ada juga ada orang tua yang sesungguhnya secara ekonomi mampu  menyediakan sarana belajar yang menarik minat, tetapi tidak aktif mencari informasi soal hal ini maka menyebabkan  orang tua tidak tahu harus membeli media yang seperti apa dan mengajari dengan cara bagaimana (metode).  Ada juga persoalan yang dimiliki orang tua yang juga ekonominya menengah (terhitung mampu) juga memiliki permasalahan tersendiri, orang tua mendapati anaknya sangat sulit sekali diajari kalau dengan orang rumah sehingga yang ada justru berantem atau ribut.  Hmmm…. jika itu terjadi, tampaknya ada baiknya jika lebih bersabar dan jeli melihat yang menjadi ketertarikan anak, sehingga anak bisa mendapatkan kesenangan melalui belajar. Ketika kesenangan sudah tercipta, anak mau diajarkan apa saja maka dengan sendirinya hal-hal yang disajikan mudah diterima anak. Sebaliknya, jika anak merasa tertekan apalagi sampai terancam mentalnya maka, anak akan enggan belajar, bahkan setres.

Tentu saja, belajar diusia mereka itu sebisa mungkin menyenangkan seerti kala bermain (belajar melalui bermain), jika tidak maka, belajar akan menjadi sebuah aktivitas yang sangat membosankan bahkan bisa sangat menyeramkan. Dan belajar apapun untuk anak usia dini adalah tidak haram, meski tidak diatur dalam undang-undang. Tidak terkecuali belajar membaca. Jadi, selama anak bisa menikmati (meski  tetap dan harus dikondisikan menjadi menyenangkan), tidak tertekan, masih mau dan mampu menerima segala jenis pengenalan dan pembelajaran maka teruskan saja, bila perlu isi sebanyak-banyaknya (secara periodik tentu). Karena bisa jadi kemampuannya melebihi ekspetasi kita dan anak-anak umumnya. Rumusnya adalah kreatif dalam membelajarkan. Sehingga segalanya menyenangkan dan tak sampai menyerahkan persoalan ini kepada orang lain  pada jam diluar sekolah.

***

Sangat baik jika rumah adalah tempat bagi anak-anak memiliki  keleluasaan untuk bermain juga belajar. Karena rumah adalah sekolah pertama, dimana ibu beserta ayah menjadi guru utama. Rumah juga adalah tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan kenyamanan, pengertian dan kehangatan rasa, sehingga mampu menumbuhkan motivasi dan membesarkan bangunan cita-cita mereka. Maka, bagi para orang tua sangat baik jika tidak menyia-nyiakan waktu bersama, memberikan kesempatan potensi anak tumbuh;  afektifnya, psikomotoriknya bahkan kognitifnya dimulai  sejak usia dini dan dari rumah. Jika bukan, kapan lagi? Dan bagaimana mereka akan tumbuh diusia selanjutnya?

Rumah akan indah  bagi anak dan semua penghuninya jika ada kemauan dan komitmen  pemiliknya hingga mampu menjadikan dan  mencipta fungsinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: