Oleh: Ningrum | 5 Februari 2013

Rokok, Penting?

Nyaris setiap hari  melihat  ada yang terselip dsiela-sela jari seorang ayah yang berkesempatan mengantarkan anak-anak ke sekolah. Batang yang terselip itu mengeluarkan asap yang dihisap dan lalu habis tanpa bekas dengan seketika, terkecuali  putung dan asap dengan beragam kandungan yang menumpuk di paru-paru.

Miris melihatnya, bagaimana tidak, karena secara tidak langsung sang ayah memberikan contoh yang nyata bagaimana cara memegang rokok dan menikmati aromanya.  Garis besarnya adalah memberikan  contoh bagi anak untuk merokok di setiap kesempatan, bahkan dipagi hari kala anak-anak butuh kesegaran, termasuk udara di sekitarnya.  Saya juga ndak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini.  Yang jelas kasihan anak-anak, alam bawah sadar mereka sudah merekam dengan rapih hal tersebut akibat setiap hari disuguhkan pemandangan sang ayah yang gemar merokok. Lalu, pernah di suatu waktu warung yang dekat dengan sekolah menjual permen dengan kemasan rokok dan ternyata anak-anak yang laki-laki dengan riang membelinya dan menirukan persis seperti pria dewasa kala merokok. Duh….

Rokok seperti berhasil menciptakan sebuah ketergantungan  yang nyaris permanen terhadap setiap  pengonsumsinya.  Sugestinya  banyak disadari penggunanya, tetapi juga sulit untuk ditinggalkan. Racun dan efeknya banyak diketahui, tetapi  hanya seperti angin lalu saja.  Harganya yang  dua kali lilpat BBM bersubsidi juga diperhitungkan, tetapi tak juga  menjadikan rokok pada kebutuhan skunder  atau bahkan tak menjadi kebutuhan sama sekali. Katanya sangat sulit untuk tidak merokok, tidak bisa berkosentrasi, tidak bisa bekerja, tidak bisa menulis, intinya tidak bisa kalau tidak merokok.

Hmm…. barangkali untuk pria dengan penghasilan yang jumlahnya dua kali lipat atau bahkan berlipat lipat dari UMR rokok tidaklah menjadi persoalan. Tetapi bagaimana jika  sang ayah  berpenghasilan berstandart upah minimum regional (UMR) atau malah mungkin juga ada yang dibawah itu. Alangkah sangat disayangkan  karena jumlah uang yang tidak sedikit hanya dipergunakan untuk batangan nikotin itu.  Misalkan saja dalam satu hari menghabiskan rokok satu bungkus seharga 13 ribu dikali 30 hari maka, dalam satu bulan anggaran yang dibutuhkan adalah berjumlah Rp.390.000,-. Wah jumlah yang  cukup lumayan bukan?. Hampir setengah dari pendapatnnya hanya dihabiskan untuk merokok . Sedangkan sisanya digunakan untuk belanja keperluan rumah tangga, termasuk pendidikan anak-anak. Sungguh jumlah yang tidak seimbang bukan?

Seandainya para laki-laki tidak merokok diusia muda, maka tak akan ada alasan ketergantungan di usia dewasanya, bahkan saat ia menjadi seorang ayah. Hingga tak ada lagi asap di rumah, tak ada lagi putung yang dibawa seorang ayah kala mengantarkan atau menjemput anak-anak di sekolah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: