Oleh: Ningrum | 20 Juli 2013

Rindu

merinduRindu ditanya sama si X “Buka puasa pakai apa?, lagi baca buku apa?”. Seperti lebih kurang tujuh tahun lalu. Kenapa susah sekali lupa, padahal tidak berakhir indah. Pluk… (seperti ada yang melemparku) menghentikan lamunan sesaatku. Semoga bahagia selalu….

Heeei ternyata ada keinginanku untuk menambahkan tulisan ini. Aku ndak tahu apakah ini cinta atau bukan. Kalau dibilang mendekati gila mungkin juga. Karena jelas-jelas dalam keduluan aku pernah sakit sesakit-sakitanya, tapi masih bisa terkenang juga. Upss… tapi ini begitu saja muncul berulang-ulang, bahkan kali ini rindu, rindu ditanya setiap kali berbuka puasa, rindu diberitahu bahwa ia sedang menunggu adiknya mengaji di masjid dekat rumah juga saat menjenguk adik perempuannya mengikuti perkemahan pramuka, rindu mendengarkan-diceritakan buku-buku yang menarik minatnya, rindu diberitahu bahwa ia sedang memeluk adiknya dan lalu menangis tanpa alasan, rindu dikabari di mana ia sedang berada; seperti kala mengantarkan ibunya ke rumah sakit atau pasar, rindu ditawarkan bicara pada ibu dan ayahnya, rindu diminta jawaban saat adiknya bertanya padanya kala mengerjakan PR sekolah, rindu mengetahui apakah ia masih menyapu halaman rumah setiap ba’da subuh (bahkan suara sapu lidinya, beserta kokok ayam jago masih sangat kuingat). Pun rindu dengan keapaadaannya, keunikannya.

Mungkin ini mendekati gila (berharap si tidak sampai). Argh, bahkan ketika kumencari nama untuk lembaga yang concern di ranah pendidikan, yang jika Tuhan mengizinkan bisa menjadi sesuatu yang besar dan kokoh pun muncul namanya dalam alternatif nama lembaga. Sebegitu tertanamnya namanya dalam ingatanku, bisa karena aku masih sayang, bisa juga karena namanya unik juga simpel. Nama yang maknanya justru kutemukan secara tak sengaja dalam buku karya Ir.Soekarno, Presiden Indonesia pertama yang judulnya Di Bawah Bendera Revolusi, mungkin karena aku begitu menyukai sebuah makna yang salah satu entitasnya juga ada pada namanya.

Hmmm…. aku bisa terisak-isak se isak-isaknya dan jika ditanya kenapanya bisa sebegitunya, sudah bisa kupastikan aku ndak tahu jawaban pastinya. Tapi, sesuatu yang ndak bisa dipungkiri bahwa segenap rasa dan fikir yang ia miliki sungguh mengesankan dalam keduluanku hingga kini. Lalu bagaimana dengan esok? Apakah akan sama? Aku tidak tahu.

Kerena hidup harus bergerak maka, aku pun tetap berjalan dan menerima semuanya, masa laluku, kini dan bahkan untuk masa dimana akan ada berbagai sesuatu yang belum tahu apa juga bagaimana jalan ceritanya nanti (pun jika aku sampai pada masa itu).
Mempercayai bahwa Tuhan ini sudah teramat baik dan memberi hal yang memang terbaik untuk kita masing-masing. Kufikir juga kurasa, baik untuk memelihara hal ini; mempercayakan semuanya kepada Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: