Oleh: Ningrum | 1 Februari 2013

Melegakan

Pagi di sekolah, semua ekspresi anak-anak ceria, tampak tidak membawa sesuatu ganjalan, seperti yang biasa terjadi, ada saja yang cemberut, entah itu karena permintaan telur ceplok ternyata dibuatkan telur dadar oleh ibunya, entah itu keinginan minum susu coklat ternyata yang tersedia susu putih dan lain sebagainya.  Sebab-sebab itu barangkali hari ini tidak ada, sehingga hari ini ndak ada wajah anak-anak yang  “dilipat” yang sesungguhnya  hanya karena persoalan belum ingin bagun pagi-pagi,  hingga ada saja alasan-alasan yang seperti menjadi pensahan ke-ngambekan mereka. Ya namanya juga anak-anak, ya begitu.

Kemudian, syukur meskipun tadi siang menjelang sore hujan hingga magrib, anak-anak yang tidak satu sekolah dengan saya tetap pergi  belajar ke rumah. Hmm… tidak an sich belajar si, mereka juga bermain, hingga ada  tawa diantara mereka,  kadang ada pertunjukkan pertarungan juga, haha.

Di awal-awal suasana cukup tenang dan bisa dikendalikan, namun keadaannya berupah setelah si Ado datang, Ado lebih aktif dari Agung yang  pernah sedikit saya ceritakan. Lalu, suasana jadi gaduh karena suara Ado bervolume tinggi dan senang menggoda temannya, baik melalui fisik juga kata-kata terhadap temannya.  Ditambah datang dua anak (teman bermainnya mereka) yang  ndak  biasa belajar di rumah dan cukup membuat suasana bertambah tidak kondusif.  Beberapa kali bujukan meminta Ado untuk sejenak  duduk tenang dan nanti boleh main kalau sudah selesai  tak berhasil. Coba saya biarkan saja namun tetap saja. Akhirnya saya menyampaikan kepadanya, kalau ndak mau belajar,  membuat gaduh dan mengganggu temannya terus, lebih baik  pulang saja.  “Ado boleh pulang sekarang”.  Karena harus mendampingi yang lain, saya hanya mengantarkan sampai pintu dan tak sampai ke gerbang melihat ia pulang bersepeda ke arah mana.

Dan diluar dugaan saya, sekitar 20 menit kemudian, saat hujan turun,  Ado ada di depan pintu. Sebenarnya saya juga tidak tahu kalau ia kembali, berawal dari keinginana untuk mengecek pintu, memastikan saja apakah terkunci atau terbuka. Terkejut si,  Ado terlihat mondar-mandir, karena  ternyata pintu teralisnya terkunci. Ado kembali dengan senyuman khasnya dan bahasa tubuh yang malu-malu. Barangkali karena dalam waktu 20 menit itu telah muncul kesadarannya hingga membuatnya memutuskan untuk kembali belajar. Bagi saya, untuk anak di usia Ado, hal seperti ini cukup membanggakan, entah apa sesungguhnya yang membuatnya kembali, yang jelas Aldo tampak mengakui kekeliruan sebelumnya, ya walaupun itu tak terucapkan.

Pintu dibuka dan Ado masuk, terlihat rambutnya basah, bagian belakand baju Supermannya yang bersayap itu pun anyep. “Sebentar, Bu Guru mau bilang kalau Ibu sayang, Aldo belajar yang betul ya, biar cepat pintar dan nanti bisa sekolah di SD Metro”. Aldo mengangguk dan tersenyum kemudian menuju  ruang belajar yang juga sekaligus ruang bermain pasca mereka belajar. Sebelum sampai di ruangan, Ia sempat menghentikan langkah dan menatap saya sambil tersenyum, sepertinya dia ragu juga malu dengan teman-tamannya. “Sana, ndak apa-apa” kata saya. Aldo pun melangkah lagi dan duduk di bangku yang tersedia dan memilih buku yang memang menjadi bagiannya selama ini (tahapan). “Baca buku ini dulu ya Bu, terus menulis, setelah itu main kartu baca” Kata Ado. Hmmm…. ternyata kesadaran dengan sendirinya  membatu Aldo menyusun keinginannya/rencana yang baik dan Ia benar-benar melakukan apa-apa yang ia katakan sendiri.

Yang melegakan lainnya adalah ketika Tantenya Salsa menjemput dengan menggunakan jas hujan dan ternyata Salsa belum mau pulang. Tantenya menyempatkan diri untuk bercerita kepada saya bahwa Salsa sangat bersemangat untuk pergi les (sebutan yang mereka buat), dan ternyata hari Rabu ia ngotot dianter les, padahal sudah dikatakan bahwa Rabu tidak ada aktivitas itu. Karena merengek, diantarlah Salsa sampai ke rumah, setelah ditunjukkan benar bahwa Rabu tidaklah belajar seperti biasanya, baru percayalah Salsa. Kemarin salsa sudah sampai sini, tapi ndak turun karena ndak ada temannya, ndak melihat sandal-sandal milik temannya di depan pintu. Begitupun dengan hari ini,  saat masih diajak jalan ayahnya, buru-buru minta pulang dengan segera.  Sampai rumah ibunya diminta memandikannya “Cepet lho Bu, aku tu mau les” Kata Salsa menurut penuturan tantenya. Hmm….ya begitulah anak-anak, jika masih bersemangat ya seperti itu dan memang selama ini Salsa nyaris selalu datang lebih awal dari jam yang ditentukan (dibagi).

Sama halnya Angella yang bercita-cita menjadi dokter juga sekaligus menjadi polwan sangat suka datang lebih awal. Malah sekitar satu jam sebelum jadwal yang telah ditentukan untuknya,  paling sering ia begitu dan pulang  diakhir, bahkan melewati jam yang seharusnya.  Motivasinya cukup besar untuk mennjadi nomor satu dari berbagai hal: datang awal, berlatih membaca  maunya paling awal, membaca buku maunya paling banyak, membaca kartu  dengan tulisan yang paling panjang,  mau berusaha menyelesaikan puzzle yang paling rumit  bahkan semua puzzle seperti harus sudah pernah ditaklukannya.   Melegakan melihat perkembangannya.

***

Ada ada hal yang juga tak saya duga, ternyata saat hujan masih turun, si Agung datang diantar Ayah dan Ibunya. “Bu, ini hujan-hujan minta les ni, disuruh ndak usah les ndak mau. Kemarin malah bangun tidur nangis minta berangkat les saja, padahal kan libur” kata Ibunya. Dan Ibunya menjelaskan seraya meminta kepada saya untuk memberikan penegasan agar didengar Agung kalau les lagi hari Senin. “Besok jangan nangis, besok libur lesnya, iya kan Bu?” Kata ibunya. “Iya besok libur, datang lagi hari senin” Jawab saya.

Hmmm… cukup menyenangkan ketika mendapatkan cerita bahwa  anak-anak yang meminta diantar, yang meminta datang ke rumah bahkan ada yang berinisiatif datang sendiri. Bukan sebaliknya, orang tua yang meminta atau menyuruh anak-anak datang belajar.  Bisa jadi mereka senang karena bisa bertemu dengan kawan-kawannya (padahal dipagi hari mereka juga sudah bertemu di sekolah) atau senang bertemu dengan saya (hehe ngarang). Kemungkinan karena diberi kesempatan untuk bermain mengasah otak (tanpa mereka pahami dan sadari) karena menyenangkan bagi mereka. Dan barangkali dan semoga saja mereka merasakan, mendapatkan sesuatu yang bernilai setelah bertemu dan belajar pada jam diluar sekolah. Semoga saja mereka bisa merasakan sebuah perubahan yang lebih baik dari sebelumnya.

Secara keseluruhan cukup melegakan, walaupun masih ada  yang tampak memerlukan  waktu lebih lama untuk bisa sekedar mengingat kembali apa-apa yang telah diberikan sebelumnya. Semoga saja bisa berubah, ada kemajuan dan lalu berhasil memiliki kompetensi sesuai dengan standart sekolah yang menjadi pilihannya.

Anak-anak, cepatlah mampu dan besar, ada harapan dan senyum untuk kalian semua.
***

Yang baru sembuh, dilarang sakit😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: