Oleh: Ningrum | 17 Maret 2013

Kalau Cinta Harus Diperjuangkan

ant2Perjalanan cinta bagi setiap orang memang berbeda-beda.  Ada yang perjalananya nyaris tanpa hambatan dan ada yang sebaliknya. Hmmm… dalam cinta indahnya adalah pasti, begitupun dengan sedihnya, juga nyata adanya.

Dan kali ini pun agama kembali lagi menjadi persoalan dan hambatan utama, ya karena berbeda.  Meskipun sang laki-laki yang menjadi pilihan kawan saya sudah menjadi seorang mualaf dan dalam beberapa bulan kedepan siap meminang kawan saya, tapi niatan mereka tampaknya harus tertunda, dan semoga saja hanya tertunda bukan hal lainnya yang saya enggan mengatakannya.

Cukup bisa dipahami dalam kehidupan ini, selain diri kita juga ada keluarga dan tidak dipungkiri restu dari kedua belah pihak (orang tua)  beserta keluarga besar pun seperti menjadi keharusan dalam budaya kita.  Dan saya  pun setuju ketika sebuah pernikahan bukanlah hanya mempersatukan dua anak manusia, tetapi menyatukan keluarga.  Meskipun kita hanya menikah dengan seorang tersebut yang menjadi pendamping, namun  juga tetap harus memiliki sayang terhadap ibunya, ayahnya, adik dan atau kakaknya, lebih baik lagi jika kita memiliki hubungan baik dengan sanak saudaranya.

Namun timbul pertanyaan  bagaimana jika  sang perempuan kurang dikehendaki keluarga  pria dan ketika pria bersilahturahmi ke rumah perempuan beberapa waktu lalu, ia kurang mendapat sambutan dari keluarga perempuan.  Nah sayapun menjadi prihatin dengan kondisi ini.

Keluarga pria yang katolik menghendaki ia kembali ke negaranya dan menikah dengan  perempuan yang sebangsa seagama. Bahkan pihak keluarganya sudah menempuh dan mengupayakan cara halus untuk “mengikat” pria tersebut dengan   berbagai upaya. Pertama, mulai dari ndak boleh balik ke Indonesia  dan jika benar belum wisuda harus membuktikan jika ternyata memang belum wisuda. Kedua,  diutus untuk mengurus  lahan keluarga  yang  harus dibalik nama, membantu kakak iparnya mencari tempat untuk usaha barunya. Ketiga, diberi  rumah. Keempat, diberi kendaraan roda empat.  Dan berbagai upaya itu ndak bisa merubah apa yang sudah menjadi pilihannya, hingga ia memutuskan untuk meniadakan komunikasi untuk beberapa waktu. Kemudian, di pihak keluarga perempuan, kawan saya  juga mendapatkan masalah, ibunya, tepatnya keluarganya mengharapkan orangtua dan kakak kandung pria datang  ke keluarga perempuan.  Padahal  sebelumnya hal ini sudah pernah dikomunikasikan perempuan kepada ibunya bahwa keadaan yang normal;umumnya tidak bisa diberlangsungkan, karena  ibu si pria meminta ia menikah dengan perempuan yang satu bangsa dan satu suku serta sesuai dengan agama asalnya. Fiiuuhh….

Namun apakah kondisi awal yang sedemikian rupa serta merta harus menghentikan cinta diantara mereka seketika ini?.  Karena sebab ketertarikan mereka berdua bukan semata karena menyukai keelokan fisik. Lebih pada kekonsisten/pelaksanaan terhadap nilai-nilai luhur,  kepribadian baik, pola pikir dan hal-hal lainnya yang tidak ada hubungannya dengan fisik.  Cukup luhurlah saya bilang, karena memang kepribadian mereka sama-sama baik dan sesuai dengan porsinya, yang laki-laki benar-benar laki-laki;  berjiwa pemimpin, sangat berprinsip dan seterusnya, sedangkan yang perempuan sangat perempuan (pribadinya anggun dan sangat keibuan).

Ketika saya mendengarkan teman saya mempercayakan ceritanya, saya ndak bisa memberikan banyak komentar,  kecuali menyarankannya untuk membicarakan kembali  persoalan ini ke mamanya yang tampak berubah fikiran. Yang awalnya tidak mempermasalahkan kondisi pria, namun belakangan ini berbeda.  Ndak ada jalan lain selain, mau ndak mau harus bicara;diobrolin lagi dengan mama, maunya seperti apa dan begitupun dengan ia, mengutarakan keinginannya kembali kepada mamanya dan saya berharap akan ada win win solutionnya, ya agar semuanya bisa mendapatkan keinginannya, meskipun tak seutuhnya sesuai atau pas dengan kemauan karena  yang akan dijalankan adalah hasil dari kompromi, sebagai  jalan tengah.

* * *

Jadi memang, kalau cinta ya harus diperjuangkan selama keduannya memang memiliki rasa yang sama dan memiliki niatan baik yang sama.  Meskipun saya ndak tahu bagaimana akhir hubungan mereka berdua dan saya pun ndak mengharapkan hal yang tidak ingin saya tuliskan terjadi. Lalu, karena sebuah upaya yang mendahului hasil adalah keniscayaan, maka tetap harus diperjuangkan dengan energi yang lebih (mengingat  permasalahan yang dihadapi).

Untukmu kawan, semoga saja berujung indah….


Responses

  1. Win – win solution tdk bisa diterapkan dalam semua masalah. Karena sesuatu yang prinsip tdk bisa dikurangi keutuhannya. Beda dg bisnis, masih ada utk bargaining. Ikatannya ada umurnya, beda dg pernikahan.
    Meskipun kedua pribadi sdh cocok dan saling cinta belum tentu harus menikah.
    Pernikahan tdk cukup dg dasar emosi belaka. Karena pernikahan sebenarnya suatu ikatan ‘ abadi ‘ (kematian yang memisahkam), bukan perceraian.

  2. @Masgid. Iya soal prinsip yang itu memang tidak bisa dikompromikan, apalagi menyangkut hal yang saya tulis. Saya membayangkan akan sangat banyak perbedaan yang kapanpun bisa menjadi potensi konflik.Kalaupun bisa meredam, keduanya akan selalu memerangi nuraninya yang sudah memilih sebuah prinsip jauh sebelum mereka bertemu dan ini (melawan nurani) amat sangat melelahkan.

    Namun kawan saya yang bersedia berbagi kisah ini dan kawan prianya sudah memiliki prinsip yang sama. Kawan priannya memilih “berpindah” dengan penuh kesadaran beserta segenap hati dan fikirnya sebelum bertemu dengan kawan saya yang perempuan. Jadi saya rasa tidak masalah karena “jalan” mereka sudah sama. Hanya saja ada kendala pada restu keluarga. Btw, cerita terakhir si orang tua pihak perempuan sudah bersedia memberi restu kepada mereka. Sekarang tinggal keluarga pria, apakah akan memberi restu juga??, Saya belum diberitahu soal itu.

  3. Cinta memang penuh lika-liku….

    • Bagi sebagian orang memang begitu sepertinya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: